
Selamat membaca
***
Kenapa mas Joe ingin aku bicara begitu? Apa ini keraguan? Ia ragu padaku?
"Kenapa kau diam? Kau tak ingin mengatakan apapun?" Joe memaksa. Memberondong pertanyaan pada Shinta yang menganga tak percaya. Shinta seperti mencerna setiap kata yang Joe katakan. Setelah penyatuan cinta mereka, ini pertama kalinya Joe ingin mendengar pernyataan cinta dari Shinta. Entah kenapa Shinta jadi bingung karena selama ini Joe tak pernah mempermasalahkan soal kata cinta.
"Apa itu penting bagimu?" tanya Shinta.
"Kenapa kau persulit? Kau tinggal katakan saja kan?" ketus Joe tidak sabar.
"Bukan begitu...."
"Atau kau memang sama sekali tidak ada cinta untukku? Kau hanya membutuhkan aku sebagai teman hidup? Bukan suami yang kau cintai."
"Ap-pa? Mas, bukan begitu." Shinta mengedip cepat. Apa? Kata-kata itu sulit ia cerna.
"Terus apa?" nada suara Joe masih ketus.
"Kenapa kau sensitif sekali?"
"Dari dulu aku memang begini."
"Mas, tidak penting pernyataan cinta atau kata-kata cinta. Yang penting hidup kita selanjutnya kan?"
"Aku juga ingin mendengar kau bilang cinta padaku. Kenapa hanya aku yang selalu mengatakan aku mencintaimu?"
"Kenapa kau kekanakan sekali sih?"
"Aku mencintaimu."
"Iya, aku juga mencintaimu. Puas kan?"
"Tidak. Kenapa harus dipaksa dulu baru bilang begitu. Kau tidak benar-benar melakukannya karna cinta padaku kan?"
Ya Tuhan, kenapa kau berikan aku suami seperti ini. Hihi Shinta tertawa kecil. Memegang tangan Joe erat. Kemudian dengan malu-malu ia mengangkat tangan itu ke udara sampai menyentuh bibirnya.
__ADS_1
Aku pasti sudah gila. Kenapa melakukan hal ini. Tapi daripada ia terus bertanya aneh-aneh lagi. Shinta
Kenapa dia manis sekali. Dia mencium tanganku. Joe
Shinta melepas pegangan tangannya dengan senyuman. Wajahnya tersipu. Joe pun sama malunya.
Joe memegang tangan Shinta lagi dan menariknya. Kini mereka tanpa jarak. Joe memangku tubuh mungil Shinta diatas pahanya.
"Honey, kiss me please." bisiknya di telinga Shinta. Seketika Shinta merinding. Ini bukan kali pertama, namun suara desah di telinga itu selalu membuatnya meradang. Membangkitkan gairah.
Shinta meraba belakang kepala Joe. Menyusuri lekuk tegas leher suaminya itu. Menatap setiap pahatan diwajah tampan suaminya. Joe tak sabar, akhirnya ia yang mematut bibir itu dalam. Merasai setiap manisnya. Tangan-tangan yang merajai situasi itu tak dapat mereka kendalikan. Mereka hanyut dalam cinta yang membara. Menentukan arah mereka selanjutnya.
Joe menarik Shinta keruang tidur di ruangan itu. Mendorong dengan bibirnya yang masih menyatu. Dan selanjutnya mereka hanyut dalam penyatuan cinta.
"Kau benar honey. Kata cinta itu tak perlu diungkapkan. Hanya perlu dirasakan." bisik Joe.
***
"Daddy, we will be called grandma and grandpa, right? Hihi..." Suara itu terdengar sangat bahagia. Suaranya seperti tidak sabar menanti datangnya cahaya di tengah gelap. Cahaya yang mampu memberi ketenangan batin. Bahkan rasa tenang itu tak mampu diucapkan dengan kata-kata.
Wajah paruh baya yang masih terlihat segar itu nampak berbinar. Ia baru saja mendengar kabar dari anaknya yang di Indonesia bahwa sebentar lagi akan memberikan seorang cucu.
"Honey, you're so happy today. Me too." kata Andrew juga bahagia. Anak satu-satunya itu kini telah dewasa. Sudah berkeluarga dan akan menjadi ayah. Sekilas Andrew mengingat bagaimana nakalnya Joe saat masih di Amerika. Tak salah ia mengambil langkah untuk menikahkannya dengan Shinta dan tinggal disana.
Beberapa tahun di Indonesia saja, Joe sudah banyak berubah. Andrew pun merasakan perubahan anaknya. Ada kebanggan tersendiri dihatinya. Benar, anak nakal itu kini sudah berubah.
"I'm very proud of my son." kata Rania dengan bahagia. Rania menjatuhkan kepalanya di dada bidang suaminya. Mengelus dada itu lembut.
"Of course." Andrew memeluk erat. Mengecup puncak Rania dengan lembut.
"Oh ya sayang, sudah disiapkan jadwal keberangkatan kita? Aku sudah tidak sabar akan terbang kesana." Rania menengadah melihat suaminya. Mengedipkan matanya cepat.
"Andi sudah menyiapkannya. Tunggu saja sebentar lagi."
Rania tersenyum. Pasti ini akan menjadi kejutan untuk Joe dan Shinta. Andrew dan Rania akan datang berkunjung ke rumahnya.
***
__ADS_1
Rania turun dari jet pribadi mengaitkan lengannya di tangan Andrew. Mereka sudah tiba di bandara dan siap meluncur ke rumah Shinta. Mereka juga membawakan hadiah untuk Shinta. Ya, mereka sangat menyayangi Shinta, apalagi sekarang mereka sudah akan diberi cucu.
Dibelakang mereka ada Andi. Seperti biasa ia akan sibuk dengan barang bawaan tuan dan nyonyanya. Ia dengan sigap memasukkan semua barang - barang itu ke bagasi mobil. Tak lupa ia membukakan pintu untuk kedua bosnya itu.
"Silahkan tuan dan nyonya." katanya hormat.
Andrew dan Rania membalas dengan senyum. Kedua orang ini amat bahagia. Mereka dari tadi terus saja mengulas senyum. Kini biduk rumah tangga anaknya akan sempurna.
"Sayang, menurutmu bagaimana ekspresi anak kita kalau kita datang? Mereka kan tidak tau kalau kita akan berkunjung." kata Rania memulai percakapan didalam mobil.
Bug! Terdengar pintu mobil ditutup oleh Andi dan mulai berjalan meninggalkan parkiran bandara.
"Hmmm. Pasti terkejut. Memangnya apalagi?"
"Padahal aku ingin lho mengajaknya ke Amerika dan tinggal disana. Aku bisa merawat dia. Pasti dia akan sangat membutuhkan aku sebagai ibu mertuanya. Tapi kalau masih hamil muda begini takutnya akan berbahaya." Rania masam. Andai saja ia bisa membujuk Shinta. Atau Joe yang membujuknya, pasti Shinta sudah mau ia bawa ke Amerika. Tinggal disana adalah tujuan mereka dari awal. Karna di sini, Shinta sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Paman dan bibinya tak mungkin lagi.
"Tenanglah. Yang penting mereka bahagia honey. Masih ada kesempatan setelah mereka punya anak nanti."
"Ah iya sayang. Maaf, aku hanya ingin terus berada disamping mereka, apalagi sekarang Shinta hamil. Ia pasti akan sangat membutuhkan aku sebagai ibunya."
"Kau ingin tinggal disini? Bagaimana butikmu? Mau aku tutup saja?"
"Ish Daddy, jangan."
"Ya sudah. Jangan bicarakan ini lagi."
"Dad, bagaimana kalau aku..."
"Berhentilah berkata hal-hal yang tidak mungkin. Nikmati saja alurnya." Andrew sedikit meninggi membuat Rania kehabisan kata-kata. Rania mencebikkan bibirnya kesal. Kemudian merapat diperlukan suaminya.
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
peluk cium DevaNurAna