
Selamat membaca
***
Setelah pemeriksaan usai, Shinta yakinkan dirinya untuk bertemu dengan Rendra. Ia masih punya hutang permintaan maaf darinya.
Sampai kapanpun rasa bersalah itu terus bergelayut dalam hatinya. Ia harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.
Tak ingin rasa itu terus menggerus hati dan pikirannya. Entah ini keputusan yang benar atau tidak ia harus melakukannya. Shinta menunggu didepan ruang kerja Rendra. Ia menunggu Rendra keluar untuk makan siang.
Untung hari ini, Joe sudah minta ijin padanya karna tidak bisa menemani ia periksa kandungan. Shinta tidak memberi tahu Joe agar tidak salah paham lagi. Shinta takut Joe salah paham. Marah mungkin masih bisa ia redakan. Tapi kalau tau langsung bisa jadi Joe akan sangat membencinya. Ini hanya permintaan maaf. Ia akan langsung pergi dan tidak akan menganggu Rendra lagi.
Shinta meyakinkan diri beberapa kali agar hatinya bisa kuat menatap Rendra yang pernah ia sakiti.
Shinta mendongak saat mendengar suara pintu itu dibuka.
"Mas, aku mau bicara. Sebentar saja." kata Shinta menghadang jalan Rendra. Rendra hanya diam terpaku. Ia terkejut melihat Shinta berdiri dihadapannya. Ia tak menyangka Shinta ada dihadapannya sekarang untuk menemuinya.
"Aku sibuk." Rendra bersiap pergi.
"Sebentar saja. Please." Shinta menepuk tangannya diatas dada. Wajahnya memelas.
"Ikut aku." Rendra berjalan diikuti Shinta. Mereka menuju kantin rumah sakit.
Shinta tak berniat memesan makanan. Setelah duduk, ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera mengatakan maksudnya.
"Mas, aku minta maaf. Membuatmu sangat kecewa." kata Shinta, menunduk malu. Ia tak berani menatap mata Rendra. Sama seperti saat ia ketakutan kala ketahuan Rendra waktu itu. Tahun dimana Rendra marah besar atas pernikahan Shinta dan Joe yang sudah berjalan disaat hubungannya dengan Rendra masih terjalin erat.
"Kenapa? Apa kau merasa bersalah sekarang?" sinis Rendra. Menyilangkan tangannya didada. Memperhatikan Shinta yang tertunduk. Sama sekali tidak berani memperlihatkan wajahnya dihadapannya.
Cih! Tidak berubah! batin Rendra.
"Mas, aku sadar meski aku tiadapun kau takkan bisa memaafkan aku."
__ADS_1
"Jangan bicara omong kosong."
"Mas Rendra, tolong maafkan aku. Aku tidak akan tenang kalau kau tidak memaafkan aku."
"Memangnya kau pikir aku dewa pemaaf?"
"Maafkan aku." bisik Shinta untuk kesekian kali. hanya ini yang terlintas dalam benaknya. minta maaf dan dimaafkan.
"Pergilah. Aku tidak ingin ada yang salah paham." Rendra memperhatikan sekitar. siapa tau ada orang-orang Joe yang berkeliaran disana.
"Baiklah. Semoga hidup mas lebih bahagia. Semoga mas Rendra mendapatkan seseorang yang bisa mencintai mas Rendra dengan tulus." Shinta menunduk hormat.
"Kau mengutukku? Tentu saja aku akan bahagia." sinis Rendra.
"Aku pamit ya mas." sepertinya perbincangan itu takkan menuju tujuan Shinta. ia bersiap untuk pergi.
"Katakan dengan benar kalau kau ingin maaf dariku." suara Rendra menghentikan langkah Shinta selanjutnya.
"Hah? Apa? Ak..ku minta maaf mas." terang Shinta.
"Kau yakin suamimu tidak akan marah padamu karna menemuiku diam-diam begini?" Rendra terus berkata dengan nada sinis.
"Mas Joe sedang diluar kota. Ada kerjaan." Shinta menghela nafas. sudah hilang kesabarannya menghadapi Rendra yang dingin seperti ini.
dia bukan Rendra. tapi es batu.
"Cih! Kau pikir suamimu itu idiot? Membiarkanmu begitu saja tanpa pengawasan?"
"Maksud mas Rendra apa?" Shinta mulai tidak suka perkataan Rendra.
"Tunggu saja sampai dia pulang dan apa yang akan dia lakukan setelah melihatmu."
"Mas Rendra, apa maksudmu?"
__ADS_1
"Jangan bodoh! Kau benar-benar pandai berakting ya."
Shinta terdiam. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya dibawah meja.
sesulit itu kah memaafkan aku? kejadiannya bahkan sudah berlalu. aku hanya ingin dimaafkan dan berhenti memikirkan kesalahanku dimasa lalu.
"Aku yakin setelah ini kau akan menangis. Menangisi kesalahanmu sudah memilih dia. Sudah percaya dengannya."
"Jangan katakan apapun yang buruk tentang mas Joe, mas. Dia suamiku."
"Ya benar. Tapi kau tak mengenal dia dengan baik."
"Kenapa kau jahat mas."
"Karna aku pernah dijahati."
"Tidak cukupkah aku minta maaf?"
"Tidak cukup. Mau sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkanmu."
"Baiklah. Terima kasih ya, sudah memberikan waktumu yang berharga untuk berbicara dengan ku. Semoga bahagia."
Tadinya aku ingin berakhir dengan senyuman. Tapi sepertinya akan susah untuk diwujudkan. Yang penting tujuanku sudah tercapai. aku sudah minta maaf. setidaknya beban ini akan berkurang dan aku bisa menatap masa depanku dengan mas Joe dengan lebih baik. aku yakin tidak mudah bagiku, karna Rendra adalah cinta pertama ku.
Shinta pulang dengan penuh air mata. Betapa sakitnya melihat berubahnya sikap dan sifat seseorang karna kejadian masa lalu. Tergoresnya luka itu takkan kering seiring waktu berlalu. Ia menyadari itu terjadi pada Rendra.
Maaf memang takkan cukup. tapi apa tidak keterlaluan kalau kau mengatakan hal buruk tentang suamiku? aku mencintainya sekarang.
***
terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
beri aku banyak semangat ya untuk Shinta dan Joe juga. huhuhu....
peluk cium DevaNurAna