Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Rencana Minggu depan


__ADS_3

Sopir pribadi kediaman Smith membawa Shinta menuju sekolah anaknya. Zoe selalu bahagia saat mommy nya berdiri didepan kelas dengan senyuman lebar.


Shinta saja sampai heran segitu bahagianya anak itu sampai setiap hari pulang sekolah moodnya selalu bagus.


Namun kali ini wajah Zoe berubah seratus delapan puluh derajat.


Dengan langkah lemah anak laki-laki itu menghampiri mommynya yang sudah berdiri menunggu anaknya selesai kelas.


"Kenapa sayang?" Tanya Shinta lalu berjongkok dihadapan Zoe kecil.


"Mommy, sakit." Lirih Zoe dengan air mata yang tertahan.


"Kenapa pipimu merah? Kamu habis dipukul?" Tanya Shinta panik.


Sopir pribadi Shinta yang berdiri disamping bergerak, ia akan pergi ke ruang guru untuk menanyakan perihal masalah tuan muda kecilnya.


"Bagaimana John?"


"Tuan Zoe dipukul oleh anak laki-laki yang lebih tua. Dilihat dari cctv di kelasnya, tuan muda Zoe mencium pipi anak perempuan lalu anak laki-laki itu datang memukul tuan muda Zoe." Jelas John panjang lebar.


Shinta menganga. Tak habis pikir dengan Zoe kecil.


"Benar begitu Zoe?" Tanya Shinta, kini mereka sedang perjalanan pulang.


"Benar mommy." Lirih Zoe.


"Kamu menyukai gadis itu?" Tanya Shinta.


"Ia sangat menggemaskan seperti Barbie."


Shinta menghela nafas panjang. Ada-ada saja kelakuan anaknya ini. Belum genap enak tahun tapi sudah berani mencium anak perempuan. Bagaimana kalau besar nanti.


"John, jangan katakan apa-apa pada Joe ya? Nanti dia bisa marah."


John diam. Ia mendengar titah nyonya mudanya, tapi apa yang harus ia katakan pada tuan Joe kalau bertanya soal anak laki-laki yang selalu ia banggakan itu.


"Nanti aku sendiri yang akan bicara pada Joe." Sambung Shinta agar John mengerti.


Shinta dan Zoe turun dari mobil. Mereka masuk ke rumah. Didalam rumah Rachel sudah menyiapkan makan siang. Juga menyiapkan baju ganti untuk tuan muda kecilnya.

__ADS_1


"Rachel, apa aku salah? Dia lucu sekali, tiba-tiba aku ingin menciumnya." Zoe bercerita pada Rachel dengan polosnya.


"Iya tuan muda."


"Aku salah? Aku hanya menirukan apa yang Daddy lakukan pada mommy."


Shinta yang mendengar itu langsung bersemu merah.


"Zoe, jangan pernah lakukan itu lagi ya. Tidak boleh kalau anak perempuan itu tidak suka."


"Apa harus minta ijin dulu?"


"Tentu saja harus minta ijin dulu pada dia."


"Daddy tidak pernah minta dulu pada mommy saat mencium mommy."


Shinta hanya bisa menepuk jidatnya. Bingung menjelaskan pada Zoe kecil yang keras kepala.


"Pokoknya lain kali tidak boleh ya." Kata Shinta merapikan baju Zoe, mengajak makan siang di meja makan. "Siapa namanya Zoe?"


"Siapa mom?"


"Jeniffer Aurelia Arthur."


"Kau menghafal namanya dengan baik." Kekeh Shinta sambil geleng-geleng kepala.


Setelah makan siang, Zoe tidak membahas anak perempuan itu lagi. Baru Shinta menanyakan soal nama anak gadis itu saja, Zoe sangat bersemangat. Ia bercerita semua gak yang sudah ia lalui bersama dengan Jeniffer. Sepertinya anak Shinta itu sudah tumbuh menjadi dewasa. Kadang kata-kata selalu bijak. Tapi Shinta tak habis pikir dengan polah polosnya.


"Sayang," panggil Shinta di kamar tidurnya saat Joe pulang dari kantor.


"John sudah memberi tahuku." Kata Joe mengendur kan dasi abu-abu dilehernya.


"Ish John tidak bisa diajak kerja sama. Aku akan sudah bilang mau bicara sendiri padamu."


"John lebih patuh padaku." Kekeh Joe. Melempar dari begitu saja di lantai. Kemudian meraih pinggang istrinya yang makin berisi.


Shinta memeluk Joe erat. Bau keringat Joe seperti parfum yang harum untuk Shinta ciumi setiap hari.


"Kata Zoe dia meniru Daddy nya."

__ADS_1


"Dia memang anakku."


"Lain kali jangan menciumiku sembarangan apalagi didepan Zoe."


"Baiklah, tapi kapan dia akan punya adik?"


Shinta paham. Ia pun mencium bibir tebal suaminya pelan.


"Saat kau membebaskan aku untuk ikut kursus."


"Kursus apa?"


"Memasak mungkin."


"Kau sudah pandai memasak honey, untuk apa belajar memasak lagi."


"Aku belum bisa memasak masakan western sayang."


"Kan ada Rachel. Lebih baik melakukan hal lain." Joe menuntun Shinta masuk ke kamar mandi. Melucuti helai baju yang ia gunakan. Joe memeluk tubuh Shinta dengan lembut. Ia sentuh bagian sensitif Shinta pelan.


"Aku ingin anak lagi." Lirih Joe ,menciumi leher Shinta yang jenjang.


"Baiklah. Ayo buat adik untuk Zoe, liburan ke indo ke kampung halaman ku. Bertemu mbak Asih. Lagian Zoe belum pernah kesana."


"Ck! Itu lagi." Gerutu Joe. Lagi-lagi Shinta ingin keluar dari rumah yang menurut Joe lebih aman dari apapun. Shinta juga tidak mengerti kenapa Joe sampai seposesif ini padanya. Satu yang Shinta paham bahwa Joe sangat mencintainya.


"Kita hanya liburan sayang. Kau kan bisa lihat perusahaan dan kemajuan tempat gym mu disana."


"Aku percaya Daren."


Shinta kehabisan kata-kata. Kalau dengan bujukan lisan tak mampu, ia akan gunakan wajah sok imut nan menggairahkan untuk meluluhkan hati suaminya itu.


Shinta membuka bajunya dengan gerakan slow motion. Daster batik yang ia gunakan pun meluncur sempurna kebawah lantai. Tubuh yang berisi itu nampak makin seksi dan padat. Tonjolan di dada dan bagian belakang pun makin membesar dan menggoda iman Joe. Apalagi sekarang tangan lentik Shinta bergerilya di roti sobek milik suaminya. Ia raba dari atas ke bawah. Kemudian bibir Shinta maju untuk memulai duluan.


"Baiklah-baiklah." Lirih Joe saat Shinta mulai menyerang dirinya dengan bertubi-tubi ciuman mesra.


"Kita liburan ke Indonesia Minggu depan." sambung Joe.


***

__ADS_1


__ADS_2