Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Dejavu


__ADS_3

Selamat Membaca^_^


***


Ulang tahun Shinta tinggal menunggu hari saja. Shinta genap berumur tujuh belas tahun.


Shinta duduk di sofa ruang tengah. Sedang membuka isi tas oleh - oleh dari karya wisatanya. Ia juga membelikan untuk Paman dan Bibi. Untuk dirinya sendiri ia beli baju dan pernak - pernik yang unik. Seperti kalung dan gelang.


Mbak Asih datang dengan jus buah naga dan biskuit gandum.


"Silahkan nona." kata Mbak Asih dengan sopan.


"Makasih Mbak. Ini untuk Mbak Asih." kata Shinta memberikan oleh - oleh untuk Mbak Asih.


"Terima kasih Non," jawab Mbak Asih tulus.


Shinta membuka barang - barangnya yang lain. Shinta membuka paperbag yang diberikan Joe. Isinya sebuah mini dress yang bermerk dari desainer terkenal.


Gaunnya terlihat anggun berwarna hijau pupus. Shinta suka sekali warna - warna kalem begini. Tak mencolok tapi tetap terkesan elegan.


Gaun itu terlihat lebih dewasa. Dengan memperlihatkan sedikit bagian depan. Meski tertutup tile halus di bagian itu. Disepanjang pinggang bertahtakan berlian hijau yang indah. Menampakkan cahaya yang kemilau bila terkena sinar lampu.


Shinta membuka pesan di kotak baju itu.


Selamat ulang tahun. Joe


Shinta terharu. Air matanya menganak. Astaga, ia adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku.


"Terima kasih." bisik Shinta. Sambil memeluk erat gaun indah itu.


***

__ADS_1


Malam ini Shinta menunggu Joe. Ingin mengucapkan banyak terima kasih. Shinta masih di ruang tengah. Sekarang cemilannya berganti dengan potongan buah.


Shinta dengar suara mobil masuk halaman rumahnya. Shinta bersiap. Mbak Asih sudah berlari membuka pintu utama.


Joe masuk rumah. Berjalan menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering minta diberi air.


Shinta ingin menyapa. Namun Joe seperti tak mengindahkan dirinya yang sudah berdiri mendekatinya.


Joe malah ngeloyor ke dapur dengan angkuhnya. Menyebalkan dari dulu! Shinta bergumam. Ia hentakkan kakinya ke lantai.


"Ada apa Nona? Sepertinya Anda sedang ada masalah." tanya Andi yang baru muncul dari arah pintu masuk.


"Tidak Pak." jaawab Shinta sambil menunduk malu. Andi pasti sudah melihat tingkah Nonanya yang kesal diabaikan oleh Joe. Andi tersenyum tipis.


"Tunggu saja Tuan Muda disini Nona." kata Andi mencegah Shinta untuk naik ke atas.


Langkah Shinta terhenti. Dia duduk di sofa kembali. Makan buahnya lagi. Andi menggelengkan kepala. Shinta ini sungguh manis sekali. Penurut.


Kenapa mereka berdua ini? Joe


"Tuan, Nona Muda ingin bicara." kata Andi.


"Ada apa?" tanya Joe mematung ditempatnya. Ia ingin segera naik ke kamarnya.


Shinta hanya menunduk malu. Ada Andi disitu. Joe pun memberi isyarat agar Andi pergi.


Andi paham. Ia pun masuk kekamarnya. Joe melangkah duduk disofa sebelah Shinta. Joe menyandarkan tubuhnya di sofa itu. Merasakan lelah sekali tubuhnya.


"Mas, terima kasih ya atas hadiahnya." kata Shinta sambil menunduk malu - malu.


"Hmmm." jawab Joe. Matanya terpejam. Ia sungguh kelelahan.

__ADS_1


"Aku suka gaunnya." kata Shinta lirih. Joe beralih menyandarkan kepalanya dipundak Shinta.


Shinta terkejut. Secara tidak sengaja ia mendorong kepala Joe kuat. Tidak nyaman bila Joe sudah menempel seperti ini.


"Kenapa?" tanya Joe ketus.


"Nggak nyaman Mas."


"Katanya mau berterima kasih? Begitu saja tidak boleh." Joe berdecih.


"Maksudnya gimana Mas?" Shinta bingung.


"Aku cuma mau bersandar sebentar. Sini!" Joe kesal. Shinta mendekat lagi. Membiarkan Joe melakukan hal yang ia inginkan.


"Begitu dari tadi. Katanya berterima kasih." Joe memeluk tubuh mungil Shinta. Menaruh kepalanya dibahu Shinta. Joe mengosok - gosok wajahnya. Menentukan tempat nyaman untuk memejamkan mata sejenak.


"Nyaman," bisiknya. Shinta hanya diam. Tubuhnya beku seketika. Seperti dejavu ya?


Joe sudah menghembuskan nafas teraturnya. Ia tertidur pulas.


Arghhh! Bahuku mulai kram! Shinta.


 


***


Terima kasih dah baca ya ^_^


Aku tunggu like komen tip dan vote


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya

__ADS_1


Peluk cium DevaNurAna^_^


__ADS_2