Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Shinta mengikuti semua yang dikatakan Bibi. Agar nanti saat bertemu dengan Rania, Shinta hanya mengangguk dan berkata baik. Bibi ingin pernikahan ini lancar tanpa bantahan apapun dari Shinta.


Hari ini rencananya Rania mengajak Shinta untuk merefresh diri. Apalagi kalau bukan jalan-jalan dan spa. Hari ini adalah jadwalnya calon pengantin untuk dimanjakan. Sebelum esok akan dirias bak ratu. Tubuh Shinta akan dipijat, dimenikur dan dilulur.


Membuat kegalauan Shinta yang ada dalam pikirannya sedikit menepi. Hidupnya setelah ini entah akan jadi seperti apa. Dia hanya bisa berdoa semoga akan baik - baik saja.


Shinta menikmati setiap pijatan dari pemijat spa ini yang pro. Halus dan mantap. Rasanya ingin tidur saja kalau sudah nyaman begini. Setelah pemijatan, Shinta di lulur. Shinta hampir saja tertidur saat itu, kalau bukan Rania yang bercerita panjang kali lebar didekatnya.


Lulur selesai, sekarang Shinta sedang mandi susu. Shinta tak berkata sepatah katapun. Ia hanya diam mendengarkan Rania bicara. Sesekali saja ia jawab dengan senyuman. Tentu saja senyuman yang terpaksa.


Ekspresi wajahnya sulit diartikan. Perasaannya campur aduk. Ia harus menjalani keterpaksaan ini entah sampai kapan. Huuuuh.... Ia hembuskan nafasnya perlahan mencari ketenangan batin.


Rania sangat memanjakan Shinta. Selesai spa, Rania mengajak Shinta masuk di salah satu butik ternama di kota ini. Shinta mencoba berbagai model gaun kebaya khas jawa yang akan dipakai besok. Shinta tampak anggun sekali, memakai kebaya putih dengan belahan depan penuh payet manik dan beberapa berlian swarausky yang berkilauan. Tatanan rambut sanggul sederhana dan mahkota putih dikepalanya dengan anak rambut dikedua ujung keningnya. Sungguh cantik meski hanya memakai polesan yang sederhana.


Beberapa kali si disainer butik itu memuji kecantikan natural yang dimiliki Shinta. Pada dasarnya Shinta memang sudah cantik. Tapi karna dia cuek dengan penampilan dia terlihat biasa saja. Shinta masih tidak peka dengan penampilan mungkin karna dia juga masih kelas satu SMA.


"Sayang, kau cantik sekali. Bagaimana besok pakai yang ini saja ya?" tanya Rania pada Bibi.


"Iya. Itu cocok sekali dengan Shinta." kata Bibi sambil mengangguk tanda setuju.


Selain kebaya yang dipakai Shinta, Rania juga membeli beberapa dres selutut yang cantik untuk Shinta. Setelah selesai dengan gaun, mereka beranjak ke toko perhiasan. Rania langsung membeli tiga set perhiasan untuk mahar dan hadiah pernikahan.


Ketiganya seperti tak punya lelah. Pergi dari toko ke toko. Akhir perjalanan seharian ini adalah barang - barang yang akan digunakan esok hari saat pernikahan.

__ADS_1


Shinta bahkan tidak mengerti karna barang - barang yang dibeli banyak sekali. Dan semua hanya menuruti selera Rania. Shinta hanya menimpali sekenanya.


Barang - barang yang dibeli sangat mahal sekali. Beruntung sekali keponakanku ini bisa menikah dengan seorang Joe Smith, batin Bibi bangga.


***


Dirumah Shinta, kursi meja sudah dihias dengan warna serba putih. Hiasan bunga dan tirai sudah terpasang cantik. Katanya ini sederhana? Ini mewah sekali. Dengan hanya acara ijab qobul saja kenapa harus dihias sedemikian rupa. Di Masjid juga jadi. Entahlah. Toh semua ini orang tuanya yang mempersiapkan semua.


