
Selamat membaca^_^
***
Nayla Rahmawati. Gadis belia berumur delapan belas tahun. Kelas 3 IA 2. Gadis cantik ini anak tentara. Dia sangat manis. Ia punya lesung pipit di pipi.
Nayla punya kulit kuning langsat. Bersih dan halus. Anaknya ramah dan pandai berteman. Ia juga ikut banyak kegiatan seperti anggota OSIS, PMR dan Kepramukaan. Bahkan ia juga didapuk menjadi ketua di kegiatan ekstra itu. Dia sangat cocok diposisi itu.
Sebagai anak Tentara Nayla sudah terbiasa dididik dengan berbagai aturan dan kedisiplinan.
Itu juga diterapkan oleh Nayla pada adik -adik kelasnya setiap kegiatan. Nayla sangat berwibawa. Membuat adik - adik kelas sangat kagum dengan sosok Nayla.
Beberapa hari ini Nayla agak muram. Dia tidak banyak tersenyum dan banyak diam.
Rapat anggota OSIS sudah dilaksanakan tempo hari. Sebelum rapat ia mendengar percakapan Rendra dan Reyhan. Dia terkejut bukan main.
Orang yang ia sayang telah menentukan pilihan. Tapi bukan dia. Nayla hampir menitikkan air mata saat itu.
Nayla tak sanggup menahan gejolak hati. Saat rapat diapun hanya menatap Rendra. Tapi yang dilihat sama sekali tak memandangnya.
Nayla sedih. Diapun jadi tidak waras. Mencari informasi tentang siapa Shinta. Dia bahkan mengawasi setiap keduanya sedang berdua. Perih.
Saat ini juga Nayla berdiri. Memperhatikan dari kejauhan. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan baginya. Air mata itu hampir tumpah.
__ADS_1
Bel masuk menyadarkan dirinya yang mematung didepan kelas Shinta. Nayla lalu beranjak pergi.
***
Nayla sudah bertekad kuat. Ia akan menyatakan perasaannya. Meski ia sudah pasti jawaban yang akan ia dapat. Tentu saja penolakan.
Nayla mengirim pesan untuk bertemu berdua saja. Jamnya ia ambil setelah pulang sekolah di taman kota.
Awalnya Rendra menolak. Tapi Nayla memaksa.
"Ada apa sih Nay? Janjian disini jauh amat. Disekolah kan bisa. Tadi kita juga ketemu." cerocos Rendra seperti biasa.
Rendra bahkan tak peka dengan wajah Nayla yang sudah pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang seperti akan meledak. Nayla menghirup udara dalam dan menghembuskan kasar. Mencoba mencari ketenangan.
Hanya menghadapi Rendra, Nayla tak berdaya. Suaranya pun seperti dicekik hingga hilang dipermukaan.
"Ayolah Nay, lo diem aja. Panas nih! Cari minum yuk!" Rendra melihat ada kedai didekat mereka. Hanya beberapa meter saja. Lain kali ajak Shinta kemari ah, batinnya.
"Re-Ren, deng-dengerin aku." Nayla terbata. Gugup bukan main.
"Kenapa? Gue dengerin Nay. Ya elah lo pakai gagap segala sih! Berasa baru kenal ya. Hehe..." Rendra terkekeh.
"Re-ren... ak-ku su-ka sam-ma ka-mu," Nayla benar - benar gugup. Bicaranya terbata. Setelah mengatakan itu, Nayla menunduk. Merasa malu dihadapan Rendra. Wajahnya memerah.
__ADS_1
Rendra terdiam. Hening sesaat. Rendra juga bingung harus merespon bagaimana.
"Nay, jangan suka sama gue. Lo tau gue suka orang lain," kata Rendra serius. Raut wajahnya berubah
"Aku tau Ren, aku cuma ingin mengatakannya saja. Sebelum kita akan lulus. Aku tak mau menyesal," kata Nayla sendu. Tapi ada lega dihatinya.
"Nay, setelah ini jangan bahas soal ini ya? Gue nggak mau kita jadi canggung. Kita kan ikut kegiatan yang sama,"
"Iya Ren. Aku paham maksudmu,"
"Nay, gue yakin lo bisa dapatkan laki - laki yang lebih pantas untuk lo. Membalas cinta lo. Lo perempuan sempurna yang pernah gue kenal Nay." Rendra benar - benar serius mengatakan ini. Rendra bisa berubah serius seperti itu. Nayla bahkan tak tau Rendra bisa jadi seperti itu. Bijaksana.
Setiap hari yang ia lihat, Rendra memang pecicilan dan suka melucu. Dia populer karna dia tampan dan ramah. Siapa yang tidak mengenal Rendra? Dia bahkan lebih populer dari pada Rahman si Ketua OSIS.
Nayla hampir menitikkan air mata saat penolakan itu keluar dari bibir Rendra sendiri. Namun Nayla mencoba menahan semua. Rendra adalah cinta pertamanya.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna^_^