Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Gayung bersambut


__ADS_3

Selamat membaca


***


Saatnya kembali pada kenyataan hidup. Menjalani hari-hari di tempat kerja. Sudah saatnya membuka mata dan hati. Dia tidak bisa terus bersedih.


Huh... Rendra menghela nafas panjang. Lelah. Banyak pasien yang datang hari ini dengan berbagai keluhan. Ada juga yang dalam keadaan darurat.


Pagi ini giliran ia berjaga. Ditemani oleh rekan kerjanya. Tidak begitu sulit, biasanya hanya berkeliling untuk melihat pasien. Kadang juga hanya untuk mengganti air infus. Kalau ada pasien baru dengan keadaan darurat, Rendra akan lebih sibuk lagi. Namun hari ini semua terasa tenang. Tidak ada keadaan darurat yang berarti membuat Rendra sedikit bisa bernafas.


Semoga lekas sembuh semuanya, batin Rendra. Mengakhiri laporan pasien yang ia susun dikertas putih.


"Sus, bagaimana keadaan ruang anggrek. Ada pasien yang terkena air panas dan kulit tangan dan kakinya melepuh. Apa sudah membaik?" Tanya Rendra, pada suster Neni.


"Bagus dok, ada perkembangan."


"Dokter Clara sudah kembali kan? Apa langsung megang ruang aggrek?" Tanya Rendra menanyakan dokter Clara yang habis masa cuti hamil dan melahirkan.


"Belum dok, katanya diganti sama keponakannya. Hari ini masuk. Mungkin sekarang sedang diruangan." Jelas suster Neni.


"Oh begitu. Ya sudah. Nanti kalau butuh bantuan panggil saja."


"Baik dok. Mau makan siang dok?"


"Iya, sudah keroncongan ini perut."


"Silahkan dok."

__ADS_1


Rendra keluar dari ruang kerjanya. Ingin berkeliling untuk melihat pasien-pasiennya terlebih dahulu sebelum makan siang. Rendra berjalan menyusuri koridor-koridor rumah sakit. Mengintip dari celah-celah pintu dan jendela yang sedikit terbuka. Semua tenang.


Baguslah, pikirnya. Rendra melanjutkan langkah kakinya. Dari kejauhan seseorang berjalan dengan gontai menghampirinya. Tidak ada senyum, bahkan wajahnya sangat marah. Alisnya mengkerut menatap tajam Rendra.


"Aku mau bicara." kata Risya. Rendra langsung mengikuti langkah Risya. Menuju ke belakang gedung. Tempat yang sepi.


"Kenapa denganmu? Apa salahku?" Cetus Risya dengan gamang. Ia frustrasi dengan laki-laki didepannya ini.


"Aku minta maaf." kata Rendra. "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku terus menyakiti perasaanmu, makanya aku mutusin hubungan ini." jujur Rendra.


"Aku tahu, aku memang buta. Hanya melihatmu dan tidak bisa berfikir logis. Aku terlalu mencintaimu. Jadi ini akhir kita? Begini saja? Rendra, aku sudah menunggumu lama, tapi ini yang bisa kau berikan padaku?" Risya mengiba, ia menahan air matanya.


"Maafkan aku. Aku yakin kau akan mendapatkan laki-laki yang baik." Lirih Rendra.


Sakit.


Risya hanya bisa menatap punggung laki-laki itu yang meninggalkan tempat begitu saja. Risya tidak bisa menggapai bahkan menahan lengannya barang semenit untuk melihatnya menangis didepannya.


Rendra berubah lemas. Ia begini lagi. Tidak punya semangat. Padahal pagi tadi ia sudah bersemangat menjalani hidupnya. Tapi kini sedih lagi karena habis menyakiti anak orang.


"Aku kenapa sih? Bukan Risya yang salah. Aku memang orang bodoh!" Sekarang tak ada satu pun wanita yang akan mendekati dirinya yang masih terbelenggu masa lalu.


"Pak dokter, dibawah tidak ada yang koin jatuh. Kenapa lihat kebawah terus?" Sindiran itu terasa nyata ditujukan pada Rendra.


"Nayla?"


"Panggil saya dokter Nayla." Kata Nayla sambil menunjukkan nicname di dada jas dokternya.

__ADS_1


"Baiklah dokter Nayla."


"Sedang apa sih?" Tanya Nayla mengerutkan alisnya karena Rendra dari tadi berjalan gontai sambil menekuk kepalanya.


"Buat anak orang menangis."


"Apa? Dimana? Kenapa?" Tanya Nayla, sambil mencari sosok 'anak orang yang menangis' itu. Dikiranya anak kecil yang tidak dikasih coklat ibunya karena giginya sedang sakit.


"Kamu cari apa?"


"Anak orang yang kamu buat menangis."


"Dia tidak ada disini."


"Terus? Kamu sudah kasih ibunya?" Tanya Nayla dengan polos.


Rendra terkekeh pelan. Sadar Nayla tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Rendra.


"Sudahlah ayo makan siang." Ajak Rendra ke kantin rumah sakit.


"Kenapa ke kantin rumah sakit? Didepan situ yuk ada cafe."


"Saya takut ada keadaan darurat dokter Nayla."


"Kalau begitu nanti malam ya ke cafe. Kita ngobrol."


Dahi Rendra mengernyit. Bukannya itu kode untuk kencan?

__ADS_1


"Hanya kita berdua?" Tanya Rendra memastikan. Mungkin saja ia akan dijadikan obat nyamuk Nayla bersama Niko.


"Berdua saja." Lirih Nayla dengan pipi Semerah tomat, malu.


__ADS_2