
Selamat membaca^_^
***
Dalam ruang kerja itu. Joe duduk dengan menyilang kan kaki sambil menopang dagunya. Mendengar setiap penjelasan Daddy nya. Tentang kedatangan Daddy kesini. Dan seterusnya hidup Joe. Joe hanya menjawab sekenanya. Sama sekali tidak bergairah untuk antusias. membuat Daddynya tak melanjutkan kata-katanya.
"What happen Joe?" tanya Andrew. Melirik wajah anaknya yang ditekuk itu.
"Kenapa Daddy mengajak Andi pulang? Aku suka dia disisiku." kata Joe sambil melirik tubuh Andi yang sedang duduk dihadapannya. Kau pasti merasa ku butuhkan. Ya kau menang. Tanpamu aku takkan sanggup menjalankan semua perintah Daddy ku.
"Kau suka dengannya? Haha... Kau lucu sekali Joe. Padahal Daddy tau kau selalu ingin mengenyahkannya." gelak itu terdengar keras. Bahkan memekak ditelinga Joe. Wajah Joe memerah. Tak dipungkiri bahwa dia sudah merasa cocok bersama Andi.
"Aku suka kerjanya Dad."
"Daddy juga suka kerjanya. Tanpa Andi di Amerika, Daddy juga kewalahan. Berapa banyak sekretaris yang Daddy tunjuk untuk menggantikan dia? Semuanya tidak becus!"
"Seriusly? But I want him here Dad. Don't bring him go away."
"No. Daddy perlu dia. Bagaimana dengan orang yang direkomendasikan olehnya? Siapa namanya?" Andrew melirik Andi. Pertanyaan itu tertuju padanya.
"Daren, Tuan. Dia penanggung jawab tempat GYM saat ini."
"Nah bagaimana Joe?"
"Tidak! Dia bisa menyaingi ketampanan ku!"
"Haha... Coba lihat CV nya Andi." Andrew menerima berkas dari Andi. Tentang CV Daren. Masih muda. Umurnya tidak beda jauh dari Joe. Parasnya lumayan. Wajah indo. Kulit Kuning Langsat namun bersih. Otot yang lumayan kekar dan postur proposional. Dilihat dari tinggi dan berat badan Daren memang tampak menawan juga.
"Tidak mau! Keep Andi for me Dad." Joe mulai memohon.
__ADS_1
Sedang Andi hanya tersenyum simpul melihat tuan muda nya gusar akan kehilangan dirinya.
"No. Sudah hentikan. Andi akan tetap ikut denganku pulang. Selanjutnya pekerjaannya akan diurus Daren. Kau sudah menghubungi dia?"
"Sudah Tuan."
"Arghhh! Andi katakan sesuatu." Joe gusar.
"Apa tuan muda?"
"Terserah yang penting kau disini bersamaku."
Gelak terdengar lagi. Kini Andi dan Andrew sangat terhibur saling tatap melihat kelucuan Joe ini.
"Kalian tidak mengerti aku, ayolah Andi. Aku sudah baik padamu. Jangan hianati aku."
"Maaf tuan muda. Pada awalnya saya harus kembali. Atau Anda juga ingin kembali bersama saya?"
"Joe, bagaimana hubungan mu dengan Darling?"
"Not bad."
"Apa nya yang tidak buruk? Sangat buruk!" Lirih Andi
"Hei! Sudah membaik bodoh!"
"Hanya tidak berjalan lancar menurut saya."
"Apa?! Tidak! Dad dia bohong. Aku dan Shinta membaik akhir - akhir ini." Joe setengah memohon. Sorot mata Joe tajam mengintimidasi Andi. Jangan mengatakan hal - hal konyol Andi. Aku masih ingin berjuang untuk Honeyku.
__ADS_1
"Ah Daddy lelah. Pergilah." Andrew mengibaskan tangannya. Mengusir mereka yang sedang berdebat tak karuan. Tidak begitu penting bagi Andrew. Yang jelas Andi akan bersamanya lagi. Andrew tak dapat menemukan orang seperti Andi di sana. Loyalitas yang ia rasakan dengannya sungguh tak dapat tergantikan dengan sosok manapun.
"Daddy, aku ingin tetap tinggal disini bersama Honey ku."
"Ya lakukan sesukamu Joe. Daddy akan mendukung mu."
"Jadi Daddy takkan mengajak ku pulang kan?"
"Tidak. Kau senang? Memangnya Daddymu tidak tau kau sudah jatuh hati padanya?"
"Yes Daddy always know. Sekretaris Daddy kan selalu melaporkan apapun. Ayo pergi!" Ajak Joe kepada Andi. Andi membungkuk hormat pada Andrew. Andrew menjawab dengan kibasan tangannya. Barulah Andi mengikuti langkah tuan mudanya keluar dari ruang kerja.
"Ish! Kau payah Andi!" Joe memukul bahu Andi kasar saat sudah dihalaman parkir. Andi yang tidak sigap merasakan sakit. Meringis ia memegang lengannya yang terkena tinju Joe.
"Tuan Muda ini mengagetkan saja." Katanya sambil membuka pintu belakang mobil. "Silahkan Tuan Muda."
"Harusnya kau bicara. I like Joe Mr Andrew. And finish! Kau disini bersamaku. Bukan Daren itu!"
"Silahkan masuk Tuan." Andi mengulangi kata-kata nya. Masih memegang pintu mobil.
"Ish! Kau benar-benar ingin meninggalkan aku ya. Menyesal nanti." Joe masuk mobil. Melirik dari ekor matanya Andi menggeleng pelan. Dia itu suka sekali akan kembali ke Amerika. Tidak memikirkan aku. Huh! Joe mendesah kasar. Sia - sia ia membujuk Andi untuk tetap tinggal disini.
Mobil itu perlahan berjalan menuju jalanan kota yang ramai. Weekend semakin padat karna jalanan akan penuh sesak. Banyak penjual kaki lima ditrotoar. semakin menambah kemacetan karna trotoar akan sangat penuh dengan pejalan dan pedagang.
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna