
Selamat membaca
***
Joe masuk ke ruangan dengan senyum sempurna. Ia mendekat, duduk didepan mereka. Nana juga masuk dengan membawa minuman untuk walikota.
" Silahkan tuan dan nyonya. Katakanlah apa yang ingin tuan bicarakan. Santai saja." kata Joe duduk menyilangkan kakinya dengan angkuh. Ia mengangkat tangannya untuk menopang dagu. Menunggu walikota bercakap. Matanya menatap tajam. Senyumnya kini hilang. Diganti dengan wajah serius.
"Maaf sebelumnya tuan Joe, anak saya yang bernama Niko sudah enam bulan ini menjalani perawatan medis dan baru saja sembuh. Kini ia dalam masa pemulihan." jelas pak walikota itu serius. Ia nampak ragu-ragu.
Entah bagaimana ia menjelaskan duduk perkaranya. Melihat tatapan mata Joe saja ia sudah begidik. Walikota ini pernah dengar Joe seorang yang berdarah dingin. Siapapun bisa tinggal nama saja. Huh... Terdengar helaan nafas Sandi berat. Ia sebenarnya tak mau berurusan dengan Joe selain bisnis. Joe bisa saja menjatuhkannya saat ini juga. Apalagi bukti tidak jelas.
"Hmmm?" Joe masih dalam posisinya. Sama sekali tak bergeming. Ia sudah tau arah pembicaraan walikota itu. Namun ia tak ingin mendahului si empunya cerita. Ia ingin melihat bagaimana Sandi menjelaskan versinya.
"Anak saya berkata, yang melakukan ini adalah anak buah tuan Joe. Apa itu benar?"
"Ish papi. Tentu saja tuan Joe tidak akan mengaku." bisik istri walikota itu. Mendekatkan bibirnya di telinga sang suami. Namun masih bisa Joe dengar.
"Oh... begitu. Hotel tuan tidak dilengkapi CCTV? Tuan bisa memeriksa CCTV-nya kan." kata Joe santai dengan sedikit senyum.
"Saya sudah memeriksa CCTV. Namun tidak ada rekaman tentang penganiayaan anak saya."
"Terus bagaimana anda bisa mengatakan itu perbuatan anak buah saya? Saya bisa melaporkan balik lho." Suara yang datar dengan sorot mata tajam sudah mengintimidasi kedua orang didepan Joe.
glek
"Ah, apa sampai begitu? Kita kan berteman baik tuan Joe." Sandi mengakhiri kalimatnya dengan tawa riang.
"Ya, tentu saja. Saya sangat menghormati tuan Sandi." Sedikit basa-basi.
"Ah mungkin memang anak kami yang salah duga. Maafkan saya tuan."
Tangan ibu walikota itu meremas ujung baju suaminya. Seperti penolakan atas kelemahan suaminya pada Joe.
"Hmmm. Jadi tidak ada yang dibicarakan lagi ya? Apa nyonya ingin mengatakan sesuatu? Saya masih ada waktu sebelum penutupan acara saya." Joe menatap mimik tidak suka diwajah ibu walikota yang dari tadi memperhatikan dia. Sesekali terdengar suara berdecih.
"Eh oh... Em... Maaf tuan Joe. Tapi mana mungkin anak saya salah orang. Jelas-jelas anak saya melihat seragam orang-orang itu dengan tulisan SJ Group." jelas ibu walikota terbata. Ia terkejut akan mendapat pertanyaan dari Joe tiba-tiba.
"Kalau nyonya punya bukti, silahkan laporkan." senyum menyeringai Joe keluar, seakan kemenangan ada didepan mata.
"Ah tuan Joe, saya hanya mendengar dari anak saya. Saya yakin dia tidak mungkin berbohong." Ibu walikota masih bersikeras.
__ADS_1
Anaknya tak mungkin salah. Dia korban penganiayaan. Pasti Joe ada dibalik semua ini. Kalau saja bukti itu ada, sudah pasti Joe akan mendekam di penjara. Sial! Kenapa bisa CCTV itu tidak ada jejak sama sekali, batin istri walikota.
Kalau saja waktu itu tidak ada pesta meriah anak perempuannya pasti Niko tidak akan jadi seperti itu.
"Apa anak nyonya juga memberi tau kalau dia menganggu istri saya?"
"A-apa? Menganggu istri tuan? Apa mereka saling kenal? Saya rasa tidak." Tercengang seketika.
"Kalau tidak, ya sudah. Silahkan laporkan saja. Asal bukti jelas polisi bisa selidiki kan. Kalau tidak, jangan sampai saya akan melaporkan balik." Joe menyandarkan tubuhnya. Tersenyum puas. Mau main-main dengan ku? batinnya santai. Ia lalu berdecih.
"Begitu... Ah, baiklah. Maaf sudah salah menduga. Saya mohon maaf." kata Ibu walikota itu kehabisan kata-kata.
"Sa-saya juga minta maaf tuan Joe." kata Sandi, kemudian ia berdiri menjabat tangan Joe kemudian pamit undur diri.
***
Joe masih duduk dalam ruangan itu. Ia membatin kemungkinan yang akan terjadi. Bila walikota itu benar akan melaporkan dia pada pihak berwajib, bagaimana dengan Shinta. Kabar seperti itu akan membuat ia sangat sedih.
"Huh! Dasar walikota! Dia tidak akan bisa mengancam ku. Bukti apa yang ia bawa? Aku harus panggil Justin." gumamnya. Ia pun membuat panggilan untuk Justin agar masuk ke ruangan itu. Membahas tentang walikota.
Pintu dibuka, kemudian ditutup kasar. Justin dengan cepat berjalan menghampiri Joe. Joe yang melihat sangat tidak suka dengan kelakuan Justin. Sedang mabuk ya? Mau merusak pintu itu? Tidak punya sopan santun.
"Dasar bos sinting! Katanya suruh mengisi penutupan. Sekarang memanggil ku ke sini. Maumu apa sih? Bikin orang gila aja!" gerutu Justin sambil menjatuhkan tubuhnya di samping Joe.
"Auh! " rintih Justin. "Kau memang gila! Beri aku gaji lebih dong! Kalau kau terus menendang kakiku bisa-bisa aku cedera kaki. Bagaimana ketampanan ku diakui kalau kakiku cedera? Dasar!" Justin mengelus kakinya, merintih.
"Beraninya kau! Memangnya kau digaji untuk menggerutu pada bosmu? Hah? Kau yang gila!" Joe tak kalah kesal melihat sepupunya yang ngomel-ngomel tidak jelas.
"Kepalaku pusing. Kenapa punya bos begini sih. Di sini disana-Amerika- bosnya sama gilanya!" gerutu Justin lagi, ketus. Ia begitu dongkol dengan kelakuan Andrew dan Joe.
"Hei! Kau tak mau berhenti menggerutu padaku? Mau aku masukan kandang singa?"
"Terserah. kau sama saja dengan sisinga itu." gumam Justin kesal. Kandang singa berarti bekerja dibawah Andrew. Mana bisa ia hidup tenang. Kalau ia bisa lari, ia akan lari mencari pekerjaannya sendiri. Tapi balas budi tidak akan cukup begini. Ah, dasar!
"Apa? Katakan apa yang harus aku lakukan lagi? Setelah ini aku mau liburan sebulan ya? Aku minta cuti." terus Justin menepuk bahu Joe keras.
"Walikota mengancam akan melaporkanku jika ada bukti penganiayaan anaknya. Bereskan! Aku tidak mau ada bukti apapun."
"Aku kan sudah bersihkan CCTVnya. Sekarang apalagi?" Mau menyuruhku merobohkan kantor walikota? Dasar bos gila! gerutu Justin dalam hati.
"Apa itu cukup? Bereskan sampai akar."
__ADS_1
"Kau menyuruhku membunuh walikota?" kata Justin menaikkan alisnya. apa sampai begitu level kegilaan bosnya. Ini bukan negaranya. Sqeenaknya mau melenyapkan orang.
"Hei! Jaga bicaramu! Aku hanya menyuruhmu bersihkan semua bukti. Kau tuli?"
"Tenang saja.... Sekarang aku dapat cuti?" Justin mengerling. Ia mencoba menggoda.
"Tidak." ketus Joe.
"Kau curang! Berikan aku cuti!"
"Keluarlah! Honeyku akan datang. Dia tidak suka denganmu!" Joe mengibaskan tangannya. Mengusir.
"Huuuuhhh. Menyebalkan! Jangan menyesal ya mengusirku! Dulu kau tak seperti ini dengan Carol. Kenapa sekarang kau berubah sejak menikah dengan Shinta." keluh Justin.
"Kenapa?"
"Pernahkah dia bilang cinta padamu? Begini, kalian menikah kan atas paksaan. Sebelumnya juga ia punya laki-laki yang ia sukai. Mungkin saja saat ini, ia masih memikirkan laki-laki itu. Kau jangan sampai terluka. Sebaiknya kau pastikan dulu perasaannya padamu." Justin berspekulasi. Sepupunya mungkin sedang dalam sindrom cinta buta.
"Apa itu penting? Sekarang dia mengandung anakku."
"Kau memaksanya. Dia masih muda bro. Dia pasti menyesal menikah denganmu!"
"Tidak! Dia bilang hanya aku yang dia punya."
"I see. Tapi benar dia cinta pada mu?"
"Shit! Diam dan keluar! Lakukan apa yang ku perintahkan!" Joe keras. Tidak suka apa yang dikatakan Justin. Tapi kata-kata itu mampu mengiris hati Joe. Mengoyak sedikit batinnya. Apa benar begitu?
"Ish! Aku cuti seminggu. Mau ke Maldives. Oke? Bye!"
Justin ngeloyor pergi tanpa ingin mendengar jawaban dari Joe. Memang begitulah mereka saudara.
"Kalau aku bilang tidak ya tidak! Ku kirim kau pulang saja!" teriak Joe. Seenaknya ingin cuti! Ia harus selesaikan pekerjaannya dulu.
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna