
Selamat membaca
***
"Wah, siapa yang ada disini? Adik kelas ku yang paling lugu nan polos." suara lantang itu keluar dari bibir sesorang laki-laki yang tak sengaja berpapasan dengan Shinta didepan toilet menuju ruang pesta. Suaranya terdengar merendahkan. Shinta tidak mengindahkan suara itu. Ia berfikir mungkin bukan dirinya yang ia maksud.
"Shinta," panggilnya. Menghentikan langkah Shinta. Shinta pun menoleh. Laki-laki itu mendekat. Shinta mengernyit bingung, ia sama sekali tidak mengenal laki-laki ini.
"Kau memanggilku?" tanya Shinta.
"Ya, siapa lagi disini yang bernama Shinta?"
"Ada apa? Apa aku mengenalmu?"
"Mungkin tidak, tapi aku suka perempuan sok jual mahal begini."
"Apa maksudmu?!" suara Shinta meninggi.
"Haha... Aku tau kamu tuh simpanan bule itu kan? Ya Tuhan, ternyata produk lokal bukan seleramu ya? Kau belum tau punyaku, pasti kau ingin nambah terus."
"Apa kau gila?! Jaga omonganku ya!" Shinta berteriak marah.
"Apa? Disini tidak ada orang. Ayo lakukan denganku. Aku bisa sewa kamar hotel malam ini." katanya santai, menyulut amarah Shinta.
Shinta menaikkan tangannya, ingin memberi tamparan pada pipi laki-laki didepannya ini. Namun tangannya hanya melayang diudara, tak jadi memukul pipi laki-laki itu. Ada seorang dari belakang yang menghentikan tangan Shinta.
"Jangan kotori tangan Anda nona, biar saya saja yang bicara dengan laki-laki ini. Ini cardlock key untuk nona. Silahkan tunggu tuan disana." Daren menunduk hormat. Menginginkan Shinta segera meninggalkan tempat ini.
"Hai, kau jangan kurang ajar! Aku belum bersenang-senang dengan Shinta."
__ADS_1
"Cepatlah nona."
Shinta pun beranjak, melangkahkan kaki menuju kamar yang tertera di cardlock key tersebut.
"Silahkan tuan pergi." Daren berkata datar pada laki-laki itu tanpa melihat wajahnya sedikitpun. Ia malah merapikan jasnya.
"Kau membiarkan dia pergi. Aku ingin bersamanya malam ini. Dasar bodoh! Kita bisa senang-senang bersama."
Plak! Bug!
"Jangan bicara aneh-aneh lagi! Atau aku akan merobek mulutmu itu!" kata Daren kesal. Membuat kerjaannya semakin bertambah saja.
"Kau mengancam ku? Ayo bertarung. Sepertinya kau suka sekali menyelesaikan masalah dengan pertarungan." laki-laki itu mengusap darah yang menetes di ujung bibirnya dengan kasar.
"Baiklah kalau itu maumu." Daren berbalik. Memanggil orang-orang dibelakangnya.
Satu, dua, tiga, empat... hah? Berapa orang? Pakai jaket bertuliskan SJ Group, apa itu SJ Group? bisik laki-laki itu terkejut. Wajahnya pias. Kakinya bergetar melihat badan kekar berotot itu. Laki-laki itu ingin kabur.
"Beri ia pelajaran." kata Daren. Kemudian orang-orang itu menjalankan pekerjaannya dengan rapi.
Daren melangkahkan kaki menuju tempat pesta. Ia mendekati Joe dengan sopan, membisikkan sesuatu.
"Sudah siap tuan,"
Joe mengangguk pelan. Ia tersenyum pada orang-orang didepannya. Ia minta undur diri dengan alasan masih banyak urusan. Merekapun mengerti.
Joe dan Daren keluar dari ruang pesta menuju puncak hotel ini. Bagian President's suite room.
Joe membuka pintu, Daren minta diri karna sudah mengantar tuannya sampai tujuan. Ia bisa bernafas lega. Ia pun juga ingin istirahat malam ini.
__ADS_1
"Honey," panggil Joe mesra.
Shinta sedang mematut dirinya didepan cermin. Menoleh karna mendengar suara Joe memanggil.
Shinta tersenyum manis. Ia baru saja membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia sedang memakai baju tidur berbahan satin lembut warna peach dengan bagian dada yang sedikit terbuka. Shinta meletakkan sisir itu di meja rias.
Ia berdiri mendekati Joe. Masih dengan senyum malu-malu ia menunduk. Menyisipkan anak rambutnya di belakang telinga.
"You are so beautiful tonight. I love you." bisik Joe. Ia memegang bahu Shinta, memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Shinta yang merona.
"Mas Jonathan yang sudah menyiapkan kamar ini?" tanya Shinta dengan pelan. Ia terharu.
"Bukan aku, tapi Darren, tapi tentu saja aku yang menyuruhnya. Kau suka? Kita akan tidur malam ini disini."
"Nanti kalau aku telat ke sekolah bagaimana mas?"
"Tenanglah. Akan aku urus." Joe mengecup puncak Shinta, "aku mandi dulu ya." bisiknya mesra.
Shinta tau maksud suaminya ini. Ia pun bersiap berselonjor kaki menunggunya. Ia melihat buket bunga mawar besar dengan tulisan "I love you. You're my most beautiful wife. Don't be angry anymore. Because you're the only one."
Shinta tersenyum. Membaca dalam hatinya kata-kata itu. Ish! Kan yang buat pak Daren! Bukan dia! Yang menyiapkan taburan kelopak bunga di ranjang ini juga pak Daren. Wangi-wangian dikamar hotel ini juga pak Daren. Kenapa harus dia yang dapat pujian? Huh! Dia itu memang sukanya menyusahkan orang.
***
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna