Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Aku Cinta Padamu


__ADS_3

Selamat membaca


Banyakin vote nya dong biar makin semangat up! 😆


***


Rambut Joe masih basah, ia kibaskan rambutnya kasar. Ia lakukan itu didepan Shinta. Membuat Shinta sulit menelan savilanya. Joe melirik Shinta, tersenyum nakal melihat wajah istrinya yang merona.


"Apa aku sudah keren dimatamu honey?" tanya Joe, senyum belum hilang dari wajahnya. Ia menyilangkan kedua tangannya didada.


"Hmmm." jawab Shinta memalingkan muka. Joe mendekat, duduk ditepi ranjang disebelah Shinta.


"Kenapa kau memerah begitu honey? Apa sesuka itu melihatku?"


"Tidak suka." Shinta melengos bergaya kesal. Padahal wajahnya sudah bak tomat matang. Ia hanya malu dilihat Joe. Jangan sampai ia terlihat sangat menginginkan Joe. Tidak boleh! Dia pasti kege-eran.


"Kau boleh pegang lho." bisik Joe, mendekatkan wajahnya dibelakang telinga Shinta. Meraih tangan Shinta dan menaruhnya di dada bidangnya.


Glek. Oke, aku tidak akan kuat! Tenanglah Shinta, kau pasti bisa melawan dirimu sendiri. Shinta menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan pelan.


"Hmmm. Mas, pakai bajumu, nanti masuk angin." Shinta mendorong tubuh Joe sambil memalingkan muka.


"Kenapa? Kau tidak suka aku begini?" Matanya mengerling menggoda. Joe terus menatap wajah istrinya itu, ingin melihat perubahan di wajah itu.


"Hmmm."


"Ayolah katakan sesuatu. Apa kau suka atau tidak?" Joe tidak sabar. Ah, gila aku ini!


"Ish! Aku ngantuk mau tidur." Shinta menarik selimut. Menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut.


"Ah, kau kenapa begitu sih honey. Come on honey, wake up!" Joe menyibak selimut itu sampai teronggok di lantai.


"Mas! Ish aku mau tidur." Shinta sungguh malu.


Joe mendorong Shinta. Joe mulai membaca mantra dan memulai ritual malamnya. Shinta hanya bisa meringis. Ia pun merasa menginginkan sentuhan lembut itu juga.


Ah, ternyata tubuhku lebih mengerti diriku dari pada mulutku. Aku sudah terbawa dalam cintanya mas Jonathan dan aku sudah tidak bisa menghentikan getar hatiku ini. Aku menginginkannya.


"Aaaa!" Shinta menepuk bahu Joe, keras. Membuat Joe menarik tubuhnya untuk berbaring disamping Shinta.


"Kenapa?" tanya Joe, sedikit kesal ritualnya dihentikan.


"Sakit," bisik Shinta.


"Maaf, aku terlalu bersemangat."

__ADS_1


"Kira-kira dong mas."


Joe melanjutkan aktifitasnya lagi. Malam ini sungguh malam yang paling bahagia untuk Joe. Akhirnya cintanya terbalas, meski Shinta tak mengatakan apapun, tapi Shinta tak menolak yang Joe lakukan padanya. Joe mengecup bibir itu dengan lembut.


"I love you, honey. I love you so much." bisik Joe yang terbaring disamping Shinta.


Shinta melihat Joe bersimbah keringat sedang menutup mata sambil mengatur nafasnya. Shinta meraih selimut. Menutup seluruh tubuhnya sampai leher.


Shinta menoleh tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Joe yang nampak kelelahan. Cup! Kecupan hangat mendarat sempurna di pipi Joe. Joe tersenyum tanpa membuka matanya.


"Again honey," pinta Joe, merengkuh dari belakang.


"Apa?"


"Yang tadi?"


"Apa kata kuncinya?"


"Apa? Aku tidak mengerti." Joe mengernyit bingung.


"Katakan kau cinta padaku." bisik Shinta, ia terkekeh pelan. Wajahnya merona malu.


"Mau berapa kali? Sepuluh? Lima puluh? Seratus?" Joe menantang. Aku akan lakukan kalau hanya itu permintaanmu honey. Mudah bagiku.


"Setiap hari aku ingin dengar "


Shinta terkekeh. Hihi... Imut banget sih mas Jonathan. Ia capek banget ya cepat banget sudah tertidur pulas. Shinta pun menghela nafas lega. Kemudian ia ikut tidur dalam mimpi yang indah.


***


"Laporan apa yang kau bawa Daren?" tanya Joe duduk dengan angkuh di sofa hotel itu. Daren berdiri dihadapannya menunduk hormat akan mengatakan laporannya.


Ia terbangun tengah malam. Meninggalkan Shinta yang sudah pulas tenggelam dalam mimpi. Joe menghubungi Daren. Membangunkan sekretaris itu untuk menemui Joe di kamar hotelnya.


"Ini identitas laki-laki yang menggoda nona didepan toilet tadi tuan. Tapi anak-anak sudah membereskan dia." jelas Daren. Menyerahkan lembar map merah kepada Joe.


"Baguslah. Aku harap tidak ada lagi orang-orang bodoh seperti ini lagi." Joe meneguk susu hangat didepannya. Melirik Daren. Mengambil map merah itu dan membukanya. "Duduklah. Pasti kau lelah juga." lanjutnya.


"Baik tuan." Daren duduk di sofa seperti kata tuannya. Sedangkan Joe sibuk membaca identitas laki-laki yang menggoda Shinta di pesta tadi.


Pelayan hotel masuk dengan membawa susu hangat untuk Daren. Meletakkan dengan sopan, kemudian menghilangkan dibalik pintu kamar hotel.


"Cih! Tidak penting. Bukan siapa-siapa. Beraninya menganggu honeyku. Tidak kau patahkan saja kaki orang ini." Joe melempar lembaran itu ke bawah lantai.


"Dia salah satu murid satu angkatan dengan Rendra, tuan. Dia anak pertama walikota."

__ADS_1


"Jangan sebut namanya! Atau kau ku kirim ke Amerika bersama Andi. Mau anak walikota atau presidenpun kalau berani menyentuh honeyku akan ku buat hidupnya tidak akan tenang!" Joe berteriak, bersiap memukul wajah Daren. Tapi ia hanya mencengkram kerah kemeja Daren, kemudian melempar kasar.


Glek. "Maaf tuan." kata Daren.


"Dimana Justin?"


"Sedang di clubnight tuan."


"Dasar! Tidak pernah berubah sama sekali, tidak di Amerika tidak disini, sama saja. Hubungi dia aku ingin tau laporan kerjanya." Joe ketus.


"Baik tuan."


Daren mengeluarkan ponsel di saku jasnya. Menekan nama Justin untuk memanggil. Lama sambungan itu tak mendapatkan respon. Untuk yang kedua, Justin mengangkat telepon seluler itu.


"Ada apa?" suaranya keras di tengah hingar bingar suara musik.


"Tuan Joe ingin bertemu dengan Anda, serta laporan kerja Anda, Tuan." kata Daren datar.


"Sial! Kenapa malam begini sih? Nggak bisa besok? Aku lagi senang - senang nih." suara Justin keras lagi beradu dengan suara musik.


"Tidak tuan, harus segera, saat ini juga." kata Daren. Dia pikir tuan Joe mau menunggu sampai besok apa?


Joe menatap tajam, meminta ponsel Daren dengan menjentikkan jarinya. Ia mendekatkan ke telinganya.


"Ah sialan!" umpat Justin di seberang sana.


"Apa katamu? Sudah ingin balik ke Amerika ya? Sudah bosan kau di sini?" Joe kesal, mendengar umpatan Justin.


"Eh? Bukan begitu Joe. Ya aku segera kesana. Jangan marah. I will go to your place soon, okay?" Justin memohon. Ia menepuk jidatnya kasar. Kenapa dia mendengar umpatan ku. Matilah aku kalau dia marah. Ia sama mengerikannya dengan pak tuanya itu. Tapi dia kan sepupuku, aku rasa ia takkan membunuhku. Hehe


"Aku share loc tempatnya." tut.


Raut wajah Joe nampak masih kesal. Ia memberikan ponsel pada Daren.


"Pergilah. Ini sudah malam, sebaiknya kau istirahat. Malam ini sudah cukup sampai disini." kata Joe sambil mengibaskan tangannya.


"Baik Tuan. Saya permisi." Daren menunduk. Tadi juga aku mau tidur, tapi pesan singkat dari bosku ini yang membuatku gagal terbawa mimpi. Huuuuh inilah kalau bekerja dengan orang seperti tuan Joe. Tak ada kata nanti, batin Daren. Kemudian ia melangkah keluar kamar hotel itu, lega sudah tidak berada dalam satu ruang dengan Joe.


***


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like komen tip dan vote ya


Akhirnya season pertama selesai, happy ending juga. hehe... semoga ada waktu untuk lanjut ke season dua. Tunggu terus ya man teman...

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna


__ADS_2