Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Pertemuan


__ADS_3

Selamat membaca


***


Rumah sakit ini sangat luas. Gedungnya bertingkat dan halamannya pun luas. Ditaman rumah sakit itu banyak suster dan pasien - pasien yang berlalu lalang sedang menikmati udara pagi ini.


Merasakan hangatnya merasuki sekujur tubuh. Rendra menghela nafas berat. Dokter Andri, dokter senior di rumah sakit itu baru saja mematikan sambungan telfonnya. Memberi ia tugas. Seperti mandat yang berat untuk ia lakukan. Rendra beberapa kali menatap ruangan dokter Andri. Ragu untuk menggantikannya.


Lebih baik aku di relokasi kan saja deh di daerah terpencil dari pada harus dapat tugas ini. batinnya lesu.


Tugasnya hari ini adalah menemani istri Joe Smith untuk melakukan pemeriksaan bulanan kehamilan. Saat mendengar kabar itu, ada gejolak dihatinya. Sakit dan perih. Luka yang lama seakan dirobek untuk kesekian kalinya. Apalagi, ia akan melihat pemandangan yang menyakiti hatinya.


Sepasang suami istri yang akan periksa kehamilan? Bukankah itu sangat membahagiakan? Melihat dua orang yang menyatu karna cinta dan akan mendapat kebahagiaan datangnya buah hati.


Huft. Hela Rendra untuk kesekian kalinya. Ia menunduk kelu. Ia langkahkan kakinya masuk ke ruangan dokter Andri. Kalau bukan karna dokter Andri, ia juga tak ingin bertemu sepasang pasutri ini. Bertemu Joe waktu itu saja sudah menyesakkan batinnya. Ingat akan ancaman sekretarisnya untuk menjauh. Padahal mereka sudah tau bahwa ini bukan salahnya. Terus kenapa harus dia yang menjauh? Ini hidupnya. Terserah ia akan tentukan. Tapi, keadaan ini selalu mampu meruntuhkan kokohnya hatinya yang keras. Betapa ia berusaha, ia tak mampu melupakan sakitnya cinta pertamanya.


Rendra yang dulu sudah mati, gumamnya menguatkan hati agar mampu melihat wajah Shinta untuk pertama setelah sekian tahun lalu.


Rendra bersiap. Tadi dokter Andri sudah mengatakan bahwa pasutri itu sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Semoga prosesnya cepat. Semoga aku bisa menahan diriku, bisik Rendra.


"Permisi dokter Rendra, tuan Joe berserta istri sudah di depan."


"Ya," Rendra bersiap. Melangkah keluar. Hari ini ia ditugaskan dokter Andri untuk menemani pasutri ini.


"Selamat pagi tuan Joe." sapa Rendra saat keluar dari ruang kerja. Melangkah mendekati pasutri itu dengan batin terkoyak meski senyumnya ia terbitkan dengan hangat.

__ADS_1


"Ya pagi." Joe berkata acuh. Ia hanya sibuk memperhatikan perubahan mimik wajah istrinya.


Glek. Disampingnya Joe, Shinta hanya bisa menelan ludah. Ia membulatkan mata lebar-lebar. Seakan ingin melepas bola matanya.


"Mas Rendra?" lirih suara Shinta lolos dari bibirnya yang bergetar. Namun terdengar jelas di telinga Joe. Bagai sengatan listrik yang tinggi, Joe terbelalak. Shinta masih memanggil Rendra dengan sebutan mas. Bagaimanapun ia tidak menerima itu. Hatinya cemburu.


Sebenarnya sudah dari tadi ia menahan untuk tidak mengumpati dokter Andri. Tidak ada dokter lain apa hingga harus Rendra yang menemaninya. Joe bersikeras menyuruh Daren untuk tidak menerima Rendra menemani mereka. Namun, dokter Andri sudah terlanjur mengabari Rendra. Jadi, apa boleh buat Rendra sudah berada dihadapannya sekarang.


Shinta tertegun. Kemudian kilas balik memori terulang-ulang di pikirannya. Memutari isi otaknya. Menahan otaknya untuk berfikir jernih. Tak terasa air mata bening jatuh di pipi Shinta. Kepalanya pusing. Ia ambruk seketika.


***


Shinta sudah berbaring di ranjang rumah sakit di ruangan dokter Maya.


Pemeriksaan kehamilannya selesai dengan cepat. Dokter Maya yang menangani Shinta sigap memeriksa tubuh Shinta dan kandungannya.


Dokter Maya juga menyarankan untuk mengonsumsi banyak sayur dan buah. Tak lupa susu formula.


Shinta masih berbaring sambil mendengarkan arahan dari dokter Maya. Disampingnya Joe juga bersedekap tangan sambil mengangguk mengerti.


"Terima kasih dokter." kata Joe. Menyalami dokter Maya. Suara Joe terdengar datar saja.


Shinta takut melihat wajah Joe. Apalagi Rendra ada dalam ruangan itu.


Mas Joe, bagaimana perasaanmu? Aku takut menanyakan itu padamu. Maafkan aku.


"Tidak apa-apa. Jangan khawatir." kata Joe mengelus puncak Shinta lembut. Shinta hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kau mau minum?" tanya Joe lagi. Seakan bibir itu terkunci, Shinta hanya menggeleng.


Ia sungguh ketakutan. Joe tidak memanggilnya seperti biasa. Nadanya datar saja. Mana berani ia mengucapkan sepatah kata saja.


Jangan berprasangka buruk padaku mas. batin Shinta.


Setelah dirasa Shinta sudah merasa cukup baik, Joe memutuskan untuk membawa Shinta pulang.


Joe merangkul bahu Shinta erat. Memapah Shinta keluar dari ruangan dokter Maya.


Dokter Maya meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh Rendra yang menunggu pemeriksaan itu sampai selesai.


Dalam hati, entah sudah beberapa kali kaca itu remuk dan tidak bisa ia satukan. Ditambah netranya kini disuguhkan pemandangan yang amat mengiris. Luka ini takkan semudah itu sembuh. Melapangkan dadapun tak sanggup ia lakukan. Oh cinta pertama memang sulit dilupakan.


"Terima kasih sudah mendampingi tuan Joe dan nona Shinta dokter Rendra." kata Daren saat mereka sudah hendak pergi.


Joe bahkan tidak menoleh sedikitpun untuk melihat Rendra. Bagaimana ekspresi wajah Rendra saat ini. Pingsannya Shinta saja sudah menjawab semua. Bahwa di dalam hati istrinya masih ada simpanan rasa dalam untuk Rendra. Joe terus berjalan meninggalkan Rendra dan Daren.


"Sama-sama pak." Rendra tersenyum kecut.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2