
Selamat membaca ^_^
***
Mentari sudah meninggi. Untunglah Shinta sudah bersiap. Menatap hari ini dengan penuh keceriaan. Hari sudah berganti. Shinta bertekad untuk tidak memikirkan Joe lagi.
Aku juga harus bahagia. Aku nggak mau menyia - nyiakan perasaan Mas Rendra. Mas Rendra orang yang baik. Tak seharusnya aku mengabaikan dia, Shinta membatin.
Shinta duduk dimeja makan. Ia menyantap makanan buatan Mbak Asih. Terasa nikmat sekali. Mbak Asih memang pandai memasak. Jadi kangen seseorang. Biasanya ia akan duduk didepannya. Memelototinya dan mengatainya dalam hati. Ngapain juga aku harus memikirkannya? Ia bahkan tak memikirkan aku. Ia sedang bersenang-senang sekarang dengan kekasihnya.
Shinta pun mengusir pikiran - pikiran tentang Joe. Ia kembali fokus dengan sarapan paginya.
"Ini baru masakan yang enak." kata Shinta. "Mbak Asih, buatin aku dua bekal ya?"
"Yang satu untuk siapa Non?" tanya Mbak Asih penasaran.
"Ada deh! Mbak Asih pengen tau aja," Shinta menjulurkan lidahnya. Lalu tersenyum lebar. Tanpa bertanya lagi, Mbak Asih membuatkan bekal satu lagi untuk nonanya.
***
Seharian penuh Shinta mencari Rendra. Bermaksud memberikan bekal makan siangĀ ditemani Anin. Namun Rendra tak juga terlihat batang hidungnya. Sibuk sekali ya? Bahkan dicari sampai kelasnya pun tak ada. Mungkin sedang mempersiapkan ujian, mungkin. batin Shinta terus berfikir.
Dari semalam ponselnya tidak dapat dihubungi. Sepertinya Rendra menghindari Shinta. Shinta belum memberi jawaban atas pernyataan tempo hari. Shinta jadi merasa bersalah pada Rendra.
Beberapa hari ini Shinta tersadar kalau Rendra patut untuk diberikan kesempatan. Meski Shinta takkan jujur soal Jonathan.
Apa akan bener begitu? Mas Rendra tak perlu tau soal mas Joe. Lagian Mas Joe juga akan berpisah denganku cepat atau lambat.
Shinta akan menjalani hubungan dengan Rendra. Toh Joe juga punya pacar. Tidak ada salahnya kan? Lagi pula status pernikahannya hanya sementara. Pasti takkan lama.
__ADS_1
Pada akhirnya tempat bekal itu tak menemukan tujuan yang sebenarnya. Bekal yang sudah disiapkan untuk Rendra, ia ikhlaskan untuk Anin. Daripada mubazir. Kasian juga Mbak Asih yang sudah memasak. Rendra benar - benar susah ditemui.
"Rejeki anak sholeh nih! Haha..." gelak Anin saat menerima bekal itu dengan tangan terbuka.
"Mas Rendra kenapa ya Nin? Apa dia marah padaku?" tanya Shinta sendu.
"Nggak tau ya Shin, coba nanti aku tanya mas Kenzo."
"Kenapa ya?" Shinta sangat ingin tau.
"Mana aku tau njiirr...." Anin manyun. Aku bukan cenayang!
"Anin, menurutmu apa aku salah ingin membalas perasaan Mas Rendra?" Shinta menatap sahabatnya itu lekat. Menanti jawaban yang serius dari Anin.
"Nggak juga. Joe juga tidak ada perasaan apa-apa sama kamu. Dia sudah bilang kan anggap jadi kakak. Jangan kau harap lagi laki-laki yang sudah membentengi diri begitu. Kamu juga berhak bahagia." jelas Anin penuh emosi.
"Benarkah begitu?" Shinta menunduk dalam. Benarkah hubungannya dengan Joe sudah tidak layak dipertahankan. Anin benar. Joe memang hanya ingin menjaganya saja.
"Iya Nin. Aku sudah mencoba."
"Apanya yang mencoba? Kamu masih sering mikirin dia." Anin mencibir.
"Kamu tuh bisa baca pikiran ya Nin? Sok tau." Shinta manyun.
"Aku tau Shin. Setiap kamu ngelamun dipojokan perpus ngapain coba?"
Shinta terdiam. Anin kok bener sih!
"Nggak bisa jawab kan? I know," Anin tersenyum. Shinta mudah ditebak.
__ADS_1
"Mas Jonathan belum balik juga ke Indonesia. Entah kenapa aku jadi kepikiran. Dia pergi saat alerginya belum sembuh total." jujur Shinta.
"Jangan dipikirin. Dia aja nggak mikirin perasaan kamu." Anin kesal.
Shinta terdiam lagi.
"Kamu bilang dia ketemu sama pacarnya? Pastilah dia lagi pacaran. Apa Jonathan itu sudah pernah ya sama pacarnya?" Anin memanasi.
"Apa? Aku nggak paham maksudmu Nin."
"Ih Shinta. Itu hubungan bebas."
"Apa? Nggak mungkin kan?"
"Apanya yang nggak mungkin?"
Shinta terdiam lagi. Anin memang benar. Kenapa dia selalu benar sih? Huh!
"Kamu bahkan nggak kenal dengan pasti siapa Jonathan itu kenapa kamu bisa suka padanya?"
"Aku sudah mencoba melupakannya Nin." gumam Shinta.
Setelah percakapan itu, Shinta dan Anin terdiam. Jauh dilubuk hati, Anin sangat prihatin dengan kehidupan sahabatnya itu. Sudah ditinggalkan orangtuanya, sekarang harus mendapatkan cobaan seperti ini. Galau dengan suami yang bahkan menganggapnya anak kecil.
***
Terima kasih sudah membaca ^_^
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna^_^