
Selamat membaca^_^
***
Joe mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Joe memperhatikan raut wajah Shinta yang nampak menahan senyum. Joe tadi juga melihat anak laki - laki yang bersama Shinta. Kelihatan dekat, batin Joe.
"Siapa dia?" Tanya Joe. Shinta menengok melihat wajah Joe yang fokus kedepan.
"Namanya mas Rendra. Dia kakak kelasku mas." jawab Shinta.
"Kenapa kau juga panggil dia mas? Bukannya panggilan itu khusus untukku?" tanya Joe sedikit kesal.
"Huh... bukan mas. Panggilan mas itu memang untuk laki - laki yang lebih tua dari kita. Sepeti halnya kakak." jelas Shinta.
"Kenapa kau tidak panggil dia kakak saja. Jangan panggil mas. Mas itu khusus untukku." Joe terdengar sinis.
"Memangnya kenapa sih? Sama saja kan?" Shinta protes.
"Nggak! Aku mau berbeda! Jangan membantah! Lakukan saja." Joe kesal.
"Dia baik padaku mas. Aku nggak mau dia marah karna aku mengganti panggilan untuknya. Pasti terasa canggung sekali nanti," jelas Shinta.
"Kenapa kau pikirkan? Memangnya dia pacarmu?"
" Kelihatannya dia menyukaiku." kata Shinta malu - malu. Ia tersenyum kecil.
"Hah? Apa? Menyukaimu? Kamu percaya diri sekali. Jangan anggap semua laki - laki yang mendekatimu pasti suka padamu." Joe sedikit berteriak dan mencibir kepercayaan diri Shinta. Ia juga tertawa diakhir kalimatnya.
"Kenapa? Dia baik orangnya." Shinta mencebikkan bibirnya. Tidak masalah kan kalau dia menyukai Shinta? Toh itu hak pribadinya kan?
__ADS_1
"Bodoh! Kamu itu terlalu polos. Mudah saja dikelabui seperti itu."
"Apa anak SMA punya pikiran sejauh itu? Pasti orang disampingku ini yang serigala berbulu singa." Shinta mencibir. Laki - laki disampingnya ini mungkin lebih berbahaya dari pada Rendra.
"Sebagai kakak aku harus menjagamu dari serigala yang akan memakanmu." jelas Joe.
Glek!
"Lupakanlah! Jangan drama lagi mas!" Shinta benar - benar kesal.
Kakak ya? Hiks. Aku sungguh tidak tau hubungan kita memang hanya sebatas kakak yang menjaga adiknya. Apa pernikahan ini tak berarti apapun untuknya? Hingga ia menganggap ku adik yang harus dijaga? Bukannya dia harus belajar mencintaiku? Mana mungkin dia mencintaiku? Dia bahkan bilang sangat mencintai kekasihnya, batin Shinta.
Ada getir di dadanya saat Joe mengatakan kata itu. Seperti sebuah tembok besar di Cina yang sulit di robohkan. Joe sudah memberi batasan hubungan mereka yang tidak mungkin ia ubah. Bahkan takkan ada cinta untuk hubungan mereka kedepannya. Hanya helaan nafas berat yang mampu Shinta lakukan. Dia tidak berani protes ataupun melawan kata-kata Joe.
Yang Shinta lakukan adalah menengok ke jendela mobil dan melihat jalanan yang ramai. Lebih baik daripada memandang seseorang disampingnya ini.
"Diberi tau malah marah! Aku cuma memberi tau bocah! Kau itu bisa tertipu dengan tampang sok imut begitu." Joe sewot.
"Terserahlah. Yang penting jangan menyusahkan aku!"
Kok sesakit ini ya? batin Shinta. Sambil merem*s ujung rok putih abu - abunya.
***
Rendra duduk diatas motornya. Ia menunggu Kenzo dan yang lainnya membeli es teh manis di kantin sekolah. Mereka sudah janjian akan main game dirumah Kenzo.
"Siapa ya?" bisik Rendra gusar. Ah! Pacarnya? Jangan**! Rendra mengacak - ngacak rambutnya berulang - ulang. Menampakkan rambut ikal yang makin kusut.
"Temen kita sudah nggak waras. Lihat mukanya kusut kayak benang ruwet! Haha..." celetuk Reyhan dan yang lain menghampiri Rendra.
__ADS_1
"Iya. Haha... muka lo kenapa gitu sih Ren? Kesambet penunggu parkiran lo?" tanya Rahman.
"Sialan kalian!" Rendra meraih plastik es teh milik Reyhan. Meneguknya sampai habis.
"Heh! Punya gue tuh sial! Beli sendiri sana!" Reyhan sewot. Seenaknya saja mengambil milik orang lo, gerutu Reyhan dalam hati.
"Lo kepanasan apa haus? Segitunya lo minum! Kesedak lo! " kata Rahman mengingatkan. Rendra meremas plastik es teh itu. Kemudian melempar sekenanya di tong sampah.
Sial! Sial! Sial! umpatnya.
"Sabar bro!" kata Kenzo menepuk bahu Rendra pelan.
"Eh Ken, bantu gue dong. Tanyain sama si Anin. Cowok bule yang antar jemput Shinta siapanya?" Rendra memohon. Sadar Kenzo bisa menolongnya.
"Ogah! Tanya aja sendiri." Kenzo melengos.
"Sialan lo! Bantu gue dikit napa sih? " Rendra sewot.
"Ngomongin apa sih? Ayo langsung ke rumah lo aja Ken. Main game lebih seru ah! Bahas cewek mulu!" Rahman mulai males bahasan mereka.
"Ayo ah! Biarin si Rendra galau. Haha..." Mereka sepakat. Mengambil helm masing - masing dan meninggalkan Rendra sendirian.
"T*i lo pada ya! Awas nanti kalah main game sama gue! Gue jadiin kacung lo semua! Kampr*t!" Rendra mengumpat tak ada henti. Tak sadar sudah ditinggal jauh sama temen - temennya keluar dari parkiran.
***
Makasih sudah membaca,
jangan lupa like komen tip dan vote ya...
__ADS_1
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna ^_^