
Selamat membaca
***
Flashback
Hidup baru Shinta sudah dimulai sejak pertengkaran malam itu. Esok yang berat baginya saat akan berangkat menuju negara adidaya Amerika mengikuti langkah suaminya. Dengan perut yang sudah hampir waktunya persalinan, Shinta memantapkan diri. Melangkah masuk ke dalam perasawat yang akan membawanya ke negara asing itu.
Ia melempar pandangannya ke luar jendela. Ah, sedih juga. Ini pertama kalinya ia pergi ke rumah Joe yang di Amerika. Kenapa? Karna Shinta dari awal menikah, ia tidak mau diajak pergi dari rumahnya. Alasannya, ia tidak mau pergi dari rumah kedua orangtuanya. Lagipula orangtua Joe tidak memaksa Shinta.
Sekarang sudah berbeda. Janji untuk mengikuti Joe kemanapun ia pergi sudah terucap. Shinta tidak bisa mengingkari janji yang sudah dibuatnya sendiri.
Joe duduk disamping Shinta. Memperhatikan mimik wajah Shinta yang sendu. Joe mengelus perut Shinta.
"Jangan takut. Aku bersamamu, honey." kata Joe sambil mengecup kening Shinta.
Shinta tersenyum tipis agar Joe tidak khawatir dengannya. Namun, bukan itu yang ia khawatirkan sekarang.
Apa aku akan betah disana? Apa aku akan bisa beradaptasi dengan lingkungan baru? Ah, aku cemas tidak bisa bahasa mereka dengan baik. Atau mereka tidak mengerti dengan bahasa ku.
Shinta seakan melupakan kalau mertuanya bisa bahasa Indonesia. Mungkin ia mengkhawatirkan yang lain.
Sepupu Joe, Justin masuk, menengahi mereka yang sedang mengheningkan cipta.
"Akhirnya aku bisa pulang." Suara renyah Justin memecah suasana. Ia duduk menyenderkan punggungnya dibelakang kursi yang diduduki Shinta dan Joe.
Joe menaikkan kepalanya dan melirik tajam Justin, yang tanpa dosa mengganggu. Tidak tau Shinta yang sedang sedih akan pergi dari kampung halamannya.
"Apa? Aku salah lagi?" celoteh Justin tidak terima. Joe terlalu sensitif. Galak sekali kalau sudah berhubungan dengan Shinta. Bucin!
Justin malas membalas lagi. Justin melengos mengalihkan pandangan menusuk Joe. Joe selalu mengutamakan istrinya. Aku mah hanya remahan krupuk kali disini. Ah sial kenapa aku nggak pakai pesawat lain saja tadi.
__ADS_1
"Honey, kau mau makan sesuatu?" Joe bertanya dengan lembut.
"Tidak. Apa pak Daren juga ikut?" Shinta mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak."
Joe mempercayakan semua aset pada sekretarisnya, Daren. Joe percaya Daren mampu melakukannya. Kalau memang ada hal mendesak, ia akan datang untuk mengurus masalah itu. Tapi Joe sudah mewanti-wanti agar masalahnya benar-benar sudah emergency saja. Kalau tidak ia tidak akan melepaskan Daren.
Daren akan sangat sibuk mengurusi dua tempat sekaligus. Entah ia tau siang atau malam. Hari-hari nya akan hanya berjibaku dengan pekerjaan yang ditinggalkan sang empunya.
Joe hanya akan datang akhir bulan atau setengah tahun jika ia tidak sibuk. Di negaranya sendiri, bisnis Daddynya juga menguras energi. Belum lagi usaha gym Joe sendiri yang dulu sebelum menikah ia tinggalkan.
Daren harus menderita. Kasihan. Justin.
***
Epilog
Ia dimanjakan. Banyak maid yang mengurus semua kebutuhannya. Yang semula hanya mbak Asih yang ada dirumahnya, kini dirumah Joe, Shinta sampai tidak bisa menghafal nama-nama maid itu. Saking banyaknya dan dengan baju seragam yang sama. Sampai ia pusing sendiri. Sepuluh atau dua puluh? Entah.
Satu yang ia tau namanya adalah Rachel. Ia maid yang ditugaskan mommy harus selalu didekatnya. Menemani setiap kegiatan Shinta. Atau sebagai teman mengobrol. Rachel sudah bisa berbahasa Indonesia agar mudah berkomunikasi dengan Shinta, karna Shinta juga baru belajar bahasa Inggris.
Kuliah Shinta harus terpaksa DO karna terlalu lama cuti. Shinta sedikit kecewa memang, keadaannya memang tidak memungkinkan. ia berharap akan bisa kuliah lagi. Itu pun kalau bahasa Inggris nya sudah mumpuni untuk kuliah disini.q
Sekarang dikamar Shinta sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Rachel sudah membawakan sepiring buah dan jus segar permintaan Shinta.
Baru beberapa buah ia makan dan meneguk jus, perutnya terasa nyeri. Shinta merasakan sakit yang teramat. Apa mungkin sudah waktunya. Joe sedang bekerja. Mertua sedang pergi ke luar negeri. Dirumah Shinta hanya ditemani maid dan pelayan laki-laki yang berjaga di halaman.
"Auh..." Sambil memegang perutnya Shinta mengaduh.
"Kenapa nona? Perut anda sakit? Ah, bagaimana ini?" Rachel mengambil meja makan Shinta. Panik. Rachel yang masih muda itu bingung. Ia sama sekali tidak berpengalaman dalam menangani ibu hamil. Ia panik sekali. Ia gigit ujung kukunya. Kemudian ia ambil ponsel dari saku celemeknya.
__ADS_1
Rachel menekan tombol panggilan untuk maid senior. Maid senior itu sedang berada di ruang bawah. Rachel mengatakan agar maid senior segera naik ke kamar nona.
"What's happen Rachel?" tanya maid senior yang langsung masuk ke kamar Shinta setelah panggilan Rachel dimatikan. Maid senior itu bersama seorang pelayan laki-laki yang bekerja dalam rumah.
"Perut nona sakit. Apa sudah saatnya melahirkan?" tanya Rachel. Ia takut. Tidak paham juga situasi ini. Mungkin benar atau tidak. Ah, Rachel kembali menggigit ujung kukunya.
"Jason! Telfon tuan Andi!" perintah maid senior.
"Tuan Andi ikut big bos ke luar negeri. Saya akan menelfon tuan Justin."
"Telfon mas Jonathan, please." Dengan suara yang bergetar Shinta menengahi debat para maid.
Semua diam. Pelayan laki-laki datang dari arah pintu. Heran dengan semua yang terdiam, ia berkata " ayo bawa nona kerumah sakit. Tuan Justin sudah saya hubungi."
Aku mau mas Jonathan. Kenapa nelfon Justin? Ah, sakit sekali. Gerutu Shinta dalam hati.
Dirumah sakit.
Tak terbayang wajah Joe sekarang. Ia menemani istrinya melahirkan didalam ruang bersalin. Ah, peluh itu membanjiri dahi istrinya. Sesekali ia seka agar kering. Joe juga memegang tangan kanan istrinya kuat. Melihat langsung perjuangan istrinya untuk melahirkan. Sungguh membuatnya kagum.
Dalam hati ia berjanji akan selalu mencintai dan menyayangi Shinta.
Beberapa menit kemudian, anak laki-laki itu melihat dunia. Disertai tangis keras. Luar biasanya Tuhan sang pencipta. Kagum Joe penuh haru.
Ia beri nama Aldrich Zoe Jonathan Smith.
***
terimakasih sudah membaca
jangan lupa like komen fav vote dan tip ya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna