
Selamat membaca^_^
***
Shinta masuk kekamar setelah Andi menurunkannya didepan rumah. Dia menutup pintu kamar rapat. Kemudian merosot jatuh dilantai. Kakinya lunglai seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Bodoh! Dia yang bilang tidak boleh jatuh cinta. Tapi dia malah mencuri ciuman pertamaku. Joe br*ngsek!
Perasaannya mulai tak karuan. Sungguh memalukan! Ciuman pertama Shinta harus diambil oleh Joe. Tapi Shinta juga tak memungkiri kalau dirinya juga menikmati ciuman itu. Shinta semakin dilema. Bimbang dengan hatinya sendiri. Padahal dia tau pasti Joe tak ada perasaan apa - apa padanya. Jelas Joe sudah punya kekasih. Setiap hari bahkan selalu marah-marah didepannya.
Shinta mendekap erat kakinya. Merasakan kebodohan yang ia sesali. Air matanya luluh membasahi pipinya.
Teringat Rendra semakin membuatnya sedih. Merasa dia sudah menghianati cinta kekasihnya itu.
"Maaf." bisik Shinta.
Shinta terus bergumam maaf. Hingga air mata itu kering dipipinya. Kata maaf pun tak bisa melegakan hati Shinta. Shinta merasa tidak pantas menjadi kekasih Rendra.
***
Joe masih diruang kerja dirumah. Andi juga masih disana. Dia sangat kacau mengingat kekhilafannya mencium Shinta.
"Andi, apa kau tau tentang kekasihnya Shinta?" tanya Joe setelah emosinya mulai turun.
"Rendra Mahardika. Dia kakak kelas nona muda. Orang tuanya dosen di salah satu UNIV negri di kota S ini." jelas Andi.
__ADS_1
"Kau juga menguntitnya? Dasar penguntit!" Joe mencibir.
"Saya hanya memastikan semua berjalan sesuai keinginan Tuan besar."
"Apa kau menyuruh Shinta menjauhinya?" tanya Joe menyelidik.
Andi mengangguk. Kemudian Andi menyerahkan beberapa kertas. Tentang informasi mengenai Rendra. Sungguh menakjubkan. Sampai mendetail sekali.
Joe membaca dengan seksama. Sempat Joe geleng - geleng kepala.
"Calon dokter ya, hebat! Cita - cita yang mulia sekali." kata Joe. "Jangan kau membatasi Shinta, biarkan dia sesekali berkencan dengan kekasihnya."
"Baik Tuan." Andi menundukkan kepala hormat.
***
Shinta duduk sengaja memberi jarak satu kursi kosong. Dia tidak mau berdekatan dengan Joe.
Joe tampak biasa. Menyendok makanannya dengan lahapnya. Tak mengindahkan wajah Shinta yang begitu kesal memandangnya. Shinta melengos. Tak ingin melihat wajah Joe.
Setelah sekian menit, mereka sudah menyelesaikan makanan mereka. Andi mengakhiri makannya lebih dulu. Kemudian masuk ke kamar tamu.
Shinta meneguk susu hangatnya perlahan. Memberikan waktu untuk Joe agar lebih dulu beranjak dari duduknya.
Shinta sudah selesai. Tapi Joe masih betah duduk di kursinya. Shintapun jadi kesal sendiri. Akhirnya Shintapun berniat beranjak pergi dulu.
__ADS_1
"Hei, tunggu." cegat Joe. Masih dalam posisi duduknya. Shinta menoleh. Menunggu yang akan dikatakan Joe.
Namun sekian detik laki - laki itu hanya diam. Shintapun makin kesal. Ia lipat tangannya didepan dada. Menghentakkan kaki geram.
"Apa?" tanya Shinta. Kedua alisnya sudah menyatu tanda ia sungguh kesal dengan laki - laki didepannya ini.
" Yang tadi siang itu bukan apa - apa. Jangan masukan dalam hati." Joe berkata dengan gugupnya. Dia ingin mengelak dari kesalahan.
"Kau selalu seenaknya. Ck!" Shinta kesal.
"Terserah apa katamu!"
Shinta menghentakkan kaki. Kemudian dia berbalik masuk ke kamarnya. Joe masih duduk di meja makan. Menunduk malu.
Sial! Aku bahkan tak bisa melihat dia dengan benar lagi.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^
__ADS_1