Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Daren Reynaldo Lagi


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Sekretaris baru yang sedang dalam tahap percobaan. Iya benar. Dialah Daren Reynaldo. Laki - laki berumur tiga puluh tahun itu bergidik kaku saat melihat bosnya. Dia biasanya hanya bekerja dibalik layar. Tidak pernah bersinggungan langsung dengan Bosnya yang dingin itu. Di tempat GYM, Daren sebagai penanggung jawab. Tugasnya memperhatikan setiap pelanggan. Pelanggan yang datang ia urus dengan ramah dan sopan. Meski kadang menyebalkan.


Sejak bertemu Andi, Daren memang sedikit banyak belajar bagaimana menghadapi masalah yang datang. Seperti membereskan pelanggan yang menuntut ini itu. Padahal sudah diberitahukan di awal peraturan keanggotaan GYM. Memang manusia itu bisa ditebak? Tidak!


Itulah yang saat ini melayang - layang dikepala Daren. Permintaan bosnya untuk mengubah data di map - map yang menggunung ini terasa begitu berat. Ini belum seberapa. Mana tau permintaan bosnya nanti akan jauh lebih merepotkan daripada ini.


Map - map itu ditumpuk menjadi dua bagian. Sebelah kanan dan kiri. Ditengahnya laptop Daren menyala dengan laman yang belum ia selesaikan. Sudah hampir tengah hari. Namun berkas itu masih separuh jalan.


Semoga bisa selesai tepat waktu, batinnya.


Daren mengangkat tangannya keatas. Menekuk jari - jarinya sampai mengeluarkan suara. Pegal rasanya duduk diam didepan laptop sambil mencerna isi berkas - berkas itu berulang. Salah sedikit saja hidupnya habis.


Joe Dimata Daren sangat menakutkan. Bagaimana tidak, ditempat GYM meski ia didepan menjelaskan berbagai kebutuhan di tempat GYM dengan santai, pandangannya tetap tajam. Tak bisa sedikit tersenyum, meski hanya sandiwara.


Itulah Joe saat bekerja. Beda lagi saat ia harus melakukan sandiwara kecil, iapun mampu melakukannya. Hanya saja Daren belum pernah melihat itu.


"Huuuuhhh.... Aku ingin kopi hangat." gumam - gumam pelan. Daren melakukan panggilan pada Nana untuk membuatkannya secangkir kopi.


Daren membuka berkas yang selanjutnya. Membaca perlahan dan kemudian Daren mengetik lagi. Fokus pada laptop dihadapannya.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Nana masuk keruang kerja Daren dengan baki berisi pesanan Daren. Nana menatap mata Daren yang terfokus tajam itu.


Daren lumayan juga. Daripada bos yang galaknya minta ampun itu. Nana


Nana meletakkan cangkir itu pelan didepan Daren. Dengan senyum termanisnya.


"Silahkan pak."


"Terima kasih Nana. Oh ya tolong kau rapikan berkas - berkas yang sudah saya selesaikan. Susun kembali."


"Baik pak." Ini namanya keberuntungan. Hati Nana berbisik penuh kegembiraan. Tak menyangka meski weekend harus bekerja, ia dapat berdua dengan Daren. Siapa tau bisa memikat si sekretaris tampan ini.


"Bapak, mau saya bantu ketikkan? Jari - jari saya mahir dalam mengetik didepan laptop." Tawar Nana. Tentu saja senyum itu tak terlepas dari bibir merahnya.


"Tidak. Terima kasih. Kalau sudah selesai, keluarlah." Daren berkata datar. Aku takkan membebankan pekerjaan ini dengan orang lain. Bila aku ingin mati, aku akan mati sendiri dengan perjuangan ku.


"Eh, baik pak." Nana menggenggam map itu dan sedikit meremas. Ih. Kok sama aja susahnya mendekati dia sih? Menggerutu dalam hati. Nana membereskan berkas itu sesuai perintah Daren. Kemudian membawanya keluar dari ruangan kerja Daren.


Daren sibuk lagi. Menyelesaikan berkas - berkas disampingnya yang masih menumpuk. Mempelajari setiap bagian dan menuliskannya dengan rapi di laptopnya. Beberapa kali keningnya berkerut. Ia harus berfikir keras untuk cepat menyelesaikan tugasnya.


Ada panggilan masuk diponsel disaku jasnya. Bergetar dan berdering ingin ia raih. Haaaahhhh... Siapa yang menggangguku? Aku jitak kalau ketemu nanti, umpat Daren.


Daren pucat. Melihat siapa yang memanggil. Ya dialah bos nya yang memanggil. Dengan segenap keraguan ia menekan tombol hijau dan menggesernya.

__ADS_1


"Hallo Tuan."


"Sudah selesai?" suara itu milik Joe.


Glek. Seketika pikiran Daren lemas. Ini baru tengah hari dan Joe sudah menanyakan pekerjaannya? Bunuh saja aku tuan muda!


"Be-belum tuan." Daren terbata. Bergetar bibirnya mengucapkan kata itu. Bisa jadi akan terdengar kemarahan dari sebrang sambungan seluler itu. Atau teriakkan memekakkan gendang telinganya. Ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya perlahan.


"Bawa semua ke rumahku nanti. Kalau tak selesai sore ini. Kau tamat." tut. Sambungan itu terputus.


Haaaahhhh aku sudah mulai frustasi. Gila! Lebih baik aku menghadapi pelanggan yang cerewet saja. Emak - emak sosialita yang ingin tubuh ideal tapi makannya banyak. Ini lebih gila dari pada itu.


Daren menghentakkan kaki kanannya. Tangannya menekan pelipis yang mulai berkedut. Kenapa ia harus dapat bos yang semenjengkelkan ini. Sungguh Menyebalkan!


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2