Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Ancaman Andi


__ADS_3

Selamat membaca ^_^


***


Kini hari Shinta kembali sedia kala. Joe sudah kembali mengantarnya ke sekolah. Suara ketus dan sinis selalu menghiasi hari Shinta lagi. Ya, begitulah Joe kalau didekat Shinta. Shinta sudah terbiasa dengan sifat Joe yang kadang diluar dugaan.


Saat ini, dalam mobil Shinta membaca kembali buku pelajarannya yang hari ini akan jadi mata pelajaran yang diujikan.


Shinta tampak serius sekali membaca. Tak sadar bahwa Joe dari tadi melirik sesekali. Memperhatikan wajah Shinta.


Apa aku sudah tidak waras? Rasanya tak pantas aku punya pikiran ini, batin Joe


Joe kembali pada pandangannya kedepan. Tak ingin apapun mengalihkan konsentrasinya. Tapi sungguh ini diluar kebiasaannya. Ia kembali melirik Shinta dengan ekor matanya. Huuuuhhh! Sial apa yang aku pikirkan? Bocah ini seperti menarikku? Joe mengusap wajahnya kasar. Ingin menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang bergentayangan dihatinya.


Joe menghentikan laju mobil tepat didepan gerbang sekolah. Joe melihat ada seseorang yang tersenyum sumringah di gerbang itu. Seperti menanti seseorang.


"Kenapa dia berdiri disana?" tanya Joe.


"Mana aku tau," jawab Shinta acuh. Shinta turun dari mobil. Menghampiri Rendra. Kemudian mereka masuk berjalan beriringan.


Joe memperhatikan dari balik kaca mobil. Menatap tajam.


Katanya tidak tau. Tapi malah menyapa dia? Cih bocah ini! Sepertinya mereka dekat? Apa ada sesuatu? batin Joe. Dia menggeram amarah.


***


Joe bersandar pada kursi kebesarannya diruang kerjanya. Andi juga disana. Berada tepat didepan Joe. Memberitahukan persiapan tempat usaha ini sudah rampung.


Ahli gizi dan chef terbaik pun sudah siap bekerja. Selebaran, baliho, pamvlet juga sudah siap disebar sebagai sarana promosi. Tak lupa media sosial juga turut andil.


"Apa yang Anda pikirkan Tuan?" tanya Andi saat melihat Joe mendesah kasar.

__ADS_1


"Andi, apa perlu aku mengajak Shinta juga untuk pembukaan tempat ini?" tanya Joe.


"Kenapa tidak. Nona kan istri tuan."


"Baiklah. Bagaimana dengan Paman dan Bibi Shinta?"


"Perusahaan semakin hari semakin terpuruk Tuan. Saya menunggu Paman dan Bibi Shinta meminta bantuan Tuan."


"Kalau mereka meminta bantuan yang lain bagaimana? Semuanya akan kacau Andi. Kenapa kau tenang saja?" Joe marah. Merasa Andi kurang sigap menghadapi masalah perusahaan Paman dan Bibi Shinta itu.


"Menurut Anda, saya punya otak berapa Tuan Muda?" tanya Andi datar. Ia sama sekali tak takut wajah Joe yang berubah mengancam.


"Kurang aj*r!" Brak! Joe mengebrak meja. "Keluar!" teriaknya.


"Bagaimana kalau Saya tidak pergi?"


"Jangan menantangku Andi! Pergi!"


"Cih! Kau benar - benar ya! Menyebalkan!"


Joe kalah. Andi takkan pergi dari hadapannya. Wajahnya saja tak bergeser sedikitpun apalagi tubuhnya.


Dia itu seperti manusia titisan iblis! Joe menatap mengejek.


"Untuk apa Anda punya banyak usaha hanya untuk wanita yang hanya memanfaatkan Anda tuan. Saya merasa Anda sangat bodoh." kata Andi melancarkan serangan.


"Apa?! Kau mengataiku bodoh? Kerjamu itu yang tidak becus! Kalau sampai perusahaan Paman dan Bibinya Shinta jatuh ketangan orang lain, bisa habis kau didepan Daddy!" suara Joe masih meninggi.


"Wah, Anda akan sangat bahagia bila itu terjadi. Benarkan Tuan Muda?" Andi tergelak.


"Kau benar. Aku menantikan itu!" Joe tertawa.

__ADS_1


"Saya akan katakan pada Tuan Besar kalau Anda mengirim banyak uang untuk wanita Anda di Amerika. Saya juga sangat menantikan apa yang akan Tuan Besar lakukan." Andi menebar ancaman.


Joe terpengarah. Bagaimana Andi bisa tau. Huh! Aku lupa dia itu bukan manusia biasa! Si penguntit gila! Joe.


"Jangan bahas Carol! Pikirkan saja perusahaan Paman dan Bibi Shinta dan usaha GYM ini!" Joe setengah berteriak.


"Anda benar - benar dibutakan oleh cinta. Ck!" Andi berdecak.


"Kau ingin mati ya?!" Joe benar - benar hilang kesabaran. Ia berdiri menendang kursinya kebelakang. Kemudian menarik jas Andi mendekatkan ke wajahnya.


"Aku akan membunuhmu kalau kau berani menguntit hidupnya lagi!" Joe membalas ancaman.


Ck! "Silahkan saja Tuan." Andi tergelak. Tuan mudanya sama sekali bukan ancaman.


"Tunggu saja kabar kematian Carol kalau Anda berani membunuh Saya," Andi menyeringai.


"Apa? Kau gila Andi!" teriak Joe. Joe membanting tubuhnya dikursinya kembali. Ancaman Andi membuatnya terkejut. Kekasihnya dalam bahaya. Joe sangat khawatir.


"Jangan lakukan apapun Andi. Aku mohon," bisik Joe sendu.


Ck! Bodoh! Andi


***


Terima kasih dah baca ya ^_^


Aku tunggu like komen tip dan vote ya


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya


Peluk cium DevaNurAna^_^

__ADS_1


__ADS_2