
Selamat membaca
***
Tak tak tak suara dentuman sepatu beradu dengan alat treadmill itu memecah keheningan malam. Sudah selarut ini Joe tidak menghentikan aktivitasnya.
Daren yang dari tadi mondar-mandir di sebelahnya merasa khawatir dengan keadaan bosnya.
"Pulanglah! Aku sudah menyuruhmu pulang kan dari tadi." kata Joe sarkas. Matanya tak berpaling dari depan. Memandang kosong pegangan tangan. Sama sekali tak ingin menatap Daren. Ia masih berlarian diatas alat treadmill itu. Peluh mengucur deras di tubuhnya. Nafasnya terengah-engah hampir habis. Tapi ia sedikit pun tak mau menghentikan aktivitasnya.
"Tuan, berhentilah. Ini sudah malam." kata Daren mendekati Joe. Ingin mematikan alat itu agar berhenti. Daren sangat khawatir. Tuannya terlalu memforsir kegiatannya kali ini. Sudah dari tadi siang ia berada disini. Tanpa menyapa pelanggan atau member yang datang. Wajahnya datar dan tidak berekspresi apapun. Joe sedang marah. Itu yang dirasakan Daren. Aura kejam dan tatapan menusuk itu membuat ruangan ini cukup mencengkam. Tak ubahnya ruang penyiksaan.
"Jangan menasehatiku. Pergilah!" Joe berteriak. Seolah Daren sangat menganggu sekali.
"Tuan, jangan begini." Daren putus asa. Ia sudah beberapa kali membujuk Joe untuk berhenti. Namun Joe masih saja berlarian diatas treadmill. Laporan anak buahnya setelah kembalinya ia dari luar kota menjadi penyebab kemarahan Joe kali ini.
Baru juga beberapa hari hubungannya dengan nona muda kembali baik, kini begini lagi. batin Daren.
Joe mematikan alat treadmill itu. Melirik dengan tajam Daren disampingnya.
"Sudah kan? Pergilah!" Joe memandang Daren. Ia turun dari alat treadmill dan berjalan untuk duduk.
Joe mengelap peluh. Duduk congdong kedepan menumpu siku di lututnya.
"Mari saya antar pulang tuan." Daren mengikuti langkah Joe. Membungkuk sedikit agar suaranya terdengar.
"Aku akan tidur disini. Pulanglah." Joe berkata lemah. Ia sama sekali tak punya tenaga lagi.
"Apa yang harus saya katakan pada nona tuan?"
"Katakan padanya aku masih banyak urusan."
"Baik tuan. Tuan akan berhenti olahraga kan? Istirahat lah tuan. Aku akan menyiapkan makan malam untuk tuan."
"Aku tidak lapar. Aku bilang pulang sana!" Joe membentak keras. Sudah hilang kesabaran.
"Tuan belum makan dari tadi siang. Bagaimana anda tidak lapar?"
"Kenapa kau berisik sekali? Aku akan makan nanti, ok? Go away!"
__ADS_1
Daren tidak mau mengatakan apapun lagi. Joe sudah begitu kesal. Ia keluar dari ruangan Joe. Menutup pintu perlahan agar Joe tak terganggu.
Huh... Daren menghela nafas. Ia merogoh saku jasnya. Membuka kontak person untuk menelfon seseorang.
"Maaf tuan Justin. Saya menganggu. Tapi ini penting. Tuan Joe membutuhkanmu. Tenangkanlah dia."
***
Joe masih terduduk lesu di sofa itu. Ia tertawa kecut. Membayangkan sikapnya yang kekanakan. Sekarang ia tak ingin melihat wajah Shinta.
Joe tau betapa ia sangat mencintai istrinya itu. Tapi ia merasa egois kali ini. Banyak kekhawatiran yang ia rasakan. Joe berfikir, hanya ia yang mencintai. Shinta tak mencintainya seperti ia mencintai dia. Joe sedih. Dia pikir, Shinta sudah bisa melupakan Rendra. Selama ini, Joe berfikir Shinta sudah mencintainya sepenuh hati.
Mungkin aku terlalu memaksa dan memberi ia beban dengan anak yang ia kandung sekarang. Aku bodoh! Aku sangat menginginkannya. Aku mencintaimu Shinta. Sangat mencintai mu.
Cih! Kenapa aku melankolis begini? Joe tertawa kecut. Berdecih melihat dirinya yang sudah tidak terkendali.
Joe mengambil botol wine terbaik yang ia dapat dari salah satu rekan bisnisnya. Ia meneguk wine itu langsung dari botol.
"Kenapa kau ingin minum itu sendiri ha? Sudah mau mati?" Justin mendekat. Duduk disamping Joe.
"Kenapa kau kesini? Aku tidak mengundangmu!"
"Kalau aku mati bagaimana dengan kau? Mau ikut mati?" Joe tertawa aneh.
"Haha... Tidak akan. Aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku semudah itu."
"Cih! Memang kau punya tujuan?"
"Tujuan? Aku punya tujuan."
"Pergilah. Aku hanya ingin sendirian sekarang."
"Kau harus bersama teman saat kau sedih begini."
"Aku tidak sedih. Jangan salah sangka!"
"Aku mengenalmu Joe. Ingat? Kita tumbuh bersama."
"Berisik! Pergi sana!"
__ADS_1
"Istrimu sedang hamil. Tapi kau malah disini. Ada masalah dengannya?"
"Pergi!"
"Joe, jangan menyiksa diri seperti ini. Katakan saja. Memangnya laki-laki itu tidak boleh menangis?"
"Aku tidak secengeng itu ya. Pergilah!"
"Dasar keras kepala. Berhenti minum!"
"Justin, kau tidak akan mengerti masalahku. So, tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Aku hanya takut kau bunuh diri."
"Sialan! Tidak mungkin."
"Nanti anakmu tidak bisa melihat wajah bapaknya. Haha..."
"Sialan kau! Go away."
"Yakin menyuruhku pergi? Minumanmu masih banyak. Aku yakin kau tidak akan menghabiskan semuanya tuan muda Smith."
"Haha..." Joe tertawa. Namun lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.
Kacau sudah pikirannya hingga bisa mengubah pendiriannya untuk tidak minum wine lagi. Namun kali ini ia benar-benar ingin minum agar rasa cemburunya sedikit menghilang dalam benaknya.
Bahkan anak buahnya mengatakan percakapan mereka hanya sebatas permintaan maaf yang tidak bisa diterima oleh Rendra. Joe tak perlu berlebihan seperti itu.
Hanya saja, pertemuan mereka itu yang membuatnya emosi. Kenapa harus diam-diam? Tidakkah lebih baik minta ijinku?
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna
__ADS_1