
Selamat membaca
***
Didalam kamar mandi, Joe tanpa sadar menitikkan air mata. Melihat pantulan wajahnya dicermin. Sungguh menyedihkan. Wajah kusut itu seperti bukan dirinya.
Sayup ia dengar tangis Shinta. Tanpa sadar juga ia menyesal sudah mengatakan yang tidak seharusnya ia katakan pada Shinta.
Tubuh Joe bergetar. Lemas tersungkur dilantai. Tak tahan dengan perasaan hati yang penuh kecemburuan dan penyesalan.
Ini jauh dari yang dirasakan oleh Shinta. Shinta begitu terpukul karena akan kehilangan. Rasa cintanya pada Joe dan anak yang dikandungnya.
Setengah jam berlalu, Joe keluar dari kamar mandi. Melihat istrinya yang ia cintai bersimpuh dilantai dibawah ranjang. Menunduk menangis tersedu.
Joe mendekat. Ikut duduk didepan Shinta. Merengkuh tubuh Shinta. Mencium puncak Shinta.
"Maafkan aku. Aku khilaf. Aku tidak bermaksud akan melakukannya. Aku kelepasan. Aku..." Tak sanggup Joe meneruskan kalimatnya. Shinta makin menangis lagi. "Maaf..."
Hiks... Hanya tangis dari keduanya yang tumpah. Joe mengangkat tubuh Shinta. Meletakkan tubuh itu di ranjang agar istirahat dengan nyaman. Ini sudah hampir pagi dan ia tidak bisa istirahat sama sekali karna menunggunya.
Kasihan istriku, batin Joe. Rasa bersalah pun menguasai hatinya. Tak seharusnya ia mengatakan yang akan menyakiti hati istrinya.
"Mas, jangan tinggalkan aku." kata Shinta, suaranya serak karna menangis.
"Tenanglah. Aku disini." Joe kemudian ikut berbaring di samping Shinta. Memeluk istrinya.
Esok paginya. Joe bangun. Kepalanya pusing karna terlalu banyak minum.
"Auh... Semalam aku ngomong apa ya? Sialan, aku lupa. Auh... Pusing banget." Joe meringis memegangi kepalanya.
Dari arah kamar mandi, Shinta berjalan mendekati Joe yang masih memegangi kepalanya.
"Sudah bangun mas? Pusing ya?"
__ADS_1
"Semalam aku.... Ah, tidak. Aku tidak ingat. Maaf..." Joe memegangi kepalanya. Memijat pelan.
"Nggak apa-apa mas. Aku ambilkan air madu dulu ya. Sebentar."
Joe memegang tangan Shinta, menghentikan langkah Shinta.
"Shinta, aku berencana akan membawamu ke Amerika dan tinggal di sana. Bersama anak kita nanti. Kamu mau kan? Pikirkan lah. Aku tidak akan memaksamu." kata Joe tiba-tiba. Mengagetkan Shinta tiba - tiba sekali punya rencana begitu. Semalam ia meracau akan memisahkan Shinta dan anaknya. Sekarang akan mengajak tinggal di Amerika. Entah yang mana yang harus Shinta percaya.
" Aku akan ikut mas. Kemana pun mas pergi." kata Shinta dengan lantang. Ia memang sudah memperkirakan ini akan terjadi. Sudah seharusnya ia akan berada disisi Joe dimanapun Joe berada, meski ia takkan suka tinggal jauh dari kota kelahirannya.
" Hidupku sudah menjadi milikmu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya aku, kamu dan anak kita." batin Shinta dalam hati.
5 tahun kemudian...
Shinta membuka pintu kamarnya dengan penuh percaya diri. Melangkah menuruni anak tangga satu persatu dengan anggunnya. Menapakkan kakinya satu persatu dianak tangga yang berlapis marmer itu. Rumah ini di desain dengan gaya klasik. Indah sekali. Bak seperti istana raja. Sampai di anak tangga terakhir, Shinta berhenti sejenak.
Ia tersenyum manis kala melihat buah hatinya yang sudah rapi akan berangkat sekolah. Sedang duduk dengan patuh dengan sarapan dihadapannya bersama pengasuhnya yang menyuapi dia.
"Good morning, mom." sapanya dengan suara cadel lucunya. Tanpa malu-malu melambaikan tangan mungilnya memanggil mamanya agar mendekat.
"Hihi... Sorry mommy." kata anak umur lima tahun itu dengan tawa cekikikan. Membuat Shinta tersenyum dan bangga. Anaknya sangat menggemaskan kalau tertawa kecil seperti itu.
"Ok, mama maafin deh. Sudah siap berangkat sekolah ya." Shinta membenarkan posisi dasi anaknya yang sudah menghabiskan sarapan paginya. Kemudian menoleh kesana kemari mencari keberadaan Joe.
"Em, mama belom lihat Daddy? Mana Daddy Zoe?" tanya Shinta menggoda Zoe yang juga tidak tau keberadaan ayahnya itu.
"I don't know mommy." Sambil mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah siap-siap dimobil dulu ya. Mommy mau cari Daddy dulu."
"Ok mommy."
Shinta menemukan suaminya sedang asyik menggunakan alat angkat berat ditangannya. Di ruang olahraga pribadinya. Peluh sudah membanjiri tubuh berotot Joe.
__ADS_1
Shinta menyilangkan tangan sambil sender di dinding. Kebiasaan suaminya itu tidak berubah. Selalu lupa waktu kalau sudah di tempat favoritnya.
Shinta selalu kagum melihat tubuh atletis suaminya itu. Selalu membuat jantungnya berdebar. Keren sekali katanya.
" Sejak kapan kau disitu Honey? Kemarilah." kata Joe saat merasakan keberadaan istrinya. Yang memperhatikan ia dari tadi. Ia letakkan barbel itu.
"Anakmu mau berangkat sekolah. Kamu nggak ingin mengantarnya?" kata Shinta sambil melangkah mendekati Joe.
"Ah, aku lupa. Dimana jagoan kecilku?"
"Sudah siap didepan."
Sambil tersenyum Joe mendekati istrinya yang cemberut itu. Joe sudah hafal betul kalau Shinta sudah ngambek begitu berarti ia harus memberinya kecupan pagi.
Cup!
"Kau selalu cantik." rayu Joe. kecupan itu mendarat dengan mulus dikening istrinya dengan rayuan maut sang suami.
"Apaan sih? Sana Zoe mau pamitan." Shinta tersipu. Meski kesal juga.
"Ciuman pagi hari mana?" goda Joe lagi ingin balasan atas kerjanya menyenangkan istrinya.
"Nggak ada." Sambil tertawa Shinta menghindari tatapan Joe dan berlalu keluar.
"Come on honey!" Ck! Istriku...
***
Terimakasih sudah membaca
nantikan terus kisah Joe dan Shinta ya
maaf lama up... hehe
__ADS_1
semoga terhibur...
peluk cium DevaNurAna