Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Bertemu Teman


__ADS_3

Selamat membaca


***


Mobil Rendra sudah sampai didepan rumah Risya. Mata Risya sudah menuntut dibukakan pintu mobil. Tapi wajah Rendra sama sekali tak bergeming. Ia masih duduk diam menunggu penumpangnya keluar sendiri.


Risya memaksa. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menyebikkan bibirnya, sebal. Menunggu Rendra membukakan pintu. Drama ini belum juga usai karena Rendra tak juga mengerti maksud Risya.


"Apa kau tak ingin turun dari mobilku? Apa kau sesuka itu duduk dikursi mobilku?" suara Rendra ketus. Selama perjalanan menuju rumah Risya pun Rendra tak mengeluarkan suara.


"Ish! Bukain dong Ren. Nggak gentleman banget sih." Risya sebal. Laki-laki ini sama sekali nggak peka, dingin dan datar. Kenapa aku bisa menyukainya? Ya, karna parasnya yang tampan.


"Tangan kamu utuh kan? Aku akan bukakan kalau kedua tanganmu sudah tidak bisa digunakan." suara Rendra semakin kesal. Gadis disampingnya ini selalu menantang kesabaran Rendra.


"Apa? Kau jahat Ren. Cara bicaramu itu kasar sekali."


"Aku akan berkata sesuai keinginanku. Kau mengerti? Jangan banyak bertingkah. Keluar!" Rendra sudah habis kesabarannya.


Dengan emosi yang memuncak, Risya membanting pintu mobil dengan keras. Aku ini tunangannya, kenapa bicaranya tak pernah bisa lembut. Terus saja begitu. Aku tidak akan menyerah!


Sepeninggalan Risya, Rendra melajukan mobil itu menuju rumah sahabatnya, Reyhan. Reyhan mungkin bisa menghiburnya. Kesomplakan sahabatnya itu pasti bisa sedikit memberi ia kelegaan.l

__ADS_1


Rendra memarkir mobilnya didepan rumah Reyhan. Rumah itu tidak berubah, masih sama dengan terakhir kali Rendra datang kemari.


Tok. Tok. Tok. Suara pintu diketuk oleh Rendra. Ia memanggil nama Reyhan berkali-kali.


Beberapa menit kemudian, pintu dibuka oleh salah satu adik Reyhan. Rendra tersenyum menanyakan dimana Reyhan. Gadis yang sudah beranjak dewasa itu mempersilahkan Rendra untuk masuk ke rumah, menuntun Rendra ke ruang tengah.


"Hei bro! Apa kabar?" tanya Reyhan, berjingkrak melihat siapa yang datang malam-malam begini.


"Baik. Malam Tante, malam om." sapa Rendra ramah.


"Malam, duduk nak." balas Emaknya Reyhan ramah juga.


"Gila ya! Sekarang sudah jadi dokter." kata Reyhan meninju bahu Rendra.


"Biasa aja Rey. Gimana kabarnya nih?"


"Baik-baik aja. Gue denger dari Kenzo lo udah tunangan ya?"


"Iya. Maaf ya, acaranya hanya keluarga inti saja." Rendra sendu. Sahabatnya sama sekali tidak ada yang ia undang dalam acara pentingnya.


"Haha... Apa sih lo bercanda! Gue ikut bahagia, akhirnya lo udah bisa move on. Lo beruntung Ren. Bisa tunangan dengan anak pemilik mini market terbesar di kota ini." Reyhan antusias. Menepuk bahu Rendra kuat.

__ADS_1


"Apa sih? Cuma tunangan doang." Rendra menepis tangan Reyhan, tidak suka dengan kata-katanya. Beruntung? Aku merasa terbebani dengan pertunangan ini. Sama sekali aku belum.... Ah, sial! Aku jadi ingat dengan dia lagi kan, batin Rendra kacau. Ia mengepalkan tangannya.


"Ada apa sih? Lo ada masalah ya?" tanya Reyhan kuatir.


"Nggak ada apa-apa kok Rey. Kita keluar yuk! Bosan banget sendirian. Ajak Kenzo juga."


"Mau minum? Nggak, gue nggak suka minum-minum."


"Gue juga nggak kali Rey."


Akhirnya Rendra dan Reyhan keluar rumah menuju caffe. Tak lupa Reyhan menghubungi Kenzo untuk bergabung dengan mereka.


***


Terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2