
Selamat membaca
***
Hari ini tepat hari universary pernikahan Shinta dan Joe yang ke empat. Sejak dari tadi pagi, Shinta sibuk memasak untuk merayakan di rumah mereka.
Ia memasak masakan kesukaan Joe. Menu khas Indonesia. Shinta tau betul bahwa Joe menyukai masakannya.
Shinta tampak berpeluh menyiapkan segalanya. Mbak Asih yang membantunya juga tak kalah sibuk.
"Non Shinta istirahat saja dulu. Biar saya selesaikan non masaknya." kata mbak Asih khawatir kalau nonanya kelelahan.
"Nanggung Mbak. Tinggal bentar kok."
"Waduh non, jangan sampe kecapekan. Nanti non Shinta sakit lho."
"Tidak mbak. Tenang saja. Kelelahan sedikit tidak akan apa-apa kok. Lagian ini kan hari penting untukku."
"Non Shinta senang sekali ya."
"Tentu saja."
Shinta meneruskan memasak. Mbak Asih menyiapkan minuman. Menata meja makan dengan bunga - bunga. Menaruh kue ulangtahun dan memasang lilin. Shinta juga menyiapkan kado untuk ulangtahun pernikahan kali ini.
Semua sudah siap. Tinggal menunggu Joe pulang.
"Pak Daren, apa mas Joe sudah dijalan untuk pulang?"
"Sudah nona."
"Baiklah. Terima kasih sudah membatalkan jadwal mas Joe malam ini untukku."
"Sama-sama nona."
Shinta meletakkan telfon genggamnya. Menunggu kedatangan Joe. Ia tersenyum manis karena dengan acara seperti ini ia berharap Joe bisa melupakan kejadian waktu itu.
Shinta melangkah dengan ceria untuk mempersiapkan diri. Ia berdandan tipis dan mengenakan dres cantik.
Semoga mas Joe suka dengan kejutan ini. Doa Shinta dalam hati.
"Mas, sudah pulang." sapa Shinta mendekati Joe. Meraih lengan Joe sambil bergelayut manja.
"Ya." jawab Joe. Suaranya nampak lelah. Cup! Kecupan hangat itu mendarat sempurna di kening Shinta.
Shinta tersenyum manis, wajahnya memerah karna Joe sudah kembali manis kepadanya. Senyum hangat itu.
__ADS_1
"Aku siapin air hangat ya. Setelah mandi terus makan malam ya."
"Baiklah honey. Aku mandi dulu ya."
***
"Heuhhh... Mas, aku nggak nyaman." Shinta mengeluh. Tubuhnya basah terkena air shower. Joe belum menyelesaikan ritualnya. Namun Shinta sudah tidak nyaman melakukan itu di kamar mandi. Joe memeluk erat. Tak ingin Shinta pergi sedikit pun.
"Mas, jangan disini."
Joe mengajak Shinta keluar. Membaringkan ia di ranjang. Meneruskan aktivitasnya yang sempat terhenti.
"Heuhhhh... Cup." Shinta kehabisan nafas. Joe tak memberi jeda sedikitpun. Joe memberi tanda cinta banyak sekali. Beberapa kali Shinta mengeluhkan itu.
"Mas..." panggilnya. Namun Joe tak mau berhenti. Masih di tempat favoritnya.
Shinta mendorong tubuh Joe agar berhenti karna ia mulai kesakitan dan tidak nyaman.
"Kenapa honey?"
"Pelan - pelan." bisik Shinta. Joe tersenyum. Ia lanjutkan dengan pelan. Seperti sudah lama. Dikamar itu sudah beberapa kali Shinta berkeluh. Joe menggila.
"Lain kali aku nggak mau." protes Shinta.
"Akan aku paksa. Haha..." tawa puas Joe menggelegar.
"Terima kasih ya honey." Cup.
***
Joe terkesima. Shinta memang punya niat baik. Dimeja makan sudah penuh dengan makanan kesukaan Joe. Termasuk kue tart disana dengan banyak lilin.
"Apa kau yang menyiapkan ini?" tanya Joe berbinar-binar.
"Yap! Nggak terasa ya mas udah empat tahun kita nikah."
"Kenapa?"
"Menurutku itu pencapaian yang luar biasa. Soalnya awalnya kita kan nggak saling kenal dan sekarang sudah empat tahun kita jalani pernikahan ini. Menurut mas bagaimana?"
"Ya sama honey. Nggak menyangka bisa sampai sini." Joe mengulas senyum. Mengusap rambut panjang Shinta.
"Hehe... Beberapa bulan lagi anak kita akan lahir. Deg-degan deh mas."
"Oh ya? Semoga lancar." Joe beralih memperhatikan perut Shinta yang kian membesar.
__ADS_1
"Mas, nemenin aku lahiran kan nanti?"
"Tentu saja."
"Makasih mas. Oh ya aku punya sesuatu buat mas." Shinta memberikan sekotak kado yang sudah ia siapkan untuk Joe.
"Apa perlu kado segala? Aku bukan anak TK honey"
"Ish! Kan nggak harus anak TK juga kan yang dapat hadiah. Ini untukmu mas."
"Yeah... Makasih ya. Tapi maaf aku nggak siapin apa-apa soalnya aku sibuk sampai lupa hari ini." Joe merasa menyesal. Kalau tau ini hari pernikahan ia akan siapkan banyak hadiah. Daren juga tidak memberi tau karna ia bilang ada kejutan dari Shinta, dan Daren tidak tau itu apa. Terpaksa Joe tak membawa apapun.
"Nggak apa-apa kok mas. Mas suka nggak kadonya?"
"Suka. Thanks. Apapun darimu pasti aku suka."
Shinta terpaku dengan wajah Joe yang benar - benar kembali.
Aku sayang kamu mas.
"Hei, aku suka kadonya honey. Kenapa diam saja?"
"Oh... Ya mas."
Joe meraih tubuh Shinta. Memeluk. Shinta membulatkan matanya. Kenapa?
"Terima kasih sudah memberiku buah hati. Aku mencintaimu. Sangat."
"Ya mas. Aku juga mencintaimu."
"Kapan pemeriksaan kandungan lagi?"
"Besok mas. Kenapa mas?"
"Sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Maaf. Aku harus ke luar kota karena ada pertemuan bisnis disana."
"Oh... Ya sudah apa boleh buat. Tidak apa-apa mas. Semoga berjalan dengan lancar ya mas. Cepet pulang."
"I love you."
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna