
selamat membaca
***
"Berapa lama kau bekerja disini?" tanya Joe pada Rendra. Ia membuka jas uang ia pakai. Menyerahkan pada Daren.
"Sudah tiga bulan tuan. Maaf saya harus menggulung kemeja anda."
"Ck! Kenapa kau formal sekali sih."
"Maaf, saya harus menjaga kesopanan, bukan?"
"Tidak perlu. Kau tau siapa aku, apalagi istriku." Joe melengos mendengar jawaban Rendra. Ada getir yang merasuki hati Rendra. Sial!
"Maaf, apa kita pernah berkenalan sebelumnya? Saya tidak mengenal anda, apalagi istri anda tuan." Rendra berkata setenang mungkin. Menghela nafas berat. "Mungkin anda salah orang." bisiknya.
"Ck! Sombong sekali anak ini."
"Apa kita bisa lanjutkan pemeriksaan anda? Karna saya tidak bisa bekerja kalau anda terus bertanya." kata Rendra datar.
"Hai dokter! Kenapa kau kesal sekali sepertinya." Justin gusar. Apa mereka sedang perang dingin? Soal apa?
"Justin, diamlah!"
"Aku tidak suka caranya bicara."
"Maafkan saya tuan. Saya mulai ya tuan Joe."
__ADS_1
Rendra tak menyangka kalau ini adalah pertemuan yang tak pernah dibayangkan. Melihat dari dekat bagaimana seorang Joe yang ia ganggu hubungan rumah tangganya dulu. Memang bukan sepenuhnya itu salah Rendra. Namun rasa sakit itu masih ia rasakan sampai sekarang, selain rasa cintanya pada istri Joe itu masih ada.
Pemeriksaan dimulai dengan pemeriksaan tanda vital, seperti pemeriksaan suhu, denyut nadi, kecepatan pernapasan, dan tekanan darah. Rendra memeriksa dengan sangat teliti dan tenang. Sama sekali tidak terganggu dengan tubuh yang ia sentuh adalah laki-laki yang sudah memiliki Shinta.
Tuhan, kalau ia tak menahan emosinya, bisa-bisa ia sudah kalap ingin memukul wajah Joe. Tapi ia bisa apa? Dialah korbannya. Yang salah tentu saja, Shinta. Perempuan yang ia cintai sengaja menyembunyikan hubungan sah itu dibelakangnya.
Rendra masih tidak terima, namun bagaimana ia bisa marah? Yang bisa ia lakukan hanya diam. Memeriksa dengan sabar.
"Sudah tuan, menurut hasil pemeriksaan fisik, tidak ada masalah yang terjadi. Saya akan mengambil sampel darah tuan untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Huh! Lakukan saja."
Joe merapikan kemeja yang digulung itu kembali seperti semula. Ia kembali duduk di kursi. Menunggu Rendra mengambil sampel darahnya.
"Rendra, kenapa kau kembali ke kota ini? Kau tak mengindahkan peringatan dari Andi waktu itu?" tanya Joe sinis.
"Kau benar-benar menantang ku ya? Kau tidak takut padaku?"
"Ck. Anda hanya manusia biasa. Apa yang harus saya takuti dari anda?" Masih dengan datar, Rendra menyelesaikan pengambilan sampel darah Joe.
"Wah, sombong sekali ya. Baiklah. Asal kau tak mengusik hidup istriku, akan ku maafkan kau."
"Saya sudah bilang kan saya tidak mengenal istri anda. Tenang saja, anda tidak perlu khawatir."
"Jangan sampai kau jatuh cinta pada Shinta lagi karna ia sekarang semakin cantik," bisik Joe. Menepuk pundak Rendra. Menyeringai puas.
Joe melangkah akan keluar dari ruang dokter itu. Kemudian berhenti sebentar untuk melirik Rendra yang masih terpaku di belakangnya.
__ADS_1
"Jika uji lab sudah keluar, hubungi saja Daren." kata Joe.
Daren membukakan pintu untuk Joe. Joe tersenyum lagi. Kau tidak bisa menutupi semua Rendra. Kau sangat terlihat gugup melihatku. Dasar anak kecil! Awas saja kalau sampai kau mengusik istriku. Akan ku bereskan hidupmu.
Joe menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah santai. Sama sekali bukan masalah bila Rendra kembali ke kota S ini. Ia hanya perlu menjaga istrinya saja agar tidak bertemu dengan Rendra lagi.
"Hei sepupu, aku penasaran siapa dokter Rendra tadi?"
"Kenapa?"
"Ada masalah apa kau dengannya?"
"Kau tidak perlu tau."
"Hei, aku sungguh penasaran."
"Kau ingin aku menendang kakimu lagi?"
Ck! Aku kan hanya ingin tau. Pelit sekali sih. "Maksudku, kalau kau ingin membereskannya, aku akan senang hati."
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna