
Selamat membaca^_^
Shinta dan Anin sudah naik kelas 2 ya...
***
Shinta dan Anin. Kedua gadis ini sedang melamun berdua di bangku perpustakaan. Tangannya membuka buku didepan mereka Namun pandangan mereka entah kemana. Kosong. Terhanyut dalam pikiran masing - masing.
Sampai Mas Kenzo lulus, dia nggak nembak aku juga. Berharap sekali sih aku ini. Hiks. Anin
Mas Rendra sudah diterima di UNIV diIbukota. Pasti dia senang sekali. Semoga dia bisa meraih cita - citanya. Shinta
Mereka masih melamun. Menerawang dalam pikiran mereka. Lama Shinta hanya membolak - balikkan halaman buku. Tak bisa ia cerna sedikitpun. Anin pun juga sama.
Akhirnya Anin menyerah. Menutup buku itu. Menaruhnya disela - sela buku yang lain. Anin menghampiri Shinta bermaksud mengajak Shinta keluar dari perpustakaan.
"Shin, kantin yuk!" ajak Anin. Shintapun ikut beranjak pergi. Keluar dari perpustakaan.
"Shin, menurutmu Mas Kenzo suka nggak sih sama aku?" tanya Anin tiba - tiba.
"Nggak tau lah. Emang aku cenayang?" jawab Shinta sekenanya.
"Ih Shinta, sejak kapan kamu tuh jadi gitu ngomongnya? Belajar dari Jonathan ya?" tanya Anin sebal dengan jawaban Shinta.
"Enak saja. Belajar dari kamu Nin. Hehe..." Shinta terkekeh.
"Aku sebel Shin, Mas Kenzo sekarang nggak pernah hubungin aku lagi." Anin memasang wajah sedih. Dia itu memang pandai membuat drama.
"Sibuk mungkin Nin. Sabar ya." Shinta menepuk pundak sahabatnya itu.
"Mas Rendra bagaimana?" tanya Anin.
"Mas Rendra mungkin juga sibuk. Aku percaya kok sama Mas Rendra."
__ADS_1
"Pengertian sekali sih sama Mas Rendra. Iri deh! Hehe... kalian tuh romantis tau!" Anin sudah berubah ceria lagi. Shinta hanya tersenyum mendengar pujian sahabatnya itu.
"Gimana sama Jonathan?"
"Biasa aja." jawab Shita acuh.
"Dia masih galak sama kamu?"
"Tentu saja."
"Dia itu manusia atau apa sih? Galak sekali!"
"Mungkin dari orok sudah begitu." Shinta mengangkat bahu.
"Hahaha... Shinta bisa lucu juga ya." Mereka tertawa bersama.
***
Shinta dan Anin sangat antusias. Karya wisata memang sudah mereka tunggu - tunggu dari dulu. Pasti seru bisa liburan bersama.
Shinta duduk disebelah Anin. Anin dan Shinta memesan bakso. Anin makan dengan lahapnya. Sedangkan Shinta hanya mengaduk kuah bakso itu dengan wajah tak berselara.
"Kenapa Shin?" tanya Anin heran. Tidak biasanya Shinta tak menikmati makanannya seperti ini.
"Aku belom minta ijin sama Mas Jonathan," jawabnya sendu. Penuh kesedihan mendalam.
"Aduh... masak iya sih dia nggak ngijinin? Keterlaluan sekali!"
"Kamu tau kan dia seperti apa. Menyebalkan!" Shinta sungguh kesal bila membicarakan Joe.
Tiba - tiba Reno bergabung dimeja mereka.
"Anin kalo karya wisata duduk samping aku ya. Hehe..." kata Reno terkekeh. Reno pun sudah memasang senyum sejuta watt.
__ADS_1
"Apaan sih? Minta tampol ya!" Anin ketus.
"Aduh Anin manis sekali sih kalau marah." Reno memang aneh dari dulu.
"Dasar gila!" Anin melotot.
"Nin, aku ke toilet bentar ya." pamit Shinta. Kemudian beranjak dari duduknya menuju toilet.
Anin pun ikut kabur meninggalkan Reno. Daripada Anin duduk sama Reno mending Anin pergi juga.
"Shinta menyebalkan! Kenapa ninggalin aku sama si Reno itu!" Anin merajuk.
"Maaf. Aku kebelet."
"Sengaja ya biar si Reno tuh kesenengan? Jangan lagi ya! Awas." Anin kesal. Mengancam dengan telunjuknya.
"Iya maaf Anin."
"Pokoknya besok kita harus duduk sebelahan. Aku nggak mau sama dia."
"Kasih aja Reno kesempatan Nin. Hehe..."
"Idih... Kamu aja sana sama dia." Anin manyun. Shinta hanya terkekeh melihat sahabatnya itu kesal sekali.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^
__ADS_1