Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Makan Bersama


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Joe sudah menunggu di dalam mobil. Sekarang ia ada di depan gerbang sekolah Shinta. Menunggu kepulangan istrinya.


Shinta sangat marah tadi pagi. Tak ayal membuat Joe sangat gelisah. Bagaimana kalau Shinta membencinya? Lebih baik aku dipukulinya. Tuhan, terserahlah dia tidak mencintaiku saat ini tapi jangan biarkan ia membenciku seumur hidupnya. Ah, aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Shinta pasti berfikir aneh - aneh tentang ku.


Joe sudah tidak sabar bertemu Shinta. Beberapa menit berlalu, Joe turun dari mobil. Ingin menyambut Shinta.


"Honey." sapa Joe.


Shinta acuh. Ia melengos masuk ke dalam mobil. Kali ini Joe ada dibelakang kursi penumpang. Daren yang mengendarai mobil itu.


"Honey, look at me. Aku bisa jelaskan semua padamu."


"Apa?! Sudahlah Mas. Aku malas membahas ini."


"Dengarkan aku dulu." Joe meraih tangan Shinta.


"Iya Aku dengar."


"Sepupuku datang dari Amerika. Dia akan berkunjung ke rumah. Kemarin itu aku hanya menemaninya minum di club'. Tidak melakukan apapun. Sumpah!"


"Memangnya apa peduliku? Terserah apa yang kau lakukan mas."


"Terus kenapa kau Semarah ini padaku?"


"Ya karna aku tuh..."


"Kau kenapa?"


"Ish! Aku tuh sebal karena mas selalu bilang hidup sehat. Makanan dengan benar. Tapi apa? Mas Joe malah minum. Memangnya itu sehat?"


"Kan aku hanya minum sedikit honey. Tidak banyak kok."


"Sama saja."

__ADS_1


"Terus sekarang sudah dimaafin?"


"Hmmm."


"Nanti malam dia juga akan menginap. Tidak apa - apa kan?"


"Hmmm."


"Kenapa hanya hmmm hmmm terus sih honey. Katakan sesuatu."


"Aku harus bilang apa? Kau kan yang kepala rumah tangganya."


"Kalau begitu aku minta peluk. Aku lelah. Ingin charge." Joe mendekap Shinta. Menempel seperti biasa. Lengannya bergelayut didada Shinta.


"Lepas! Aku sesak nafas kalau mas Joe begini."


"Sebentar saja." bisik Joe


Hiks. Kenapa aku lemah. Aku tidak bisa benar-benar marah padanya. Huh! Aku benci diriku yang seperti ini.


***


Sebelumnya saat kedatangan Justin, Joe sudah mengenalkan sepupunya itu dengan Shinta.


"Wahhh, kakak ipar. I'm so happy today. I Can meet you. You so pretty girl. Pantas saja sepupu saya ini jatuh cinta."


Shinta hanya menjawab dengan senyuman. Joe disampingnya hanya merangkul bahu istrinya itu yang jelas lebih pendek darinya. Tersenyum dengan bangga.


Justin terus membeberkan bagaimana Joe masih kecil dulu. Menceritakan banyak hal tanpa ada yang bertanya. Tentu saja hanya dibalas dengan senyuman oleh Shinta.


"Jangan berkata lagi Justin. Ayo kita makan." ajak Joe.


Ih! Pembual sekali orang ini. Dia mau bilang aku tidak cantik. Katakan saja! Bersikaplah biasa saja. Jangan berlebihan. Aku memang tak secantik pacarnya mas jonathan, eh? Aku belum pernah lihat fotonya sih. Seperti apa ya pacarnya mas Jonathan?


Saat inilah mereka berada. Makan dengan lahapnya. Shinta sesekali melirik Justin. Garis wajah Justin sedikit banyak ada kemiripan dengan Joe. Ya namanya juga sepupu.


"Aku suka makanan Indonesia. Enak - enak sekali." kata Justin.

__ADS_1


"Ya. Tentu saja enak. Bagaimana kau ingin disini saja? Haha..." Joe tertawa. Mengingat itu tidak akan mungkin. Sebagai orang kepercayaan, keberadaan Justin sangat dibutuhkan di perusahaan Daddynya.


"Tidak. Mungkin setelah tugas darimu selesai aku akan kembali." Justin menyendok makanan itu ke mulutnya.


"Baiklah. Bagaimana kau bisa dapat ijin berkunjung kemari? Bagaimana kau memohon pada Daddy?" Joe memicingkan mata penasaran.


"Ya kau pasti Taulah. Jangan tanya lagi."


"Kau tidak kabur begitu saja kan?"


"Enak saja. Itu sangat berbahaya. Uncle bisa marah besar padaku."


"Kau bisa habis didepan Andi." Joe terkekeh pelan. Andi sama menakutkannya dengan Daddynya.


"Kau tau, dia itu iblis berwajah manusia."


"Haha kau betul. Memangnya tiga tahun bekerja dengannya disini tidak memuakkan?"


"Pasti sangat merepotkan."


"Ya begitulah. Tapi aku suka cara kerjanya."


Hei kalian laki -laki kau pikir aku batu? Mengobrol tanpa melihatku.


Justin melihat Shinta mencebikkan bibir. Justin mengambil gelas untuk ia minum.


"Wah kakak ipar jadi diam saja dari tadi. Maaf, kita memang sudah lama tidak bertemu. Oh ya kalau kakak ipar berkunjung ke Amerika, mampir ke rumahku ya? Aku tunggu kedatangan kakak ipar." kata Justin setelah menghabiskan air digelas itu.


"Eh, iya." jawab Shinta terbata. Mengagetkan saja.


***


terimakasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya

__ADS_1


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2