Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Janji Joe


__ADS_3

Selamat membaca


***


"Aku ingin kamu tau keinginanku. Aku ingin menentukan masa depanku sendiri. Aku ingin meneruskan pendidikan ku. Apa kau tau? Kenapa kau tak pernah mengerti dan menanyakan itu. Kau bertindak sesukamu. Hiks." Shinta bergetar. Tangisnya tumpah. Meleleh di pipinya. Hidungnya memerah menahan tangis.


"Maafkan aku. Aku tidak berfikir sampai disitu Honey. Maaf." Joe ikut sedih melihat Shinta yang menangis.


Joe mencoba meraih tubuh itu dalam dekapannya. Menyeka air mata yang keluar dari mata Shinta.


"Tenanglah. Kau masih bisa meneruskan pendidikanmu. Kau juga masih bisa menjalani hidupmu seperti biasa." kata Joe lembut. Namun Shinta mengibaskan bahunya, tak ingin Joe menyentuhnya.


"Bagaimana kalau aku hamil?" tanya Shinta disela tangisnya.


"Kau bisa ambil cuti. Kau juga bisa lanjutkan kuliahmu setelah itu."


"Bagaimana denganmu? Apa akan selalu disamping ku? Menemaniku?"


"Tentu saja honey. Aku mencintaimu, tentu saja aku akan disini menemanimu." Joe mendekat lagi. Meraih tubuh Shinta. Memeluknya erat. Menenangkan istrinya yang menangis tersedu-sedu.


"Kau tidak akan kembali ke Amerika?"


"Tidak."


Shinta membalas pelukan Joe erat. Joe mengecup puncak Shinta lembut, merengkuh erat perempuan yang ia cintai dalam pelukannya.


"I love you so much." bisiknya.


Joe menutup mata. Memikirkan Shinta yang begitu terpuruk. Ia tidak tau kalau Shinta menyimpan gundahnya sendiri dan ia merasa bodoh tidak pernah menanyakan apapun tentang keinginan Shinta yang sebenarnya.


Harusnya aku paham tentang dirimu yang masih remaja. Ingin bebas memilih masa depan. Tapi ternyata kau terjebak dalam pernikahan konyol ini, dan bodohnya lagi aku mencintaimu. Laki - laki yang bodoh yang tak mengerti dirimu yang punya segudang cita-cita. Aku akan tetap dukung apapun honey, kau berhak menentukan cita-citamu. Aku akan berdiri di belakangmu, memberimu semangat dan apapun yang kau butuhkan. Aku janji. Aku akan memperlakukanmu lebih baik setelah ini, batin Joe sedih. Ia hampir meneteskan air matanya juga. Namun ia tahan, ia harus terlihat keren didepan Shinta. Tidak mau memperlihatkan wajah lemahnya.


"Mobil sudah siap tuan." suara Daren menyadarkan Joe. Joe membuka mata seketika. Ternyata Daren sudah berada di dalam ruangan kerja Joe.


Sial! Pengacau! Awas kau Daren! batin Joe. Melirik tajam Daren di belakang pintu. Ingin menghancurkan tubuh sekretarisnya itu.


***


Shinta duduk disamping Joe dalam mobil menuju jalan pulang. Didepan ada Daren sebagai sopir. Dari keluar dari kantor, Joe tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Daren itu. Tajam.


"Pak Daren, mampir ke minimarket depan ya." kata Shinta.


"Baik Nona."

__ADS_1


Joe melirik Daren dari kaca spion. Ia masih dendam atas apa yang diperbuat Daren di kantor.


"Mau ngapain?" tanya Joe sedikit tidak suka.


"Beli snack kentang goreng pedas manis mas." kata Shinta.


"Tidak boleh,"


"Aku mau makan itu mas buat nemenin tugas sekolah ku ini." Shinta sedikit marah mendengar Joe tak memperbolehkan ia makan Snack kesukaannya.


"Honey, kau nggak lihat camilan itu banyak mengandung micin, itu nggak sehat. Nanti makan buah saja dirumah atau jus, yogurt atau susu?"


"Enggak enggak enggak. Pokoknya kentang goreng." Shinta merajuk manja.


"Ish... Jangan begitu."


"Aku mau beli itu. Titik!"


"Baiklah. Kiss me first."


