
Selamat membaca ^_^
***
Pintu diketuk dengan kerasnya. Tamu tak punya adap. Mengetuk pintu tanpa henti. Seperti penagih hutang yang marah. Kesal Mbak Asih. Ia tergopoh keluar dari dapur menuju pintu utama.
Mbak Asih membuka pintu. Mempersilahkan tamu itu masuk keruang tamu. Pemuda yang tampan. Mbak Asih sungguh kagum.
"Dimana Shinta?" tanya pemuda itu. Sorot matanya mengintimidasi. Terlihat sekaki bahwa pemuda ini sedang menahan amarahnya.
"Maaf Tuan. Tunggu sebentar. Saya panggilkan Nona dulu Tuan. Silahkan duduk." kata Mbak Asih sopan. Kemudian Mbak Asih naik keatas memanggil nona mudanya.
"Mas Rendra? Apa kabar?" sapa Shinta penuh kegembiraan. Ia sungguh senang melihat Rendra ada dihadapannya sekarang.
Shinta terkesima. Rendra makin tampan saja. Gaya berbusananya sudah jauh berubah. Sudah modis bak model.
"Tidak baik." kata Rendra. Menatap Shinta penuh kerinduan. Tapi alih - alih meraih untuk memeluk meluapkan rindu, Rendra semakin emosi mengingat kata - kata Kenzo.
"Kenapa Mas?" tanya Shinta. Shinta lemas. Pasti Kenzo sudah mengatakan semuanya. Wajah Shinta berubah pias. Ia duduk didepan Rendra. Menggenggam rok selututnya kuat. Ia benar - benar ketakutan.
"Jujur saja padaku, siapa Jonathan?" tanya Rendra penuh selidik. Ingin jawaban jujur dari Shinta. Namun hatinya tak sanggup bila semua itu benar.
__ADS_1
"Ak-ku minta maaf mas. Dia suamiku." kata Shinta. Ia menunduk takut tak sanggup menatap Rendra didepannya.
"Kenapa kau bohongi aku Shin?" Rendra sendu. Airmata kekecewaan itu menganak dipelupuk matanya. Akan tumpah. Ia menggigit bibir bawahnya kuat.
"Mas Rendra dengerin penjelasan aku." Shinta bergetar.
"Katakan apa alasanmu sampai kau setega ini padaku?" Rendra mencoba menahan emosinya. Tubuhnya bergetar. Jadi Kenzo benar!
"Aku dijodohin mas. Aku nggak ada perasaan apa - apa sama Mas Jonathan Mas. Sungguh!" kata Shinta jujur.
"Sejak kapan?"
Glek. "Ke-kelas satu mas." bisik Shinta. Ia memperkuat genggamannya.
"Aku minta maaf Mas. Aku sungguh tak sanggup cerita semuanya Mas." Air mata Shinta jatuh. Membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar sesenggukan.
"Sekarang kau puas mempermainkan aku?" teriak Rendra. Air matanya juga tak sanggup ia tahan. Menetes perlahan tanpa sadar.
"Maaf Mas. Aku sungguh tak ingin mengecewakanmu. Apalagi menyakitimu. Aku akan berpisah sama Mas Jonathan cepat atau lambat. Sampai saat itu aku ingin bersamamu." jelas Shinta.
"Aku tak mau menjadi orang ketiga dari hubungan kalian. Kalian bahkan sah dimata agama dan hukum." Rendra mulai menguasai diri. Ia bersiap mengikhlaskan Shinta. Meski hatinya benar - benar hancur dibuatnya.
__ADS_1
"Tapi aku nggak cinta sama dia mas."
"Terlepas dari kau cinta atau tidak dengannya, dialah pemilik atas jiwa dan ragamu seutuhnya. Terima kasih sudah menorehkan luka ini Shin. Aku sungguh kecewa padamu. Sebaiknya kita putus hubungan kita sampai disini saja." kata Rendra. Kemudian ia berdiri. Tak ada lagi yang perlu ia dengar. Semua sudah jelas baginya.
"Mas Rendra, aku cinta sama kamu Mas." bisik Shinta. Ia sungguh tak kuat menahannya lagi. Rendra sangat berharga bagi Shinta. Shinta ingin meraih Rendra. Memeluk tubuh itu. Tak ingin melepaskan Rendra.
"Lupakan aku. Cintailah suamimu. Dia lebih berhak kau cintai dari pada aku."
Rendra keluar dari rumah Shinta dengan segunung kekecewaan. Hatinya berkeping hingga tak sanggup ia satukan.
Begitu pula Shinta. Tubuhnya lemas seketika. Ia jatuhkan tubuhnya di sofa. Memijat kepalanya yang teramat pusing.
Inilah akhir cintaku dengan Mas Rendra? Berakhir dengan tragisnya. Shinta.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna^_^