
Selamat membaca
***
Diruang kerja di dalam rumah itu, dingin mencengkam sudah terasa di tubuh Daren. Sisi gelap itu terlihat dari wajah Joe sang bos yang tengah menatap tajam pada Daren. Daren tidak mengerti kesalahannya, namun jika ia berani menanyakan sepatah katapun, ia bisa saja habis malam ini. Joe memang bisa terlihat mengerikan kalau sudah marah begini. Bantahan tak lagi bisa memuaskan amarahnya.
Daren bergidik. Ia hanya bisa menunduk dari tadi. Apapun yang akan dilakukan Joe, ia akan terima dengan lapang dada. Kata-kata Joe susah dibantah. Mungkin hanya Andi yang berani pada Joe.
"Apa kau tau kesalahanmu hari ini?" tanya Joe, duduk dengan angkuh di sofa. Sedang Daren berdiri dihadapannya kaku.
"Maaf tuan. Saya tidak tau." Daren melirik tuannya sekilas, kemudian menunduk lagi.
"Hah! Kau bodoh! Aku sudah tau dari awal kau itu tidak becus bekerja. Andi salah menilai kemampuanmu. Menyesal aku sudah menerimamu." jelas Joe panjang. Mendesah kecewa pada Daren. "Sekarang bagaimana soal anak yang menyebar rumor di sekolah honeyku."
"Sudah saya bereskan tuan. Anak itu tidak akan berani menegur bahkan menyapa nona muda lagi."
"Memang harusnya kau lenyapkan saja anak itu! Beraninya mengatakan hal buruk untuk honeyku. Baiklah, kali ini kau lolos. Lain kali tidak akan, kau pasti tamat. "
Glek. "Baik tuan." Sampai akhir, Daren tak tahu apa kesalahannya.
"Selesaikan pekerjaanku. Aku mau naik dulu." Joe beranjak ke kamar Shinta. meninggalkan Daren yang masih berkelut dalam pikirannya.
Joe membuka pintu kamar Shinta. Melihat Shinta yang sedang duduk berselonjor kaki disofa sambil mengerjakan tugasnya. Mengambil camilannya sesekali camilan itu habis dimulutnya.
"Sudah malam, apa tidak mau tidur?" tanya Joe, menghampiri Shinta dan duduk dihadapannya. Shinta menyatukan kaki dan menurunkan kakinya.
"Belum mengantuk mas." jawabnya pelan.
Apa dia masih sedih? Aku takut bertanya padanya nanti ia salah paham lagi, batin Joe.
"Memang masih banyak tugas ya? Mau aku bantu?"
"Memangnya mas Joe bisa?"
"Tentu saja bisa. Kau meremehkan aku ya,"
Shinta terkekeh. Benar dia masih bisa mengerjakan tugas anak SMA? Dia kan sudah ya sedikit berumur. Hehe... Wajahnya sih babyface, tapi dia sepuluh tahun lebih tua dariku.
Joe tersenyum, melihat Shinta yang sudah bisa tertawa meski hanya tawa kecil. Itu sudah mengisyaratkan bahwa hati Shinta sudah sedikit mencair.
Joe meraih buku Shinta, mulai menjelaskan bagaimana rumus logaritma. Menuliskan secara terperinci cara mengerjakannya.
"Wah, mas Joe pinter juga ya ternyata." Shinta berbinar. Menepukkan kedua tangannya.
"Kau bangga padaku honey? Aku sungguh terharu. Aku jadi semakin mencintai mu."
"Diamlah. Jangan katakan cinta lagi padaku." ketus Shinta, melengos.
"Kenapa lagi? Kenapa marah?" tanya Joe bingung. Perempuan ini cepat sekali berubah ya. Aneh sekali.
"Kau itu tidak bisa dipercaya mas. Baru melihat pegawai minimarket saja sudah kau goda."
__ADS_1
"Apa? Pegawai minimarket?" Joe mengernyitkan dahi. " Ya Tuhan, apa kau cemburu padaku sekarang?" tanya Joe sedikit terharu. Merasa dicemburui.
"Tidak! Aku tidak bilang begitu."
"Honey, aku hanya menyapa pegawai itu."
"Apa kau seakrab itu dengannya hingga ingin menyapa?"
"Wah wah, ternyata begini kalau kau cemburu ya? Menggemaskan."
"Tidak cemburu!"
Joe menangkup pipi Shinta. Mencubit besar kedua pipi itu gemas. Seketika Joe merasakan kerongkongannya yang kering.
Glek. Aku harus tahan. Gila! Aku benar-benar tidak kuat iman. Joe melepas tangannya. Lemas. Ia menunduk.
"Aku mau mandi dulu ya Honey. Selesaikan tugasmu lalu tidur. Ini sudah malam." Ia beranjak dari duduknya kemudian meraih handuk dan masuk ke kamar mandi tanpa menoleh Shinta yang terpaku melihat kelakuan Joe yang berubah seketika.
Kenapa dia begitu? Biasanya kalau sudah bertatap begitu ia akan menciumku penuh kobaran api. Haaahhh... Kenapa aku berharap ia akan menciumku? Dasar diriku yang mesum ini!
***
Shinta sudah berbaring di ranjang. Menunggu Joe yang masih mengganti bajunya dikamar mandi. Joe keluar dengan piyama berwarna navy. Melihat Shinta yang masih terjaga berselonjor kaki melihat kearahnya.
"Kau belum tidur juga honey?" tanya Joe lembut.
"Belum mas. Ayo tidur." Shinta tersenyum malu-malu.
"Kau menungguku rupanya." Joe melangkah duduk ditepi ranjang.
"Hmmm. Tapi maaf honey. Aku masih ada kerjaan sedikit. Tidurlah dulu nanti aku akan menyusul."
"Padahal kau sudah pakai piyama mas, kenapa nggak langsung tidur saja? Ini kan sudah malam. Kerjakan besok saja."
"Maaf honey membuatmu kecewa, tapi aku harus selesaikan segera. Daren menungguku. Tidurlah dulu." Joe mendekat. Meraih puncak Shinta. Cup!
"Have a nice dream Honey." Joe beringsut keluar dari kamar. Menutup pintu itu rapat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mengusap kasar.
Kau tidak tau penderitaan ku honey. Aku tengah menahan ini membuatku frustasi. Tapi ya kau benar, aku hanya menuruti hasratku sendiri tanpa tau apa kau mau atau tidak melakukannya. Mungkin saja kau berfikir aku brengsek! Tapi aku memang menginginkannya karna cintaku, bukan nafsuku. gumam-gumam Joe. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat kerja. Mungkin saja ia akan bermalam disana. Atau dikamar sebelah lagi seperti sebelum tidur dengan Shinta.
***
"Daren, apa kau pernah merasa ditolak perempuan?" tanya Joe tiba-tiba. Ia memandang Daren intens. Menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut sekretaris pribadinya itu.
"Maaf tuan. Tidak pernah." jawab Daren, menghentikan jari jemarinya kemudian sibuk lagi dengan laman laptop yang harus ia selesaikan.
"Wah ternyata kau berkarisma juga ya sampai tidak pernah ditolak perempuan." Joe sedikit terkesima. Awas kalau dia hanya membual belaka, pikirnya.
"Maaf tapi memang saya kurang suka dengan hubungan yang tidak jelas. Apalagi diumur saya yang sekian ini tuan." jelas Daren datar.
"Jadi? Apa kau tak pernah pacaran? Kau bilang pernah waktu itu." tatapan Joe menyelidik.
__ADS_1
"Ya, pernah tuan."
"Kau selingkuh?"
"Tidak tuan. Hanya saja saya salah paham padanya dan memukul laki-laki yang mencoba mendekatinya.
"Jadi kau sekarang menyesal?"
"Tidak."
"Jadi setelah itu kau tidak punya kekasih lagi?
"Ya Tuan."
"Wow, jadi sampai sekarang kau single? Kau pasti lupa rasanya berkencan dengan perempuan." Joe tertawa. Mencibir kejonesan sekretarisnya ini.
"Saya mencintai pekerjaan saya." bisik Daren.
"Tapi apa kau tak berfikir untuk menikah? Menjadi keluarga sempurna seperti orang-orang lain?" Joe semakin tertarik memberi pertanyaan pribadi pada Daren.
"Tentu saja tuan. Tapi lebih baik kita bahas proposal yang sudah saya selesaikan tuan." Daren mulai panas telinganya, kenapa harus bertanya soal pribadi membuatnya tidak nyaman dan tak ingin menjawab. Namun jika ia tidak menjawab atau menunjukkan garis wajah tidak suka, entah Joe akan melakukan apa. Ia sulit ditebak.
"Haha... Kau pasti belum move on dari kekasihmu yang dulu." tawa mengejek itu kentara jelas ditunjukkan oleh Joe. Ingin merendahkan Daren yang sudah kesal itu.
Daren tak menjawab, ia menyerahkan laptop itu dipangkuan Joe yang masih tertawa. Ternyata dia tipe yang setia dalam hubungan. Baguslah! Dia pasti setia juga dalam bekerja padaku.
"Hmmm... Daren, apa di perusahaan itu menyediakan bahan baku yang bagus?" Joe mulai serius dengan proposal dihadapannya.
"Iya tuan. Saya sudah menyelidiki dari mana mereka mendapatkan bahan bakunya." Syukurlah fokusnya teralihkan, batin Daren.
"Bagus. Apa kau sudah membuat surat perjanjian kerjasama?"
"Tentu sudah tuan,"
"Ok baiklah."
"Jangan lupa tuan, pesta ulang tahun anak walikota besok malam."
"Tidur saja belum kenapa kau bawel dengan pesta itu? Dasar!"
"Karna disana banyak perusahaan besar yang akan menghadiri dan juga kolega pak wali kota yang dari luar kota. Kesempatan bagus untuk tuan berada disana."
"Kau kan bisa atur semua. Apa aku yang akan menjilat disana? Aku tidak sudi."
"Baiklah tuan. Saya akan atur dan konfirmasikan pada pak walikota." Daren menunduk hormat.
***
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like komen tip dan vote
__ADS_1
Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna