
Selamat membaca^_^
***
Shinta berdiri didepan ruang kerja Joe. Ia nampak ragu-ragu ingin mengetuk pintu kayu itu. Rasanya gugup dan takut menghantui Shinta. Ya, selama ini Joe selalu saja tidak pernah lembut bicara dengan Shinta.
Bagaimana kalau Joe akan marah ksrna Shinta akan minta ijin untuk pergi karya wisata. Pastinya nada tingginya akan keluar dengan kata - kata sarkas yang menjengkelkan.
Shinta pun akhirnya memberanikan diri. Tekadnya sudah kuat. Ia mengetuk pintu tempat kerja Joe. Tak lama kemudian, Andi membukakan pintu. Mempersilahkan Shinta masuk.
Joe duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya. Menatap Shinta yang masih mematung di dekat pintu. Andi meminta dengan sopan agar Shinta mau duduk.
Dengan ragu, Shinta mendekati Joe. Shinta tak berani duduk didekat Joe lagi. Sumpah! Pikirannya masih terbayang ciumam panas waktu itu. Shinta memilih tetap berdiri didepan Joe.
Padahal sudah lama tapi aku masih ingat dengan jelas! Sial! Shinta.
Joe sudah menyatukan alisnya. Menunggu Shinta tak juga mengatakan apapun. Joe pun berdiri. Mendekati Shinta.
Deg. Jantung Shinta merespon. Degupnya sudah tidak karuan sekarang.
"Kalau tak ada yang ingin dibicarakan sebaiknya keluar! Kau pikir aku tidak punya kerjaan?" suara Joe nampak kesal seperti biasa.
Sudah ku duga dia akan kesal padaku.
"Aku cuma mau minta ijin untuk ikut karya wisata sekolah Mas." jelas Shinta. Dia gugup sekali bila terlalu dekat begini dengan Joe. Joe mengernyitkan dahi.
"Berapa lama?" Joe berdiri tepat didepan Shinta.
"Lima hari Mas. Dipulau pasir putih Mas." Shinta kikuk.
"Oke. Whatever." ketus Joe seperti benar - benar tak peduli. Joe pun duduk kembali di sofanya. Mengambil beberapa berkas dan fokus pada tulisan - tulisan dikertas itu.
__ADS_1
Shinta pun minta diri untuk keluar dari ruang kerja itu. Lama - lama disana membuat jantung Shinta naik turun.
"Tunggu," kata Joe saat Shinta hampir keluar dari pintu itu. Andi memegang handle pintu akan membukakan pintu untuk nona mudanya.
Shinta berbalik. Mendekat karna Joe melambaikan tangannya. Shinta hanya diam. Menunggu Joe mengatakan sesuatu.
"Ini untukmu." kata Joe sambil menyerahkan kartu tanpa batas limit pada Shinta. Shinta menerima kartu itu.
"Gunakan sesukamu. Aku ijinkan."
Shinta hanya mengangguk pelan. Kemudian ia keluar dari ruang kerja Joe dengan lega.
Syukurlah. Aku sudah keluar.
Shinta mendekap dadanya dengan kedua tangannya. Kemudian menghembuskan nafas kasar. Mencari ketenangan.
***
Terlihat dari CV itu, orang - orang yang mendaftar memang banyak dari kalangan menengah ke atas. Kebanyakan yang tinggal di apartemen dekat tempat usaha Joe.
Setelah berkutat lama, Joe menghentikan kerjaannya. Lelah. Ia sandarkan punggungnya dibadan sofa. Memberikan suara pada tulang belakangnya.
"Kenapa Anda mengijinkan Nona untuk pergi Tuan?" tanya Andi.
"Biarlah dia senang - senang. Dia juga butuh refreshing dengan teman - temannya kan." jelas Joe.
"Apa Anda tak ingin refreshing juga Tuan? Sepertinya Anda juga butuh menyenangkan diri." Andi tersenyum penuh arti.
"Apa maksudmu?" Joe kesal. Sepertinya Andi punya maksud lain dari kata - katanya.
"Saya hanya memberi saran Tuan." jawab Andi datar.
__ADS_1
"Senyumanmu itu yang aku curigai. Dasar!" Joe mencibir.
"Bagaimana kalau kita juga kesana Tuan?"
"Tidak. Kau tak punya kerjaan ya? Mau menguntit dia liburan juga?" Joe ketus. Sudah pasti Andi tak bergeming sedikitpun.
"Kalau disana Nona kenapa - kenapa bagaimana? Tuan kan harus menjaganya."
"Apaan kau ini? Memangnya dia akan kenapa? Dia kan sudah besar!" Joe memejamkan mata. Dia lelah sekali hari ini. Memang benar kata Andi. Dia juga butuh liburan. Tapi bukan berarti akan mengganggu Shinta.
"Nona kan penakut Tuan. Tidak bisa berenang juga."
"Jangan bicara lagi! Ku potong lidahmu!" Joe kesal.
Andi terus saja mengoceh tidak jelas. Mengada - ngada. Joe tau rencana Andi untuk mengawasi Shinta. Tapi Joe ingin Shinta sedikit merasakan kebebasannya.
Masa sekolah seperti ini takkan terulang kedua kali. Biarlah Shinta menikmati hidupnya.
Shinta pasti tertekan bersamaku. Lagipula takkan terjadi apapun padanya.
Joe menyakinkan diri. Kemudian mendesah kasar. Menenangkan pikirannya.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^
__ADS_1