
"Aaaa!" Shinta memekik keras. Suaranya mengejutkan Joe yang masih enggan untuk turun dari tempat tidur. Joe beranjak meraih gagang pintu kamar mandi.
"Ada apa Honey?" tanya Joe panik. Dia berdiri dibelakang Shinta menatap wajah Shinta yang kesal dari kaca wastafel.
"Lihat ini! Ini pasti kelakuan kamu kan Mas." Shinta membuka dua kancing piyamanya. Ada dua tanda cinta disana.
"Oh... iya. Bagus kan?" Joe berkata dengan santainya sambil melihat hasil karyanya semalam. Tersenyum bangga.
"Ish! Suka sekali sih. Nggak bisa ya minta ijin?" Shinta kesal.
"Memangnya kalau minta diijinin?" Joe mendekap tubuh Shinta. Menaruh kepalanya dibahu Shinta dari belakang.
"Emmm..." Shinta tampak berfikir. Mencoba melepas tangan Joe diperutnya. Kemudian ia bungkam. Huh! Joe mendengus. Shinta tak menjawab pertanyaannya. Pasti tidak boleh.
"Iya aku ijinin. Puas? Lepasin!" Shinta ketus.
"Nggak mau ah! Nggak ikhlas gitu." Joe mencibir keterpaksaan Shinta.
"Ih maunya apa sih Mas?" Shinta menghentakkan kakinya kesal.
"Mau semuanya. Ini, ini, ini..." Joe menunjuk bagian tubuh Shinta yang ia inginkan berulang - ulang. Tentu saja membuat Shinta semakin kesal.
"Tuh kan kalau dikasih hati minta jantung?"
Joe tergelak mendengar kekesalan istrinya ini. Bikin dia makin gemas. Ia eratkan pelukan tubuhnya. Mencium rambut Shinta yang wangi buah.
Joe membalikkan tubuh Shinta. Meraih dagu Shinta. Sejurus kemudian mereka hanyut dalam ciuman pagi yang panjang.
***
Shinta masuk kelas dengan mencebikkan bibirnya. Manyun. Sial pagi ini ia merasa kesal sekali. Setelah kejadian tidur bersama sekarang ia dengar rencana konyol dari Joe.
Pagi tadi saat Joe masih mendekap ia didepan wastafel, Joe melakukan hal itu lagi. Shinta harus menutup bekas tanda merah itu dengan bedak dan pelembab wajah yang banyak sekali di leher Shinta. Setelah itu dengan entengnya ia mengajak bulan madu.
Huh! Menyebalkan! Selalu begitu! Apa sifatnya dari orok begitu? Pemaksa, semaunya dan seenaknya?! Dia itu dengar nggak sih aku bilang apa? Aku ingin memastikan perasaanku dulu baru menentukan jawabannya.
__ADS_1
Anin yang melihat wajah kesal Shinta langsung menyambar pertanyaan.
"Kenapa? Ada apa? Pagi - pagi sudah manyun begitu, kesambet apa?"
"Argghhh! Sebal."
"Hei nona muda. Kenapa?"
"Tau nggak pagi - pagi apa dia lakukan?"
"Mana aku tau? Aku bukan cenayang."
Shinta berbisik ditelinga Anin. Shinta menceritakan soal tanda cinta ulah Joe semalam. Anin tertawa lepas. Ya ampun.
"Sssttt... Anin kebiasaan deh." Shinta makin sebal melihat tawa sahabatnya ini.
"Ada apa sih Nin kok ketawa? Ada yang lucu? Cerita dong." Salah satu temannya yang bernama Mitha mendekat.
"Whahaha... Enggak... Eh maksudnya itu ada sesuatu di... Ah ***tube. Video kocak gitu." Anin beralasan. Tapi tawanya masih tersisa.
"Anin, serius dong." Mitha memaksa.
"Apa? Aku konslet enak saja kamu Shin."
"Ih kalian itu yang pada konslet." timpal Sarah.
"Eh mending kita bahas universitas yang kalian inginkan. Udah ada tujuan setelah ini?" Tanya Shinta mengalihkan pembicaraan.
"Kalau aku jelas disini. Kalau Mitha?" jawab Sarah.
"Aku idem deh!"
"Anin bagaimana?" tanya Mitha.
"Aku juga idem. Kalau Shinta beda girls." Anin mengerlingkan matanya menggoda Shinta.
__ADS_1
"Kemana Shin?" tanya Sarah dan Mitha kompak.
Eh? Shinta malah melongo tidak mengerti maksud Anin.
"Aku kemana? Jelas disinilah." Shinta
"Dia di Harvard university." Anin
"Serius?" Tanya Mitha dan Sarah saling pandang.
"Hei hei kalau bercanda jangan kelewatan dong!" Shinta mengerutkan keningnya. Anin ini bikin gosip tidak masuk akal.
"Anin nih mana pernah serius. Kita gak pernah lihat dia itu gak julid."
"Haha... Shinta punya kenalan disana. Makanya mau kuliah disana trus menghabiskan hidupnya di Amerika." Anin
"Aninnnn! Siapa yang bilang? Mengarang kamu tuh ya!" Shinta
"Kalau sama - sama disini jangan pada sombong ya. Awas lupa sama kita." Mitha
"Iya. Kita nanti kan satu kampus. Jangan pelit ilmu ya."
"Terutama Shinta nih. Ajarin kita nanti kalau kita kesulitan." Sarah
"Iya teman - teman."
Hari itu penuh haru. Merasa akan hawa perpisahan itu makin kental. Ya Tuhan, cepat sekali waktu berlalu. Kini sudah mau lulus saja. Shinta merangkul bahu Anin. Mereka saling merangkul bahu. Dan keempatnya tersenyum bersama.
"Kalian kayak kartun anak - anak deh sukanya berpelukan. Haha..." Celetuk Reno.
"Huuuu..." Sontak kelas itu ramai dengan suara hu. Seperti paduan suara.
***
terima kasih sudah membaca
__ADS_1
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya