Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Pagi Mengejutkan


__ADS_3

Selamat membaca


***


Mentari pagi masuk melewati celah-celah jendela kamar Shinta. Menelusup dengan lembut. Menghangatkan sisi ruang kamar yang ikut terlelap dalam gelap malam. Kini cahaya terang itu sudah memenuhi seluruh ruang kamar itu, membangunkan tubuh Shinta.


Shinta menggeliat. Menarik tangan keudara. Mengusir rasa kantuknya. Ia menyatukan kakinya, turun dari ranjang. Ia berjalan lunglai menuju kamar mandi.


Setelah melakukan ritual paginya, Shinta nampak segar. Menyisir rambut panjang itu didepan meja riasnya. Menatap pantulan dirinya dicermin.


Apa aku cantik? Tidak, biasa saja. Kenapa bule itu bisa suka padaku? Bisiknya pelan. Kemudian dia tersenyum. Ada yang menggelitiki dirinya. Lucu sekali. Kenapa dia bisa sepercaya diri itu? Bagaimana kalau Joe hanya sandiwara? Glek. Seketika Shinta pias. Tidak! Aku tidak akan memaafkannya bila itu hanya omong kosong belaka.


Shinta selesai menyisir. Ia meraih ponselnya di nakas dekat ranjang. Duduk kembali di kursi riasnya.


Weekend ini dia ingin kerumahnya Anin. Siapa tau anak itu bisa diajak belajar bersama. Bagaimana Mas Revan? Dasar Anin, dia belum mengenalkanku pada suaminya itu.


Shinta menggerutu dalam hati. Sambil melihat layar di ponsel. Ia menekan aplikasi sosial media. Tidak biasa nya dia membuka akun pribadinya. Tidak ada postingan diakun itu. Kecuali foto dirinya dan Anin sebagai foto profil. Sudah lama tak ia urus sosial medianya.


Shinta membuka beranda. Banyak postingan dari teman - teman sekelas atau dari entah siapa. Ada iklan juga. Huh! Shinta mendesah kasar. Memang untuk apa aku buka sosial mediaku? Tidak ada yang menarik sama sekali.


Shinta lalu logout. Kemudian membuka laman pencarian. Ia mengetikkan 'Joe Smith'. Sedetik muncul laman - laman dari berbagai sumber memperlihatkan keterkaitan dengan Joe Smith. Shinta membuka satu persatu. Tidak ada laman yang membahas tentang Joe.

__ADS_1


Shinta semakin penasaran. Ia ketik lagi. Dengan nama Jonathan Smith. Namun yang muncul juga tidak sesuai yang ia harapkan. Kenapa tidak ada tentang Mas Jonathan? Bisiknya heran. Shinta mengingat Joe pernah berkata bahwa kartu kredit nya saja bisa membeli perusahaan penerbitan, berarti dia orang kaya dong ya? Biasanya orang kaya selalu diulas keberhasilan nya. Cara mereka menjalankan bisnis mereka, atau tentang hidup glamor mereka. Ini nihil. Joe Smith tidak ada sama sekali dalam laman manapun.


Shinta mengetikkan sesuatu lagi. Andrew Smith. Sedetik muncul banyak link. Namun juga sama. Tidak ada pembahasan yang Shinta inginkan. Ih... Menyebalkan! Shinta menggerutu lagi. Ia letakkan ponselnya. Kemudian menopang dagu. Berfikir keras.


Ia meraih ponselnya kembali. Mengetikkan sesuatu lagi. Rania Smith. Dan sama. Gusar Shinta jadinya. Kenapa jadi misterius begini sih? Siapa mereka sebenarnya?


Tok tok tok!


Suara pintu diketuk. Shinta beringsut membuka pintu. Ada suara yang memanggil namanya dari balik pintu itu. Suara wanita, namun bukan Mbak Asih.


"Are you awake, sayang?" Suara itu terdengar jelas. Suara yang ia kenal. Rania Smith.


Shinta meraih gagang pintu cepat membukanya. Ia ingin segera melihat sosok yang memanggil nya. Benar! Shinta sungguh terkejut. Didepannya kini berdiri sosok cantik nan menawan khas orang asia meski umur sudah setengah abad, Rania memang tampak awet muda. Seperti melihat Rania pertama kali.


"Ka-kapan Mommy sampai? Shinta tidak tau kalau Mommy akan berkunjung?" Tanya Shinta sedikit terbata.


"Joe tidak memberitahu mu? Anak itu memang nakal. Hukum dia Shinta." Kata Rania sambil tersenyum-senyum.


"Apa yang Mommy katakan? Joe nakal?" Suara khas Joe menghentikan langkah perempuan didepan Joe. Mereka membalikkan tubuh melihat sosok Joe yang mendekat. Joe sudah rapi. Siap berangkat ke kantor. Setelan jas abu-abu dengan dasi bercorak. Lengan tangan sudah memakai jam. Dan rambut itu sudah disisir rapi. Menambah kesan maskulin.


Seketika Shinta takjub melihat penampakan Joe pagi ini. Glek. Susah payah Shinta menelan savilanya. Luar biasa.

__ADS_1


"Sayang, kenapa pakai jas? Weekend mau kerja?"


"Yes, Mom." Cup! Kecupan hangat mendarat di pipi Rania. Shinta hanya dapat melihat perlakuan Joe. Rania membelai Joe lembut. Anak kesayangan.


Joe mendekati Shinta dan kening itu basah karna Joe melakukan hal yang sama pada Shinta. Shinta hanya kaku. Didepan Rania, Joe melakukan itu. Membuat wajah Shinta seketika merona.


"Kalian sweet sekali sih." Rania tersenyum penuh bahagia. Menepukkan tangan. Artinya perasaan Joe tumbuh untuk Shinta.


Ish! Selalu seenaknya. Menyebalkan! Shinta.


"I love you Honey." Bisik Joe ditelinga Shinta. Membuat Shinta semakin bergidik. Deg. Jantung Shinta sudah memompa lebih cepat. Perasaannya sulit dikendalikan.


Ini curang namanya!


***


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like komen tip dan vote ya


Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna


__ADS_2