Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Katakan


__ADS_3

Selamat membaca


***


Kata-kata Joe masih terngiang-ngiang di pikiran Daren. Ia memijat kepalanya. Pening. Seperti melayang tiada henti.


"Kalau Shinta bertanya soal anak walikota atau kejadian waktu itu bilang tidak tau. Kau harus mengingatnya Daren."


Huh... Daren menghela nafas berat. Kenapa tuan mudanya itu mengatakan itu berulang-ulang. Tentu saja dia tidak akan mengatakan apapun pada nonanya. Memangnya nonanya akan bertanya soal itu padanya? Yang harus diwaspadai adalah dirinya sendiri. Bukan Daren, karna jika terungkap pun Joe yang akan kena masalah.


"Silahkan nona, tuan Joe sudah menunggu di ruangannya." sapa Daren.


Shinta mengikuti langkah Daren. Menyusuri dekorasi launching produk yang sudah selesai.


Shinta terkesima dengan dekorasi itu. Bagus. Banyak orang yang berlalu lalang. Juga ada banyak wartawan.


Sesaat Shinta melupakan sesuatu yang menjadi tujuannya datang kemari. Sampai Daren menunjukkan ruangan kerja Joe yang tadi digunakan Joe untuk berbincang dengan walikota.


Kemudian Shinta menghentikan langkahnya. Ia belum masuk karna seseorang dari arah berlawanan menghampirinya. Shinta menoleh.


"Pak Daren, boleh saya minta waktu untuk berbincang dengan dia?" tanya Yuna dengan mimik tidak suka saat menyebut kata dia. Shinta melengos.


Memangnya mau bicara apa? Mereka tidak saling kenal sebelumnya. Hanya sekali berpapasan waktu itu. Sekarang seolah Yuna itu mengenalnya. Padahal waktu itu ia melengos melihat Shinta tersenyum padanya. Cih!


"Tidak bisa nona. Silahkan lanjutkan pekerjaan anda. Nona Shinta sudah ditunggu tuan." jelas Daren, menunjukkan keberatannya untuk membiarkan Shinta berbicara dengan Yuna.


"Apa? Sebentar saja pak." mohon Yuna. Siapa sih dia? Sampai pak Daren begitu padaku. Aku hanya penasaran. Cih!


"Tinggalkan kami sebentar pak." kata Shinta datar, menyilangkan tangannya di dada. Kemudian mengangkat dagu. Seolah menantang Yuna. Yuna pun merasa Shinta sangat menyebalkan.


"Tapi nona..." Nanti tuan Joe bisa marah lagi. Kaki ku bisa patah kalau tuan Joe marah karna telat membawa nona padanya. Ah sial!


"Aku tidak akan bilang apa-apa pada bosmu. Tenang saja." kata Shinta menepuk bahu Daren. Tapi Daren masih tetap berdiri di tempatnya.


Cih! Yuna melengos mendengar Shinta berkata begitu. Seolah ia begitu penting. Yuna meremehkan Shinta.


"Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu." kata Shinta. Ia tidak tau punya keberanian berlapis saat ini. Shinta yang dulu memang sering menunduk ketakutan. Sekarang dengan wajah datar ia akan menghadapi apapun didepannya. Suaranya makin sarkas dan kasar.


"Kau sepertinya orang penting ya disini? Bisa seenaknya keluar masuk ruang direktur. Siapa kau?" tanya Yuna dengan nada sinis. Netranya melirik Daren. Orang ini tidak mau pergi sama sekali. Huh!


"Hah? Haha..." Shinta tertawa. "Sepertinya Anda terusik dengan keberadaan saya ya?" Daren hendak menjawab namun Shinta menghalangi.


"Cih! Tidak sama sekali! Aku hanya bertanya, siapa kau." Yuna melengos. Menyilangkan tangannya didada.


"Haha... Biasanya aku baik lho. Hanya saja sikapmu waktu pertama bertemu itu membuatku sangat kesal. Mau aku putuskan kerja sama dengan mas Joe?" Shinta memajukan kepalanya, ingin melihat ekspresi apa yang akan ia lihat diwajah Yuna.


"Apa? Mas Joe? Berani sekali kau memanggilnya mas? Aku pikir, kau bukan saudara bahkan bukan sepupu. Jadi siapa kau?" Yuna menurunkan tangannya, mengepal kuat. Geram.


"Hentikan nona Yuna! Pergilah! Kau hanya buang-buang waktu." Daren akhirnya bicara.


"Tenanglah pak Daren." Shinta tersenyum.

__ADS_1


"Aku istrinya mas Joe. Kau puas? Sekarang menyingkirlah!" Shinta mendorong bahu Yuna. Yuna menganga tidak percaya.


Tidak mungkin! Ya, mana mungkin perempuan muda itu istri tuan Joe. Tuan Joe yang tampan dan bule keren itu. Dia istrinya? Tidak!


Shinta tertawa kecil melihat tubuh kaku Yuna. Sekarang ia baru merasa lega bisa membalas perlakuan Yuna waktu itu.


***


Shinta sudah di dalam ruangan kerja Joe. Ia tersenyum melihat Joe sedang duduk menyilang di sofa.


Joe mengibaskan tangannya agar Daren keluar dari ruangan itu. Daren menunduk hormat akan pergi.


"Tunggu pak." kata Shinta masih diposisinya berdiri di dekat pintu.


"Ya nona." Daren tidak jadi membuka gagang pintu itu.


"Aku ingin bicara dengan pak Daren. Bisa?" Shinta menoleh menatap Daren.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan Daren?" tanya Joe tidak suka Shinta. Ia bergerak berdiri lalu mendekati Shinta.


"Ah tidak apa-apa mas. Pak Daren ada waktu kan?" Shinta masih fokus dengan Daren. Daren disampingnya hanya menunduk melihat Joe mendekat.


"Memangnya rahasia sampai aku tidak boleh tau?" ketus Joe.


"Bukan begitu mas. Eh, apa aku juga harus minta ijin sama kamu?" tanya Shinta.


"Tentu saja. Memangnya kau punya siapa?" Joe merangkul bahu Shinta menarik erat.


"Kau tak ingin bicara dengan ku? Kenapa kau kesini tapi mencari Daren? Bukannya ini jam kuliah pagimu?" tanya Joe sambil menciumi puncak Shinta.


"Ah, iya. Aku bolos." Shinta menunduk. Berkata sangat lemah.


"Ya sudah. Sini. Bicara disini dengan Daren." Joe meraih tangan Shinta, mengajaknya duduk di sofa.


Dengan berat hati, Daren pun ikut duduk. Melihat kemesraan mereka membuat Daren ingin punya kekasih juga. Ah, baru tadi pagi mereka bertengkar. Sekarang sudah dekat lagi. Mereka ini kenapa sih? Apa cinta segitu butanya?


"Aku ingin bicara berdua saja dengan pak Daren mas."


"Lakukan didepanku atau pulang saja." Joe menyandarkan kepalanya di bahu Shinta, sambil memeluk erat.


"Kok ngusir?" Shinta mengibaskan bahunya.


"Mau bagaimana lagi? Ini kantor, bukan tempat mengobrol hal tidak penting." ketus Joe.


"Kok marah?"


"Siapa yang menantang kemarahanku?"


Menantang kemarahannya? Ck! Harusnya aku tanya dari tadi saja didepan sama pak Daren. Dari pada harus berdebat panjang dengan mas Joe seperti ini, batin Shinta kesal.


"Aku dengar kau berdecih. Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan dengan Daren."

__ADS_1


"Baiklah. Mas Joe diem ya?"


"Apa? Iya iya." Joe pasrah dan melepas pelukannya. Ia menyilangkan tangannya, mendengus kesal.


"Pak Daren, apa yang bapak lakukan di pesta waktu itu setelah aku pergi? Waktu pesta di hotel anak walikota itu lho. Inget kan?" tanya Shinta. Melihat bagaimana ekspresi wajah Daren.


"Maaf nona. Saya tidak melakukan apa-apa." jawab Daren, sesuai perintah Joe.


"Benarkah? Tapi anak walikota itu sampai pakai gips lho." Mata Shinta membulat sempurna.


"Oh ya? Saya tidak tau nona."


"Kok bisa begitu ya?" Shinta memiringkan kepalanya.


"Kau menuduh Daren yang melakukannya? Wah, hebat juga ya kau Daren bisa mematahkan tulang anak orang." celetuk Joe seolah antusias.


"Diem! Aku bertanya sama pak Daren." Shinta mengangkat jari telunjuknya ke udara.


"Untuk apa kau pikirkan hal-hal yang tidak penting begitu. Lebih baik kau pikirkan anak kita. Besok kita periksa ke dokter ya?" Joe mengalihkan pembicaraan.


"Jangan menyela. Aku belum selesai dengan pak Daren."


"Ah, sudahlah. Bahasanmu dengan Daren itu tidak penting."


"Aku penasaran mas."


"Daren bilang apa tadi? Dia tidak melakukan apa-apa kan?"


"Tapi anak walikota itu pakai gips lho di kaki dan tangannya. Itu kan parah banget."


"Daren, selesaikan pekerjaanmu."


"Baik tuan." Daren beranjak, keluar dari ruangan kerja Joe. Sama sekali tak mengindahkan Shinta yang memanggilnya.


"Tapi... Mas, aku belum selesai. Pak Daren, jangan pergi." kata Shinta. Joe dengan cepat meraih belakang kepala Shinta. Memangut bibir pink itu lembut. Agar Shinta berhenti merengek. Shinta terkejut. Namun perlahan ia mulai menikmati. Menutup matanya, kemudian Shinta membalas dengan kecupan yang kian hangat.


"Apa kau mencintaiku? Katakan kau mencintaiku." bisik Joe. Mengadu keningnya dengan kening Shinta. Menangkup kepala Shinta yang ingin lepas dari tangannya.


Deru nafas mereka menyatu. Naik turun mengumpulkan udara yang ada.


"Apa?" tanya Shinta melihat netra coklat Joe. Menerka apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Shinta memegang tangan Joe.


"Katakan, kau mencintaiku."


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2