
Selamat membaca
***
Seperti yang Rendra duga. Bertemu dengan kawan-kawan lama itu seperti kembali di masa yang pernah ia lalui di saat masih memakai seragam putih abu-abu. Nostalgia yang sangat ia rindukan juga menyakitkan. Aneh memang. Rendra tidak mau mengingatnya. Tapi walaupun ia sudah berusaha bayangan masa lalu masih tetap ia rasakan. Sakit.
Namun yang lebih penting sekarang, ia bertemu dengan teman seangkatannya yang dulu sangat akrab dengan cadaan dirinya yang konyol. Ah, bila diingat ia jadi tertawa sendiri.
Sekarang semuanya sudah berubah. Sudah punya profesinya masing-masing. Tentu saja, ini sudah sepuluh tahun berlalu saat ia lulus sekolah.
Apalagi si kupret Kenzo. Ia sedang menggandeng seseorang perempuan cantik. Entah siapa Rendra tidak tau. Reyhan hanya menggeleng saat ditanya soal perempuan disamping Kenzo.
Mereka hanya bergumam, kita kalah start bro. Dan tersenyum menertawakan diri mereka sendiri.
Hanya Rahman yang terlihat sibuk berbincang ini itu dengan panitia dan guru-guru yang ikut membantu merencanakan acara ini.
"Dia nggak tidur ya? Wajahnya kayak zombie pas gue datang. Haha..." celetuk Reyhan sambil memandang ngenes temannya yang bernama Rahman itu.
"Pasti kurang tidur." sahut Rendra.
"Kasih tuh kenalan ahli gizi Lo di rumah sakit tempat lo kerja Ren. Biar dia kelihatan fresh dan nggak terlihat lebih tua dari kita. Haha..." kata Reyhan menunjuk wajah Rahman yang berkali-kali mengerutkan alis.
Begitu obrolan antara Reyhan dan Rendra. Semua menertawakan Rahman yang sudah berkumis tipis itu. Terlihat sudah dewasa.
"Hai guys." sapa seseorang. Suaranya halus lembut. Sangat familiar bagi mereka. Semua menoleh kearah suara itu. Ternyata Nayla.
"Wih, Bu dokter. Datang sama siapa?" tanya Reyhan pada Nayla.
Deg. Rendra tertegun menatap Nayla yang kini jauh berubah. Sudah lima tahun ia tidak bertemu dengan Nayla setelah lulus kuliah dan Rendra kembali ke kota S ini. Nayla memilih menetap di ibukota dan mendapat pekerjaan disana. Ini kali pertama Rendra bertemu Nayla yang kini sudah bermetamorfosa menjadi gadis anggun yang elegan. Apalagi sekarang title-nya yang sudah menjadi dokter.
__ADS_1
Rendra mengalihkan pandangannya pada seseorang disamping Nayla. Seorang laki-laki yang nampak seumuran.
"Dia anaknya pak walikota. Namanya Niko, Nik, kenalin ini teman-temanku." kata Nayla memperkenalkan Niko. Ia tak menjelaskan hubungan apa yang mereka jalin. Nayla hanya ingin mengetahui reaksi dari seseorang. Ya, Rendra.
Nayla melirik dengan sudut matanya, bagaimana reaksi mimik wajah Rendra. Apakah terkejut dengan dirinya sekarang atau masih sama. Menganggap dirinya hanya teman biasa. Nayla berharap dirinya diperhitungkan untuk bisa jadi sesuatu yang berbeda. Reuni ini begitu ditunggu oleh Nayla untuk bisa bertemu dengan Rendra. Karna inilah momen dimana Rendra harus melihatnya dengan cara yang berbeda.
"Hai semua. Santai aja sama gue, kita seumuran kok. Haha." Niko tampak canggung sekali. Ya, bagaimana pun juga mereka tidak satu sekolah dengan dirinya. Aneh saja kalau Niko ada diantara mereka. Apalagi Nayla disampingnya. Kayak pasangankan jadinya, batin Niko.
"Eh, semuanya apa kabar nih?" Nayla ingin mencairkan suasana. Haduh, canggung banget deh!
"Baik, Lo gimana?" hanya Reyhan yang menjawab. Tampak Rendra diam, menikmati minuman ditangannya. Terlihat canggung dengan kedatangan Nayla. Reyhan yang sudah tau hubungan mereka dulu jadi melirik satu sama lain. Gengsi atau apa ini?
Reyhan menyikut lengan Rendra. Paham nggak sih? Itu Nayla kode-kode pengen nyapa takut gitu.
"Baik juga. Gimana kerja di rumah sakit disini Ren?" tanya Nayla, agak ragu.
"Ya, biasa aja. Kamu kerja dimana sekarang?" tanya Rendra sekenanya. Alhasil, bukannya semakin mencair malah semakin canggung. Reyhan hanya tepok jidat karna percakapan ini hanya bualan semata dan terdengar aneh.
Yang bikin makin canggung adalah, Nayla sekampus dengan Rendra. Mengikuti Rendra yang ingin jadi dokter. Nayla tidak bisa memungkiri kenyataan itu.
"Aku di rumah sakit xx di ibukota."
"Oh, selamat deh." Rendra melipir bermaksud pamit. Tidak enak juga terlihat akrab dengan Nayla. Rendra takut akan jadi masalah.
Nayla sudah ada yang punya, pikir Rendra.
***
Acara sudah setengah mulai. Mereka tampak bersemangat mengobrol kesana kemari. Menceritakan masa lalu mereka yang gembira di SMA yang sama. Entah sampai jam berapa acara ini akan berlangsung.
__ADS_1
Wajah mereka tampka ceria bisa bertemu kembali seperti ini. Kapan lagi bisa bertemu teman lama?
Tapi, wajah Rendra tampak tak suram. Padahal dari rumah tadi ia sudah sangat antusias. Disini, ia malah memutar-mutar gelas kaca dan memandangi minuman itu tanpa henti. Reyhan dan Kenzo hanya menaikkan bahu tanpa mengerti sikap Rendra saat ini.
"Gue tau lo kecewa, tapi nggak gitu juga kali baper amat. Selagi janur kuning...." Reyhan
"Bisa diem nggak?" Rendra melotot.
"Ya elah. Gitu banget sih Ren!"
"Bukannya Lo udah resmi tunangan sama Risya?" Kenzo
"Nah lho! Gimana ceritanya? Lo bisa gitu diem-diem nggak cerita sama kita?" Reyhan mulai tertarik sekaligus heran.
"Orang tua gue yang atur."
"Lo nggak suka sama Risya? Kenapa?"
"...."
"Ah, nih anak kenapa diem bae sih? Pengen gue pites aja!"
"Ren, dari dulu kenapa nggak move on sih? Heran gue. Udah lama juga masih ingat aja."
"Iya, kayak cewek cuma tuh mantan Lo doang. Banyak juga yang lebih baik. Ah, tau lo aneh!"
Entah siapa disini yang aneh. Aku, perasaanku, atau takdirku. Aku sudah melewati sepuluh tahun untuk melupakannya. Tapi yang terjadi hanya trauma dan tak ingin menjalin hubungan. Satu-satunya harapan hanya Nayla yang ingin aku perjuangkan. Sekarang sudah terlambat.
Tidak ada perempuan yang mau menunggu cinta seorang pecundang sepertiku. Untuk apa menunggu kalau akulah yang menyakiti dan menghindari mereka. Aku sungguh tidak beruntung. Atau aku yang terlalu membesarkan masalah masa laluku sendiri. Dan sekarang sakit sendiri.
__ADS_1
***