
Selamat membaca
***
Shinta bergetar hebat. Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya lemas seketika. Meleleh bak es krim di siang hari. Pandangannya kabur seiring kertas kecil bergaris dua itu terjatuh. Bersamaan dengan tubuh Shinta yang meringsek ke lantai.
Pagi ini ia mencoba tes pack itu sesuai perkataan Anin. Lebih baik dicoba di pagi hari. Dan benar yang dikatakan Anin bahwa Shinta sedang hamil. Seperti ciri-ciri yang dikatakan Shinta pada Anin bahwa Shinta sudah telat datang bulan hampir dua bulan. Itulah yang membuat Shinta akhirnya memberanikan diri mencoba tes kehamilan itu.
Joe dengan sigap memapah Shinta ke ranjang. Saat itu ia sedang siap-siap akan pergi ke tempat GYM. Ia pun panik. Dengan cepat ia menelfon dokter Andri.
"Honey, bangun honey." panggil Joe lembut. Ia sangat khawatir.
"Asih, buatkan teh hangat." perintah Joe saat asih di panggil tuannya. Joe sangat gusar sekali.
Beberapa saat Joe menunggu, Daren datang bersama dokter Andri. Joe mengusap matanya yang sudah berair dengan ujung jarinya. Ia sedih melihat keadaan Shinta yang mendadak pingsan.
"Tiba-tiba saja dia jatuh pingsan dok. Tolong periksa dengan teliti." Joe sedikit sendu. Ia takut terjadi apa-apa pada Shinta.
Dokter Andri mulai dengan melihat tangan Shinta, tepat di pergelangannya. Kemudian dokter menyibak sedikit kaos yang dipakai Shinta. Menekan di pangkal perutnya.
"Tenang tuan. Nona tidak apa-apa. Nona Shinta sedang hamil muda. Pingsan di awal kehamilan itu wajar kok. Tak perlu panik." jelas dokter dengan senyum hangat. Ia mengulurkan tangannya sebagai ucapan selamat untuk Joe.
"Ap-pa?! Se-serius?!" Joe membulatkan matanya dengan sempurna. Ia langsung beringsut naik ke atas ranjang dan mengecup kening Shinta.
Dokter Andri tersenyum sambil mengangguk pelan. "Jagalah nona tuan. Jangan sampai dia stres berlebihan. Itu tidak baik untuk kondisi kehamilannya. Dan mungkin, mual-mual yang anda derita juga disebabkan karena kehamilan nona."
"Apa mungkin begitu? dokter jangan aneh-aneh. Mana mungkin bisa begitu." Joe merasa heran. dahinya mengernyit tidak mengerti.
"Itu bisa saja terjadi tuan. Itu di sebut kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade, terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Sindrom ini biasanya dialami suami saat kehamilan istri berada di trimester pertama dan ketiga." jelas Dokter Andri.
"Benarkah begitu? hmmm..."
"Kalau begitu saya permisi tuan." Dokter Andri menundukkan kepalanya disertai Daren untuk mengantar dokter Andri ke depan rumah.
Joe seakan kaku. Honeyku hamil? Ak-ku akan jadi ayah? Benarkah? Ini bukan mimpi? Tapi....
Sedikit menggetarkan hati Joe. Kalau Shinta tidak suka dengan kehamilannya, ia akan merasa terbebani dan akhirnya bisa setres. Tidak boleh!
***
Bagaimana aku bisa hamil? Jelas-jelas mas Joe bilang pakai pengaman.
"Honey, aku ingin membicarakan sesuatu. Tapi sebelum itu, jangan marah ya." Joe lembut. Memilah kata-kata agar tidak menyinggung perasaan Shinta.
"Hmmm..." Shinta menjawab dingin. Ia sedang menyandarkan tubuhnya di ranjang. Joe disampingnya melihat seksama perubahan sikap Shinta yang begitu kesal. Wajahnya tampak menegang.
__ADS_1
Glek. Joe menelan ludah. Tidak biasanya Shinta berkata seserius itu. Aku harus hati-hati bicara, bisiknya dalam hati.
