
Selamat membaca
***
5 tahun kemudian
Shinta mengerjapkan matanya perlahan. Merengkuh guling erat tak ingin keluar dari nyamannya selimut tebal yang membalutnya dan guling empuk itu.
Nyamannya. Gumam Shinta sambil memejamkan matanya kembali.
Seperti ingat sesuatu, ia membuka mata lebar. Ia langsung bangkit dari tidurnya. Menyibak selimut tebal yang nyaman itu cepat.
Huh... Ternyata sudah siang. Tapi lagi - lagi tidak ada yang membangunkan aku. Gerutunya.
Shinta beranjak melepas gaun tidurnya dan bergegas mandi.
Shinta sudah siap untuk keluar dari kamar. Tanpa sadar ia berhenti di depan pintu kamarnya, perasaan asing ini masih menyelimuti hatinya.
Padahal sudah lima tahun aku disini, tapi rasanya baru sehari. Semuanya terasa asing bagiku. Batinnya. Tersenyum senang. Ini bukan mimpi.
Sekarang ia berada di rumah keluarga Smith di pinggiran kota New York Amerika. Rumah pribadi yang seperti hotel bintang lima. Seakan mimpi menjadi kenyataan bahwa disinilah Shinta sudah menghabiskan waktu bersama Joe dan keluarga besar Smith.
5 tahun yang lalu....
Shinta POV
Aku lega sudah minta maaf sama mas Rendra. Setidaknya aku sudah mengatakan sesuatu yang belum terselesaikan dengan baik. Tentang masa lalu kita yang rumit. Aku sedikit lega. Meski tidak begitu berjalan lancar.
Mas Rendra sudah berubah. Bukan mas Rendra yang aku kenal dulu. Berubah seratus delapan puluh derajat. Suara lembutnya menjadi terdengar kasar dan sinis dan pandangannya pun tak seteduh dulu.
Ya aku tahu. Pasti karna aku yang pernah menyakitinya. Aku benar-benar menyesal sudah menyakiti orang sebaik mas Rendra.
Mulai sekarang aku bisa bernafas lega. Menjalani hidupku dengan mas Joe dan anak kita nanti. Aku sudah tidak sabar akan kelahirannya.
Huh.... Aku menghela nafas dalam. Dari tadi sore mas Joe belum pulang. Mungkin pekerjaannya belum selesai. Dia memang sibuk sekali.
Aku mengelus perutku. Aku perhatikan sudah sebesar ini. Seperti sudah hampir waktunya. Ah, aku berdebar. Tidak sabar menanti ia lahir.
Tak terasa aku tertawa kecil. Pasti lucu sekali. Mas Joe pasti bahagia. Apalagi Daddy dan mommy.
__ADS_1
Apa setelah ini aku akan tinggal di Amerika ikut mas Joe? Entahlah. Dia juga tidak pernah tanya soal itu. Tapi kalau bisa aku ingin disini. Dirumah ini.
Aku menunggu mas Joe pulang sampai tengah malam. Dia belum pulang juga. Aku sudah mulai gelisah. Kenapa ia tak pulang-pulang. Ada apa? Ada masalah apa? Dia juga tidak menghubungiku. Rasa gelisahku terus memenuhi pikiranku
Aku mencoba menelfon pak Daren. Pak Daren bilang mas Joe masih ada urusan pekerjaan. Tapi hatiku jadi tidak tenang. Meski pulang telat, ia pasti menelfon sendiri. Kali ini ia tak menelfon tapi pak Daren yang menghubungiku. Walau pergi keluar kota, ia akan sering menelepon dan menanyakan tentang keadaanku.
Sebelum pergi mas Joe tidak kenapa-napa. Sikapnya juga biasa saja.
Aku terbangun jam tiga pagi. Saat perlahan pintu kamarku dibuka oleh seseorang. Ya sudah pasti itu mas Joe. Ia tampak sempoyongan.
Aku papah tubuhnya yang besar dan aku dudukan di pinggir ranjang. Wajahnya merah dan tampak kelelahan.
"Mas..." panggilku lembut. Sambil ikut duduk disampingnya.
Tak ada sahutan. Ia rebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit. Aku heran kenapa dia seperti itu. Bau tidak enak dari tubuhnya menyengat indra penciumanku. Bau apa ini?
"Mas..." panggilku lagi.
"Kemana kau pergi seharian ini?" tanyanya. Nada suaranya terasa dingin penuh kemarahan.
"Aku pergi ke dokter Maya mas. Terus pulang." jawabku perlahan. Dengan senyum tentunya agar amarahnya sedikit mereda.
Aku tersentak. Mas Joe tidak percaya padaku. Apa dia tau aku bertemu dengan mas Rendra? Sebaiknya aku jujur saja.
"A-aku bertemu dengan mas Rendra setelah bertemu dengan dokter Maya mas. Maaf aku tidak ijin dulu padamu. Aku takut mas tidak mengijinkan." Aku gagap. Namun yang ku katakan jujur tapi membuatku ketakutan juga. Setelah ini aku tidak tau kemarahan seperti apa yang akan ia tunjukkan padaku.
"Kau bertemu dengannya? Untuk apa?" ketus. Mas Joe menarik tubuhnya bersandar di kepala ranjang. Ia mendekat. Melihat perubahan mimik wajahku, mungkin.
Seakan ia tau bahwa tubuhku sudah bergetar dan ingin menitikkan air mata. Takut. Bau tubuhnya makin membuatku mual. Dia habis melakukan apa sampai dia seperti ini. Atau minuman keras? Aku tidak pernah tahu kalau dia minum minuman seperti itu. Dia kan selalu menjalani hidup sehat.
"Aku hanya ingin minta maaf padanya mas. Itu saja." jawabku. Menunduk. "Maafin aku ya mas. Aku...." kataku lagi memohon.
"Lebih baik kau ijin dulu."
"Maaf."
"Apa aku lemah padamu makanya kamu seenaknya padaku?"
"Tidak seperti itu mas. Aku hanya ingin menyelesaikan masalahku dengan mas Rendra saja."
__ADS_1
"Kau bahkan selalu memanggilnya mas meski aku tidak suka."
Hiks... Hiks... Tangisku tumpah.
"Kau menangis karena apa? Jangan menangis didepanku."
"Hiks... Mas aku minta maaf."
"Setelah anak ini lahir, aku akan melepaskanmu dan membawa anakku ke Amerika. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau."
"Apa?! Mas, jangan seperti ini. Aku mohon." Aku tersentak. Ku raih tangan mas Joe memohon dengan linangan air mata.
"Permohonan mu takkan mengubah apapun. Aku sudah memutuskan."
"Mas, jangan pisahkan aku dan anakku."
"Aku tau kau tidak menginginkannya. Berbahagialah. Setelah aku dan anak ini pergi, kau bisa bebas."
"Tidak!" Aku menggeleng kuat. Aku memegang tangan mas Joe kuat. Aku menaruhnya didada. Memohon dengan sangat agar mas joe mau menarik ucapakannya.
"Kau tidak mencintai ku." bisik mas Joe. Namun aku dengar dengan jelas.
"Siapa bilang? Aku mencintaimu mas." jawabku cepat.
"Kau bohong." sergahnya.
"Mas, jangan begini. Aku mohon." Air mataku sudah bercucuran tanpa henti.
Tanpa melihat tangisku dan permohonanku, mas Joe berdiri dan beranjak ke kamar mandi. Menghempaskan tanganku yang menautnya.
***
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
Nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna
__ADS_1