
Selamat membaca
***
Shinta melihat pekerjaan yang menumpuk itu terlihat tidak selesai-selesai. Pasti mas Jonathan harus kerja lembur sampai malam, batin Shinta.
Joe menyandarkan punggungnya di sofa. Joe sudah lelah hari ini. Seharian harus mengecek laporan keuangan dari beberapa tempat usaha yang ia kelola. Belum lagi satu perusahaan yang baru ia kuasai sahamnya. Untungnya perusahaan itu ia kuasakan pada Justin. Dia hanya perlu mengecek tiap bulan saja.
Joe menghela nafas kasar, Ia memandang istri disampingnya. Joe menyentuh kening Shinta. Mengelus lembut. Kemudian mengecup kening itu.
"Apa sakit honey?" tanya Joe merasa iba. Ia memeluk Shinta dan menyenderkan kepalanya di bahu Shinta.
"Eh, tidak apa-apa mas." kata Shinta, sedikit terkejut merasakan sentuhan Joe lembut.
"Jangan katakan tidak apa-apa, kita ke dokter saja ya untuk CT scan?" gumam - gumam Joe.
"Apa? Tidak perlu mas. Jangan katakan aneh - aneh."
"Baiklah. Kau lelah? Kau bisa masuk kesana. Kau bisa istirahat dulu. Aku akan selesaikan pekerjaanku dengan cepat." Joe berkata sambil menunjukkan ruang disebelah kamar mandi.
Pekerjaan Joe banyak sekali. Shinta berfikir lebih baik dia tidak menganggu. Shinta mengambil tas sekolahnya. Melangkah menuju pintu yang ditunjuk Joe tadi.
Ia membuka pintu itu pelan. Ada kamar yang tidak begitu luas tapi cukup untuk beristirahat. Apa dia tidur disini kalau sedang lelah bekerja? gumam Shinta. Ia menutup pintu itu, kemudian duduk di pinggir ranjang. Mengeluarkan fotokopian soal - soal untuk ia pelajari.
"Lebih baik aku belajar saja." katanya mengulas senyum.
Sedangkan Joe masih berkutat dengan pekerjaannya. Daren di sampingnya ikut mengecek berkas - bekas itu juga.
"Daren, apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?" tanya Joe tanpa memindahkan pandangan matanya.
"Sudah tuan. Ternyata disekolah sudah heboh bahwa nona adalah simpanan tuan."
"Apa?! Beraninya mengatakan hal buruk tentang honeyku. Ada lagi?" Joe meninggi, ia sungguh tidak terima.
"Ada teman satu angkatan dengan nona yang menyebarkan rumor itu tuan. Namanya Santi. Bahkan nona sempat masuk ruang BP karena pertengkarannya dengan Santi ini."
__ADS_1
"Bereskan semua. Bungkam semua mulut mereka." Joe tampak geram.
"Baik tuan." Daren bergidik. Tak mampu mengatakan hal lain selain baik. Ia bekerja dengan tuan Joe karena tergiur dengan gaji besar. Ternyata pekerjaan yang ia harus lakukan juga tidak main-main. Ia harus memutar otak lebih keras untuk memenuhi semua perintah tuannya. Meski itu hal yang tidak masuk akal sekalipun.
"Bawakan makanan dan baju ganti untuk Honeyku." kata Joe. Masih sibuk dengan laptop di depannya.
Daren minta diri. Ia keluar ruang direktur itu untuk menjalankan perintah Tuannya.
***
Makan siang sudah siap dimeja. Joe duduk memangku laptop di sofa itu. Menanti Shinta berganti pakaian di kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Shinta keluar dari kamar mandi. Shinta duduk di sofa. Merapikan baju dan rambutnya. Kemudian melihat Joe yang masih sibuk menatap laptopnya.
"Mas Jonathan tidak makan?" tanya Shinta, melihat Joe yang fokus bekerja.