Joe hanya duduk di sofa sambil memegangi ponsel ditangan. Joe malah sibuk menghubungi kekasihnya yang sedari tadi tak membalas pesannya. Joe sungguh gusar karna kekasihnya yang tak menghubunginya balik. Ada kecewa tercetak jelas di wajah Joe. Ia sangat mencintai kekasihnya, walau bagaimanapun ia hanya ingin menikah dengan orang yang ia cintai.


"Selamat ya tuan muda," suara khas itu terdengar datar namun membuat Joe melotot tidak suka.


"Apa?! Jangan ganggu aku," Joe meninggikan suaranya kesal sekaligus jengkel dengan seorang disampingnya kini.


"Saya sudah membawa mobil untuk anda beraktifitas. Setelah ini anda akan tinggal disini bersama nona muda," jelas sekretaris Andi tanpa mengubah mimik wajahnya yang datar.


"Cih! Jangan katakan apapun! Diamlah dan urusi urusanmu sendiri."


"Aku takjub bagaimana kau merapikan rambutmu, sampai tanduk setanmu tidak nampak," kata Joe menepuk bahu sekretaris itu kuat.


Joe sangat mengenal Andi bahkan dari ia masih kecil Andi sudah bekerja bersama Daddynya. Mengawasi setiap saat. Bahkan Joe sangat membenci Andi kalau sudah Andrew memberi perintah, Ia takkan membantah sedikit pun. Bahkan selalu kesempurnaan yang dihadapkan Andi untuk memuaskan tuan besarnya itu.


Sering kali mereka beradu mulut dan pada akhirnya tak ada yang mengalah. Karena Andi pun juga suka berbalas kata dengan nada mengejek dengan tuan mudanya yang kadang kekanakan ini.


"Terima kasih, tuan muda. Rambut saya memang bagus dari sananya tanpa harus di beri Pomade sekalipun seperti tuan muda yang ketampanannya di atas rata - rata ini." Andi tersenyum menyeringai. Senyum itu merendahkan tuannya, yang selalu membanggakan ketampanannya.


Cih! Joe mendengus kesal. selalu saja Andi mampu membalas kata-katanya.

__ADS_1


Berdebatan kedua laki-laki yang beda generasi itu terhenti kala Rania, Shinta dan Bibi masuk ke dalam rumah. Dengan seorang supir dengan banyak paper bag ditangannya.


Shinta sampai dirumah sore hari. Rania menyarankan ia untuk masuk kamar dan istirahat. Bibi sudah mengatakan kalau besok ia sudah mendapat ijin untuk tidak masuk sekolah.


Semua diatur. Aku bahkan tidak berkata apa - apa. Aku seperti manekin ya? Bodoh! Shinta.


Shinta mengangguk pelan. Kemudian melirik dengan ekor matanya pada Joe. Lalu ia menaiki anak tangga itu perlahan masuk kekamar. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang setelah membersihkan diri.


Ia menerawang di langit-langit kamar. Jauh pikirannya membawa ia dalam angan-angan.


Pernikahan yang didamba setiap perempuan adalah tidak dengan kemewahan pesta atau banyaknya mas kawin yang akan diberi.


Pernikahan yang sederhana namun penuh cinta dari dua mempelainya. Mencintai dan dicintai. Saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Itu saja sudah cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga sampai maut memisahkan.


Shinta bahkan tak mengensl cinta. Rasa suka lawan jenis saja masih sering ia tahan karna merasa  belum waktunya untuk memikirkan itu. Tapi sekarang dipaksa mencintai orang yang bahkan asing baginya.


Banyak orang beranggapan, pacaran setelah menikah itu lebih indah. Tapi bagi Shinta? Apa dia akan sepaham dengan suaminya nanti?


Shinta gusar. Hatinya tak tenang. Dewasa menurutnya bisa mengerjakan pekerjaan rumahan, kini harus dewasa mengurus rumah tangga. Apa itu tidak terlalu cepat? Shinta akan lebih tertekan batin dan jiwanya diusia yang masih sangat belia.


***


 


Thanks dah baca... ^_^


jangan lupa like komen tip dan vote selalu ku tunggu ya...

__ADS_1


nanti kan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


Peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2