
Selamat membaca
***
Shinta merapikan lagi bajunya. Menyatukan kancing yang lepas. Ia menyisir rambutnya dengan jari jemarinya, mengibaskan ke belakang.
Mas Joe akhir-akhir ini sering mual. Apa perlu di bawa ke dokter spesialis ya. Dokter Andri sampai nggak tau sakitnya apa lho. Bikin aku khawatir dengan kesehatan mas Joe. Sampai aku nggak berani tanya soal Yuna Nadira. Hah... Shinta, jangan berfikiran buruk, bisa saja kan mereka hanya dekat karna hubungan kerja saja. Kan Yuna itu brand ambassador. Mereka pasti akan sering bertemulah. Mikir apa sih aku ini? Kenapa sekarang aku jadi istri posesif begini sih.
Matanya menoleh pada sosok Joe yang keluar dari kamar mandi. Duduk lagi disamping Shinta. Menghela nafas. Bibirnya basah karna ia baru saja membasuhnya dengan air. Joe menarik nafas dan mengeluarkannya pelan. Rasanya mual lagi. Tidak enak sekali. Menganggu ritualnya saja berduaan dengan Shinta. Ia memijat atas hidungnya, pening.
"Mas kenapa?" tanya Shinta.
"Rasanya mual lagi."
"Masuk angin lagi mas?"
"Entah lah."
"Mas, periksa lagi ke dokter gimana?" Shinta memberi saran. Tapi sepertinya Joe tidak suka. Joe hanya diam. Tak menyahut.
Sampai Daren masuk dengan Nana dibelakangnya. Membawa makan siang pesanan tuannya. Nana dengan cepat menaruh semua di meja depan Shinta dan Joe. Nana menunduk dengan hormat.
"Silahkan dinikmati tuan dan nona." kata Daren dan mengajak Nana untuk keluar.
"Terima kasih pak Daren, terima kasih mbak Nana." kata Shinta ramah.
Shinta menatap menu makan siang hari ini, kelihatannya sangat enak. Bau ayam bakar dan sambalnya itu bikin ia seketika ngiler. Shinta mulai melahap makanan didepannya. Kemudian menyodorkan sendoknya ke mulut Joe. Joe melirik Shinta ragu-ragu, kemudian melahap pelan. Ia takut akan mual lagi. Wajah memaksa Shinta itu membuat Joe tidak tega.
Sebenarnya Joe suka sekali Shinta begitu perhatian dengannya. Menyuapi seperti ini momen paling ia sukai. Dengan penuh kelembutan Ia mengelus rambut Shinta.
Shinta yang merasakan tangan besar Joe berada di kepalanya seketika menoleh, menatap Joe penuh heran.
"Kenapa mas? Mual lagi?" tanya Shinta.
"Kamu makin cantik." bisiknya. Mengelus pipi Shinta.
"Idih... Apaan sih?" ledek Shinta, melengos. Tapi kata pendek itu berhasil membuat wajah Shinta seketika merona. Padahal nggak pernah selama ini muji aku cantik. Bikin salting aja. Shinta mengalihkan pandangannya dari wajah Joe, mengambil makanannya lagi.
"Benar kok." Joe menggoda. Kalau sudah malu-malu begitu, Joe makin gemas pada Shinta.
" Pasti ada maunya deh!" sergah Shinta.
__ADS_1
"Haha... Kamu tuh ya. Lucu."
"Lucu? Ish... Aku bukan pelawak ya." Shinta menyodorkan sesendok penuh ke bibir Joe. Joe menggeleng kuat. Ia tak berselera untuk makan.
***
Shinta menghela nafas, kecewa pada dirinya sendiri. Ih, aku tuh lemah banget sih. Cuma dibilang makin cantik aja aku jadi lupa kesal sama dia. Aku sungguh penasaran dia ngapain sih berdua sama Yuna itu. Ah, sebal!
Joe mengantar Shinta sampai parkiran mobil. Dari keluar ruangan Joe sampai parkiran, Shinta hanya diam. Mengutuki dirinya sendiri karna ia ingin sekali dengar penjelasan dari Joe soal Yuna Nadira.
"Biar Daren yang antar." kata Joe memaksa. Kalau sudah bicara begitu, mau tak mau Shinta menurut. Daripada berdebat yang tak ada ujungnya dengan Joe.
Sebenarnya Shinta sudah menolak untuk diantar karna kesibukan Daren juga sama padatnya. Tak tega mengganggu keduanya bekerja.
Nampak Daren sudah berdiri disamping mobil, membukakan pintu untuk nonanya
"Silahkan nona." kata Daren.
"Honey, masuklah."
Shinta beringsut masuk. Kemudian Shinta terkejut saat Joe juga ikut masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup. Eh? Kok ikut masuk? batinnya.
"Mas, mau ikut? Katanya banyak kerjaan?" tanya Shinta heran. Joe tak menjawab. Ia langsung menarik kepala Shinta dan merasai bibir istrinya itu. Shinta gelagapan tidak siap. Shinta membulatkan matanya. Sekian detik merasakan lembutnya, kemudian ia reflek memejamkan mata. Ia sadar suaminya menginginkan dirinya.
"Shit! Aku mau sekarang!" Joe mulai lagi. Ritualnya tak boleh terhenti lagi.
***
Shinta merapikan bajunya. Membenahi kancingnya. Bibirnya mencebik karna Joe tak mau berhenti. Shinta sungguh tidak nyaman melakukan 'itu' di mobil. Sudah seperti tak ada tempat saja. Apalagi mereka kan bukan pasangan yang belum sah. Mereka kan sah, di rumah kan lebih leluasa. Mas Joe nih keterlaluan! Nggak lihat situasi banget, gerutu Shinta.
"Nanti cepat pulang ya, jangan kemana-mana." kata Joe. Mengelus rambut Shinta.
"Iya. Mas nanti pulang jam berapa?" Shinta masih manyun. "Jangan lakukan ini lagi. Aku nggak suka main disini."
"Paling sampai malam. Kamu tidur saja dulu. Iya iya. Aku minta maaf."
"Maaf terus. Kayak lebaran aja." Shinta melengos.
"Honey, don't be angry. I love you."
"Pret ah. Kalau udah ada maunya seenaknya. Sebal!"
__ADS_1
"Apa itu pret?"
"Nggak tau ah! Sana keluar, mau disini terus?"
"Cium dulu."
"Bodoh ah! Sebal sama mas Joe." Meski Shinta merajuk, Joe tetap bisa mencium kening Shinta. Membuat Shinta geregetan.
Joe keluar dari mobil, melambaikan tangan pada Shinta. Shinta memalingkan muka, geram-geram tak bisa menolak Joe. Mana bisa aku ngambek sama dia, setiap kali ngambek ada saja tingkahnya yang membuat aku meleleh seketika. Aku benci hatiku yang lemah ini.
Mobil pun berjalan menjauhi kantor itu. Menembus jalanan yang padat.
"Pak, menurut pak Daren apa mas Joe ada hubungan dekat dengan Yuna Nadira?"
"Tidak nona."
"Jangan menutupi apapun. Pak Daren tau kan wanita itu keluar dari ruangan mas Joe tadi, mereka cuma berdua kan tadi di dalam ruangan itu." Shinta mengeram menyilangkan tangan di dada.
"Ada saya nona di dalam."
"Pak Daren kan bekerja untuknya pastilah menutupi semuanya. Iya kan?"
"Maaf nona. Tidak ada yang saya tutupi sama sekali."
"Cih! Pak Daren, katakan sesuatu!"
"Tidak ada apa-apa dengan tuan dan nona Yuna hanya sebatas kontrak sebagai brand ambasador saja nona."
"Aku tidak percaya."
"Nona, tolong jangan berfikir aneh-aneh. Karena tuan Joe itu type laki-laki setia."
Mana mungkin tidak tergoda dengan wajah cantik Yuna Nadira itu? Dia bahkan punya tubuh sensual seperti itu, batin Shinta sambil melihat dirinya sampai bawah ke atas. Aku tak seseksi Yuna Nadira. hiks, aku jadi tidak bersyukur pada diriku sendiri. Apa sih? Aku jadi mencurigai mas Joe begini, batin Shinta menggerutu.
***
terimakasih membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
NB : maaf kalau selama nulis cerita ini aku banyak kekurangan karena memang aku masih amatiran. hanya sebagai hobi ditengah kesibukan mengurus rumah. semoga dapat menjadi penghiburan untuk semua pembaca... 😁
peluk cium DevaNurAna