"Iya, sebentar honey." jawab Joe tanpa menoleh sedikitpun.
Shinta mengangkat bahu. Terserahlah. Yang penting ia harus makan karna roti isi yang diberikan Anin sudah tidak bisa mengganjal perutnya lagi.
"Kalau kau segitu perhatian padaku, suapi aku saja honey." kata Joe dengan senyum liciknya.
"Ish! Memangnya tidak bisa berhenti sebentar dan makan dulu."
"Tidak bisa honey. Kau makan saja dulu."
Shinta menghela nafas prihatin. Dia bekerja keras sekali. Ada semburat kebanggan dihatinya, bahwa seorang Joe yang ia kenal pemarah bisa setenang itu bekerja. Diam dan fokus, tampak mengagumkan melihatnya begitu. Jarang sekali melihat pemandangan ini. Jadi tidak tega mau marah - marah padanya.
Awalnya Shinta masih kesal gara - gara Joe yang melakukan 'itu' tanpa minta ijin dulu. Padahal Shinta sudah bilang untuk menahan dulu sebelum perasaannya sepenuhnya untuk Joe.
Kenapa aku jadi terpesona dengan mas Jonathan? Tidak! Aku harus pastikan dulu perasaannya padaku, baru membalas dengan benar. Tapi aku sudah pernah melakukan 'itu' dengannya. Apa tidak apa-apa? Kalau aku sampai hamil bagaimana? Oh Tuhan, jangan dulu. Shinta membatin. Pandangannya tak lepas dari sosok Joe dihadapannya yang memangku laptopnya.
Joe melirik Shinta, ia tau sedari tadi istrinya itu memperhatikannya.
"Baiklah honeyku. Aku akan makan sekarang. Jangan memandangiku seperti itu. Aku jadi tidak konsen menyelesaikan pekerjaanku." Joe menaruh laptopnya, kemudian beranjak duduk disamping Shinta.
__ADS_1
"Eh? Begitu dong makan. Memangnya harus kerja terus sampai melupakan makan. Katanya hidup sehat."
"Apa ini istri yang sedang mengomeli suaminya?"
"Eh? Terserah apa katamu lah mas." Shinta memalingkan muka. Ia sungguh malu mendengar itu. Apa dia seperti istri yang sesungguhnya? Shinta hanya mengulas see senyum malu-malu.
"Suapi dong." Joe mendekatkan wajahnya.
"Ish! Tidak bisa makan sendiri? Situ punya tangan sendiri kan?" ketus Shinta.
"Lebih enak kalau dari tangan orang lain honey. Lebih nikmat." Joe meraih tangan Shinta yang sedang menyendok makanannya. Melahap makanan itu. Matanya mengerling menggoda. Seketika Shinta memandang Joe dengan jarak dekat sekali.
Glek. Rasanya susah sekali menelan savilanya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Oh my... Ia sangat tampan dari dekat begini.
"Honey, suapi lagi." bisik Joe membuat Shinta buru-buru menunduk dan menyendok makannya kembali. Mendekatkan ke bibir Joe.
"Kita seperti berciuman ya? Sendok ini kan bekasmu tadi. Oh ya aku lupa, kita sudah sering melakukannya kan?"
"Stop! Makan sendiri sana." Shinta meletakkan sendok itu. Kemudian meraih gelas jus buah. Menyeruput dengan gusar-gusar di dada. Menyebalkan!
Joe mendekat. Meraih pinggang Shinta. Jemarinya menyentuh dagu Shinta agar menatapnya. Secepat kilat, bibir itu sudah beradu. Saling menyatu. Merasai setiap bagiannya.
"Rasa strawberry, manis." bisik Joe.
Shinta mengusap kasar. Wajahnya memerah malu. Ia memalingkan wajahnya, tak ingin Joe melihatnya. Padahal tadi aku sempat kagum padanya, tapi ini yang ia lakukan padaku. Grrr.
***
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna
__ADS_1