Joe menyunggingkan senyum menggoda. Shinta mencebikkan bibirnya, selalu saja Joe itu mencari kesempatan.


"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa honey." lanjut Joe pasrah. Seperti memberi kebebasan namun wajahnya sangat menginginkan. Puply eyes itu terlihat jelas di wajah Joe memanggil Shinta agar tidak tega mengabaikan keinginannya. Dasar mesum!


"Bukan pipi, disini." Joe menunjukkan bibirnya. Siapa tau ada berkah lagi untuknya. Senyum nakal sudah jelas tercetak di bibir itu.


"Jangan minta jantungku kalau kau sudah mendapatkan hatiku tuan Jonathan!" Shinta ketus. Geram-geram melihat wajah Joe yang mengedip menggoda.


"Jadi hatimu sudah untukku? Wow, aku sungguh bahagia mendengarnya."


"Suaramu sungguh merendahkan ya?"


"Tidak. Aku benar-benar bahagia honey."


Daren menghentikan mobilnya didepan minimarket. Ia keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang agar nonanya bisa keluar membelikan snack kesukaannya.


"Tidak bisakah kau yang membelikannya? Biarkan honeyku disini. Kau tau dia lelah." Joe berteriak.


"Tidak apa-apa mas. Aku bisa beli sendiri." Shinta menengahi.


"Tidak. Kau kelelahan belajar honey. Biarkan Daren yang membelikan Snack kesukaanmu." Joe lembut.


"Aku ingin beli sendiri." Akhirnya Shinta turun dari mobil. Tak ingin berdebat lagi dengan Joe. Daren hanya bisa menunduk hormat.

__ADS_1


"Urusanku denganmu belum selesai." bisik Joe pada Daren.


"Baik tuan." Daren masih menunduk dengan bingung. Apa salahku?


Shinta sudah tenggelam dibalik rak - rak minimarket yang berisi makanan ringan. Shinta menenteng keranjang belanjaan. Mengambil camilan yang ia sukai. Banyak sekali.


Joe masuk minimarket, seketika pegawai minimarket itu kaku. Perempuan muda yang tak beda jauh dari Shinta menatap Joe dengan menganga. Harusnya ia mengatakan sapaan seperti biasa, namun entah kenapa melihat Joe yang tampan itu membuatnya terkesima.


"Hello girl, what happen?" tanya Joe melihat pegawai itu heran. Joe menaikkan alis. Kemudian ia melihat keseluruh penjuru ruang minimarket itu. Ia melihat Shinta dibalik rak.


"Eh? You so look handsome sir. Aku suka kamu." kata pegawai itu tanpa sadar. Kebaikan apa yang ia buat hari ini bisa bertemu dengan bule keren seperti Joe.


"Thank you." Joe tersenyum masam. Ia melihat Shinta membawa keranjangnya yang penuh itu pada kasir. Shinta menatap Joe curiga. Tadi aku dengar ia menggoda pegawai minimarket.


"Ini mbak." kata Shinta pada pegawai itu. Ia menoleh pada Joe, "Mas mau beli sesuatu?" tanya Shinta.


"Tidak. Kau sudah membeli apa saja yang kau suka?"


"Iya sudah. Nanti aku bagi untukmu juga."


"Tidak perlu, buat kamu saja honey."


"Sudah selesai nona. Ini tagihan yang harus dibayar." kata pegawai itu sedikit ketus. Ya, sudah punya gandengan. Begitu raut wajah pegawai itu menggambarkan kekecewaan.


Joe mengeluarkan kartu di dompetnya. Menyerahkan pada pegawai itu.


"Mas, kartu yang dulu kamu berikan padaku aku bawa kok."


"Tidak apa-apa. Pakai saja sesukamu."


Pegawai minimarket itu hanya saling melirik melihat sepasang pasutri didepannya. Melihat pasutri itu penuh kecemburuan.


"Ini nona. Terima kasih sudah berbelanja di minimarket kami, lain waktu datang lagi ya." Pegawai kasir memberikan barang belanjaan Shinta dengan senyum terpaksa. Terlihat sangat aneh.


Shinta hanya mengulas senyum. Meraih barang belanjaannya dan kartunya Joe. Memberikan pada Joe, kemudian keluar dari minimarket itu. Ia puas bisa membeli camilan kesukaannya.


***


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like komen tip dan vote ya


Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna


__ADS_2