Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Percayalah


__ADS_3

Selamat membaca


***


Joe terkekeh pelan. Matanya memandang lurus kedepan. Namun entah pikirannya. Wajahnya nampak berseri-seri seharian ini. Meeting sore ini dengan client penting pun berjalan lancar. Joe memperlihatkan wajah bersahabat sejak tadi ia masuk dikantor sampai saat ini. Para karyawan hanya bisa bergidik dari awal masuk ruang meeting sampai selesai, malah ada yang diberi senyuman. Ini pertama kalinya Joe tidak protes dengan proposal yang mereka ajukan.


Daren saja sampai heran. Bahkan Paman hanya bisa mengernyitkan dahi kenapa anak yang selalu berulah saat rapat itu kini lebih tenang dan sedikit lebih seperti manusia biasa. Bukan seperti manusia setengah iblis, begitu karyawan-karyawatinya menyebut Joe.


Justin juga mengernyit tidak mengerti dengan sepupunya ini. Justin menepuk bahu Joe kuat.


"Hei bro! Kau sehat? Rasanya kau sudah gila." kata Justin, duduk disamping Joe di ruang meeting setelah usai.


"Eh? Tidak apa-apa. Jangan membuat mood ku berubah. Aku sedang senang sekarang."


"Ya ya terserah. Kakak ipar pasti membuatmu bahagia. Entah apa, aku jadi penasaran."


"Cari perempuan sana."


"Diumurku yang sekian ini? Kau tak tau penderitaan ku Joe."


Daren masuk dengan sepiring potongan buah di tangannya. Daren meletakkannya di depan tuannya. Mempersilahkan tuannya untuk menikmati buah itu.


"Maaf Tuan, besok malam ada acara ulang tahun anak pak walikota. Beliau mengundang tuan. Ini undangannya."


"Bawakan baju pesta untuk Honeyku. Suruh Asih menaruhnya dikamarku. Biar dia memilih nanti."


"Baik tuan." Daren berjalan menepi, bersiap menelfon butik terkenal dikota ini.


"Bawakan baju malam. Untuk pesta. Iya bawakan sepuluh pilihan warna berbeda dan model yang berbeda." Suara Daren sedang bercakap dengan orang diseberang sana.


"Joe, kapan kau mengajak istrimu ke Amerika?"


"Entahlah. Mungkin setelah lulus SMA ini aku akan mengajaknya."


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Kau bodoh? Dia belum lulus."


"Sepertinya kalian tak sedekat itu ya?"

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kita dalam fase lebih dekat tau." Joe menggeram kesal.


"Aku yakin, di awal pernikahan mu pasti kau sering memarahinya. Kau kena karma Joe. Haha..."


"Aku tidak menyangkalnya. Mungkin benar."


Mereka tertawa bersama. Sekian detik ia ingat bahwa Shinta masih diruang kerjanya.


"Daren, apa yang sedang dikerjakan honeyku?" tanya Joe.


"Nona sedang tidur tuan."


"Hmmm. Justin, aku pergi dulu ya. Urus semuanya. Aku percaya padamu."


"Hei kapan aku kembali? Pak tuamu sudah bertanya terus dari kemarin."


"Ayolah, sebulan lagi. Selesaikan dulu pekerjaanmu."


"Baiklah. Kau yang bertanggung jawab atas hidup ku ya. Awas kalau pak tuamu memarahiku."


Joe tak menjawab. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Membuka pintu kamar yang dipakai oleh Shinta.


"Pasti dia kelelahan menungguku selesai meeting. Kasian honeyku." Joe duduk dipinggir ranjang. Kemudian mengecup kening Shinta lembut.


Mata Shinta mengerjap, ia merasakan ada seseorang didekatnya. Ia menarik tubuhnya untuk bangun.


"Mas Jonathan, sudah selesai?" tanya Shinta dengan separuh nyawanya yang belum menyatu sempurna.


"Sudah honey. Apa kau ingin minum?"


"Tidak. Kapan kita pulang?"


"Sekarang kita akan pulang. Sadarkan dirimu dulu."


"Hmmm, aku sudah sadar mas. Ayo pulang."


"Baiklah." Joe maraih tas Shinta. Memasukan buku dan tugas-tugas Shinta.


"Terima kasih." Shinta berucap tanpa sadar.

__ADS_1


"Terima kasih saja nih? Yang lain dong."


"Apa?!" Shinta sedikit meninggikan suaranya.


"Give me kiss." Joe tersenyum manis.


"Nggak mau." Shinta berdiri ingin beranjak keluar. Tapi Joe dengan cepat meraih belakang tubuhnya. Melingkarkan tangannya diperut Shinta.


"Jangan marah. Aku hanya bercanda kok. Maafkan aku ya. Aku sungguh mencintaimu." bisik Joe dibelakang telinga Shinta.


Glek. Sekujur tubuh Shinta kaku mendengar suara Joe yang sendu. Rasanya airmata akan tumpah dari matanya. Suaranya lembut sekali. Shinta juga merasakan tubuh Joe yang bergetar.


Shinta menutup mulutnya. Ia ingin berbalik melihat wajah sendu Joe. Namun urung ia lakukan. Ia membiarkan Joe memeluknya lama.


Aku... Aku belum tau mas harus berkata apa. Apa aku harus menerimamu? Sedang kau masih misteri bagiku, Shinta membatin.


Joe merenggangkan pelukannya, membalikkan tubuh Shinta, agar mata mereka beradu.


"Apa kita pulang sekarang?" tanya Shinta ketus.


"Kenapa masih marah? Aku kan sudah minta maaf."


"Kalau kau mencintaiku, harusnya kau mendengarkan aku mas. Kau lupa? Aku pernah bilang, tahan dirimu dulu sebelum aku bisa memutuskan perasaanku. Tapi apa yang kau lakukan? Kau merasaiku semalaman dan kau selalu mencuri ciumanku. Aku sudah membiarkanmu melakukan apapun padaku, tapi satu hal 'itu' aku belum rela berikan. Apa aku harus baik-baik saja? Bagaimana hidupku selanjutnya jika kau sudah bosan padaku? Kau pikir aku bisa menjalani hidupku selanjutnya?" Shinta mengambil tasnya, keluar dari kamar itu. Ia bergetar mengatakan semua uneg-uneg dalam hatinya. Rasa kesal ia luapkan semua pada Joe.


Joe ikut keluar. Menarik tangan Shinta agar menghentikan langkahnya.


"Maaf, aku khilaf. Tapi yang jelas, aku tidak akan melepaskanmu dan membiarkan kau pergi dariku. Aku mencintaimu, sungguh. Percayalah."


"Lepaskan!"


"Honey, percayalah padaku."


***


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like komen tip dan vote ya


Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna


__ADS_2