Shinta menunggu jawaban. Tapi Joe hanya terus mengambil nafas dan belum mengeluarkan sepatah kata pun. Wajahnya tegang sekali. Shinta makin tidak sabar menunggu.
"Mas, katakanlah. Jangan membuatku menunggu."
"Honey, aku ...." Joe takut.
"Apa?"
"Ah, aku jadi bingung. Dari mana mulainya."
"Ish! Maksudnya apa sih? Sengaja ya bikin aku emosi begini?" batin Shinta, ia melengos kesal.
"Jangan marah ya honey." Joe meraih belakang kepala Shinta. Menyandarkan tubuh itu didada bidangnya. Mengelus pundak Shinta lembut. Beberapa kali ia mengecup puncak Shinta. Ya Tuhan, dari mana aku harus bicara.
Shinta membulatkan mata terkejut dengan sikap Joe yang tiba-tiba. Apa yang akan dikatakan mas Joe?
"Soal apa? Soal Yuna Nadira? Iya? Ini soal dia kan?" tanya Shinta.
"Yuna Nadira?! Bukan!" tukas Joe cepat.
"Terus apa?!" Shinta menggoyangkan bahunya. Tidak ingin Joe merengkuhnya lagi.
"Sini honey, jangan jauh dariku."
"Baiklah. Honey, kamu hamil."
Glek. "Aku tau." lirih Shinta kelu.
"Kau tak apa-apa?" Joe meraih dagu Shinta agar mata mereka bertemu. Joe menatap lama mata Shinta yang mulai sedih.
"Aku bisa apa kalau sudah terjadi begini mas." lirihnya lagi.
"Honey, aku janji, aku akan menjagamu dan akan memastikan takkan terjadi apa-apa padamu dan anak kita. Kamu tenang ya."
Shinta memalingkan muka, menunduk lesu. Ya, Joe pernah mengatakan kalau ia ingin rumah tangga ini lengkap seperti pasangan pasutri pada umumnya.
"Honey." panggil Joe meraih Shinta, memeluk erat. "Kamu jangan takut ya. Aku disini, bersamamu."
"Bagaimana bisa aku hamil? Bukannya mas pakai pengaman?" tanya Shinta.
Glek. Joe pias, melepas pelukannya. Ia mengelus tengkuknya beberapa kali. Ia salah tingkah.
"Beberapa kali aku nggak pakai pengaman."
__ADS_1
"Maksud mas Joe?"
"Ak-ku memang menginginkannya honey."
Shinta mendorong tubuh Joe. Ia menutup mulutnya rapat. Menutup wajahnya. Tidak!
"Maafkan aku."
"Kenapa mas lakukan ini? Kita bisa bicarakan semuanya kan? Kenapa mas begitu padaku?"
"Aku hanya ingin melengkapi hidup kita honey."
"Tapi kan kamu bisa bilang dulu mas. Nggak seperti ini kan?"
"Jangan marah."
"Bagaimana aku nggak marah? Coba katakan?"
"Honey, aku lupa."
"Ap-pa?! Lupa? Seenaknya kau bilang lupa?!"
"Honey, maafkan aku."
Dia segitu pengennya ya punya anak? Punya anak kan ribet. Kalau sakit gimana? Kalau nanti anaknya rewel gimana? Kalau begadang terus tiap malam gimana? Arrrggghhh! Aku bisa jadi nggak bisa nerusin kuliahku! Gimana sih mas Joe malah begitu sama aku. Bilang nggak sengaja? Dia bahkan dengan gampangnya bilang lupa? Tega benar dia!
"Honey," panggil Joe meraih bahu Shinta, ingin memeluk istrinya yang sudah berlinang air mata.
"Aku ingin sendiri mas, keluarlah."
"Tidak. I'm so sorry honey. Please," Joe memohon. Tangannya menangkup tangan Shinta menaruhnya didadanya.
"Kita bahas nanti, aku ingin sendiri mas. Pergilah."
"Honey, jangan suruh aku pergi. Aku ingin disini bersama mu. Please honey,"
"Pergi!"
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna