Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Pesta Part 1


__ADS_3

Selamat membaca


***


Aku tidak mau ikut ke pesta itu. Kenapa kau selalu memaksakan kehendakmu tuan Jonathan! Dari awal aku kan tidak mau terlibat dalam pekerjaanmu. Aku tidak suka keramaian. Apalagi pesta.


"Honey, tersenyumlah. Kau hanya perlu tersenyum. Kalau kau merasa bosan nanti, kau bisa tunggu aku di kamar hotel. Daren nanti yang akan menunjukkan kamarnya." jelas Joe saat ini di dalam mobil.


"Mas, aku sungguh tidak suka pesta." rengek Shinta. Suaranya manja.


"Memang apa yang kau suka? Hmm?" Joe menggoda menatap nakal.


"Dirumah, belajar. Kita pulang saja ya?" Shinta memegang lengan Joe, merengek seperti bocah. Matanya mengerling agar Joe setuju.


"Akhir-akhir ini kau manja sekali, biasanya kau tak pernah begini." keluh Joe. "Tapi aku suka." bisik Joe di telinga Shinta. Seketika Shinta merinding. Ada kecupan hangat disana.


"Memangnya aku harus penurut terus? Aku sudah bosan jadi bocah penurut." Shinta manyun. Memalingkan muka, malu.


"Jangan menolak. Bagaimana kau meneruskan perusahaan Papamu kalau kau tak suka pesta begini. Ini pesta bisnis honey. Kau bisa mendapatkan rekan bisnis disana nanti."


"Aku tak paham soal perusahaan mas."


"Aku janji takkan lama."


"Serius? Sebentar saja?"


"Ya, tapi aku ingin kita.... Hmmm..." Joe mendekatkan wajahnya. Tangannya mengelus tengkuk Shinta membuat Shinta meremang bulu kuduknya.


Shinta menutup mulut Joe dengan tangannya. Agar bibir itu berhenti melakukan aktifitasnya.


"Berhenti nggak?"


"Kau tak suka?"


"Hmmm."


"Padahal semalam kau yang minta dul..." Suara Joe terhenti, Shinta menutup mulutnya lagi dengan telapak tangannya. Wajah Shinta sudah merona.


Bisa diem nggak sih orang ini? Ada pak Daren didepan. Gila! Semalam aku mengigau parah bahkan memeluk tubuh mas Jonathan segala. Shinta merasa malu dengan kelakuannya sendiri semalam.

__ADS_1


Shinta melirik pak Daren didepan. Joe mengerti itu. Wajahnya berubah datar.


"Daren, apa kau mendengar percakapan kami?" tanya Joe.


"Tidak tuan. Silahkan lanjutkan." jawab Daren tidak sedikitpun terganggu.


"Ish! Bohong sekali sih pak Daren ini! Lagian mas tuh aneh banget, pak Daren kan punya telinga. Masak iya tidak dengar?" Shinta kesal. Mana ada pertanyaan aneh begitu?


"Aku sudah menggajinya untuk tidak mendengar percakapan pribadiku. Memangnya aku salah bertanya seperti itu?"


"Apa? Memangnya gajinya mas tambah kalau tak mendengar itu padahal ia mendengar?" Shinta meninggi.


"Kenapa jadi bahas itu sih?" Joe melengos kesal. Joe tidak suka membahas ini, apalagi membahas Daren.


"Habisnya mas nih nggak tau sikon." Shinta berkata tanpa sadar.


"Oh... I'm understand now. You want to private room, right?" Joe mengerling menggoda. Senyumnya menyeringai bagai kucing dapat ikan segar.


Deg.


"Ish! Diam nggak?" Suara Shinta kesal melihat Joe yang kesenengan itu.


"Hentikan!"


"It's okay. Biar Daren urus semua."


"Memangnya apa yang akan diurus?" tanya Shinta polos. Melihat Joe dan Daren bergantian. Sungguh tidak mengerti.


Joe hanya menjawab dengan senyum dan mengangkat bahu. Membuat Shinta semakin penasaran.


Mas Jonathan semakin menggila! Kenapa aku jadi agresif semalam. Membuat dia jadi seperti ini. Padahal aku marah-marah kemarin. Tapi semalam aku... Haaaahhhh Shinta bodoh!


Mobil berhenti di depan hotel terbesar di kota S ini. Hotel berbintang yang dipilih untuk pesta ulang tahun anak wali kota. Mewah.


Daren membukakan pintu mobil untuk tuan dan nonanya untuk keluar. Shinta terpana. Belum pernah ia masuk dalam hotel untuk menghadiri pesta begini. Ia sudah tampak canggung.


Joe meliriknya, menyuruh Shinta untuk meraih tangannya. Shinta menurut, ia genggam lengan Joe kuat. Ia tak mau jatuh karna high heels yang tidak seberapa tinggi itu. Memalukan.


Mereka sudah masuk ke dalam. Melihat dekorasi pesta yang disulap sedemikian rupa. Sudah seperti pesta pernikahan saja sangat mewah sekali padahal hanya untuk pesta ulang tahun. Ada panggung kecil dipojok ruangan yang dipakai perform untuk band dan penyanyi solo lokal yang diundang untuk mengisi acara. Tidak main-main, wali kota juga mengundang bintang tamu sekelas artis tanah air.

__ADS_1


Pesta itu nampak meriah. Suara band lokal mendendangkan lagu yang di request para tamu. Para tamu sangat menikmati pesta ini. Jamuan yang dihidangkan pun sangat mewah dan banyak pilihan menu. Minuman pun sama.


Gadis cantik yang sedang berulang tahun itu nampak anggun dengan dress selututnya yang penuh dengan berlian. Berkelap-kelip terkena sinar lampu hotel yang megah.


Ia tampak bahagia. Sangat bahagia malah. Pesta ini sangat ia idam-idamkan. Sebagai anak walikota yang terhormat, pesta seperti ini pasti bukan masalah besar. Apalagi untuk putri kesayangannya.


Mata cantik itu menangkap seseorang yang ia kenal. Wajah yang biasa ia lihat di sekolahnya. Dia? Bersama Tuan Joe? Ish! Pakai gandengan tangan lagi! Ia terlihat kesal melihat pemandangan itu.


"Hello mr. Joe. How are you?" tanya gadis itu berjalan mendekati Joe. Disamping Joe ada Shinta dan Daren di belakangnya.


"Oh? " Joe mengernyit. Merasa tidak mengenal gadis dihadapannya ini. "I'm fine. Where Mr Sandi? I want meet him now." kata Joe tidak mengindahkan mata berbinar sang gadis yang terpesona dengan wajah Joe yang tampan. Joe melirik Shinta yang mencengkram lengannya lebih kuat.


Apa dia sedang cemburu sekarang? Ah, manisnya. Joe


"Don't worry Mr. Joe. My father is talking with other guests. Please enjoy the party." kata gadis itu lagi.


"Ok. Happy birthday, what is your name?"


"My name is Siska. I'm a member of your GYM, Mr. Joe." Siska bersuara manja. Ish! Kenapa tidak mengenaliku sih? Bikin malu diriku dihadapan kakak kelas sok polos ini. Tapi tidak apa-apa. Dia kan hanya sepupunya, bukan istrinya kan?


"Oh? Sorry, i don't know. But I'm glad to meet you."


"Thank you, aku juga sangat senang tuan Joe menyempatkan diri datang ke acara ulang tahun saya." Siska nampak ingin berjikrak saat itu juga. Dia senang bertemu denganku. Ah, dia juga minta maaf. Manisnya.


"Daren, berikan hadiahku untuknya. Semoga panjang umur ya nona Siska." Joe tersenyum manis, ia tidak tau kalau Shinta sudah mengepalkan tangan yang satunya dengan geram. Kenapa anak walikota harus adik kelasku yang menjengkelkan ini.


"Terima kasih tuan Joe. Kadonya besar sekali. Apa isinya? Hehe..." Siska terkekeh pelan. Tersenyum polos saat menerima kado berwarna pink polka yang diberikan oleh Daren.


"Yang pasti bukan bom." kelakar Joe sambil berlalu melewati Siska yang masih membulatkan mata. Bom? Nggak salah dengar?


***


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like komen tip dan vote ya


Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


Peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2