Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Daren Reynaldo


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Daren Reynaldo. Sudah menunggu di depan ruang direktur utama. Dihadapan nya Nana duduk dimejanya. Tak banyak orang yang ada dalam gedung itu. Hanya beberapa yang harus lembur menyelesaikan pekerjaan yang tak ada hentinya. Banyak revisi, mungkin.


Setelah Joe menjabat sebagai direktur disini, banyak karyawan mengeluh. Joe memang mengharapkan kesempurnaan dalam bidang apapun.


Daren menelan savilanya. Ia tau akan bagaimana pekerjaannya kedepannya. Sekretaris Andi sudah banyak menjelaskan bagaimana berada disamping Joe. Bagaimana Daren harus bersikap dan sebagainya sudah Andi jelaskan kemarin.


Huuuuhhh.... Daren menghembuskan nafas perlahan. Menghirup lagi dan hembuskan lagi. Ia sedang menenangkan diri. Ia sungguh gugup. Kalau hanya ada Daren dan Joe tanpa Andi, itu artinya siap - siap dimakan oleh Joe habis - habisan. Neraka.


Semoga moodnya baik hari ini. Daren mengucapkan mantra berulang. Keringat sudah membasahi tengkuknya. Hiii, merinding dirinya mendengar langkah kaki mendekat kearahnya.


Ia mendongak. Melihat Joe dan Andi. Tatapan Joe seolah sudah ingin menerkamnya. Glek. Jangkunnya naik turun. Daren berdiri tergesa menunduk hormat.


"Selamat datang Tuan Muda." sapa Daren. Ia sengaja berlama menunduk agar Joe tak melihat kegugupannya.


Nana ikut berdiri dan memberi salam seperti Daren. Sungguh mencengkram sekali pagi ini. Harusnya weekend dihabiskan bersama keluarga. Ini malah dapat panggilan mendadak dari si bos untuk masuk kerja. Sungguh tidak masuk akal.


Joe hanya berdiri dengan angkuhnya. Menatap sekilas Daren dan mengabaikan Nana. Ia langsung masuk ke ruang eksekutif itu.


"Masuk." kata Andi menyuruh Daren dan Nana masuk juga.


Tuhan, dia sedang tidak baik. Mampuslah aku sekarang. Daren


Di kursi kebesaran itu, Joe duduk. Memutar kursi dengan menopang dagunya. Tatapannya sinis melihat Daren dari atas sampai bawah. Aku sungguh tidak suka dengannya. Joe bermonolog dalam hati.


"Mulai besok kau bisa mulai bekerja disini sebagai sekretaris pribadinya Tuan Muda." Kata Andi kepada Daren. Andi berdiri disamping tuan mudanya. Melihat ke arah Daren yang menunduk dihadapan mereka berdua.


Ya Tuhan, aku sungguh tidak mengerti tentang tuan muda Jonathan ini. Pak Andi bilang aku hanya harus patuh dan dapat berfikir memberi solusi dengan cepat dan jelas. Hanya itu dan itu membuatku sungguh pusing.


"Ba-baik tuan." kata Daren pelan. Ia belum juga menegakkan kepalanya. Masih dalam posisi nya. Menunduk hormat pada tuannya. Sorot mata Joe masih terlihat tidak suka.

__ADS_1


"Tegakkan kepala mu!" teriak Joe. Seketika Daren gelagapan. Tuannya ini tau, Daren sedang ketakutan. Karna beberapa kali tangan Daren meremas ujung jasnya.


"Ba-baik Tuan." mata mereka bertemu. Joe mengintimidasi. Tatapannya tajam mengarah pada Daren.


"Bagaimana aku mengetesmu ya? Hmmm..." Joe nampak berfikir keras.


Glek. Sudah payah Daren menelan savilanya. Jangan yang aneh - aneh. Ku mohon. Jangan sampai menyuruhku terjun payung. Aku takut ketinggian.


"Andi, serahkan beberapa dokumen yang kau revisi kemarin. Biar dia pelajari."


"Baik tuan." Andi mengambil setumpuk map di meja. Menyerahkan tumpukan itu pada Daren. Daren menerima dengan kelegaan. Untung bukan hal yang sulit ia kerjakan.


"Ubah data tersebut menjadi grafik dan tabel. Aku ingin sore ini selesai."


What? Sebanyak ini harus selesai sore ini? The bos mau membunuhku!


"Ba-baik Tuan." Daren undur diri. Keluar dari pintu ruang direktur itu dengan segunung keresahan. Diikuti Nana dibelakangnya.


"Salam perpisahan? Huh! Aku benci padamu."


"Haha... Saya sudah tau."


"Kau tinggalkan aku. Dan kau beri dia padaku? Lihat wajahnya yang pucat tadi? Belum apa - apa sudah ketakutan begitu. Bagaimana akan bekerja denganku? Pasti selalu membuat kesalahan. Kau tau Aku benci kesalahan." Joe kesal. Dia ingin Andi disampingnya bukan yang lain.


"Tenanglah tuan. Daren akan bekerja dengan baik."


Joe mendesah kasar. Apa boleh buat. Ini keputusan Daddynya. Mana bisa diganggu gugat. Orang tua itu memang selalu seenaknya.


"Andi, sudah berapa tahun kau ikut Daddy ku?"


"Anda yakin ingin tau? Jangan terkejut."


"Kau pikir akan mengejutkan?"

__ADS_1


"Hampir dua puluh lima tahun."


"Seriusly? Itu artinya aku masih kecil sampai sekarang. Hei Andi! Kau menipuku ya?"


"Untuk apa? Sama sekali tak menguntungkan bagiku."


"Berarti kau seumuran Daddy ya? Hei ku pikir kau jauh lebih muda dari daddyku."


"Itu benar. Tuan besar menunjuk saya menjadi sekretaris beliau saat umur saya dua puluh tahun. Saat itu saya masih kuliah di salah satu Universitas terkemuka di Amerika."


"Kok bisa?"


"Anda ingin tau? Baiklah. Sebagai salam perpisahan kita saya akan ceritakan."


Joe berkesiap mendengar Andi bicara. Namun nampak wajah itu hanya mengulum senyum penuh arti. Kemudian Andi terkekeh pelan.


"Anda masih ada jadwal bertemu dengan client siang ini tuan. Cerita saya tidak akan selesai nanti karna akan panjang."


"Sialan kau Andi! Enyah saja kau dari muka bumi ini!"


Joe mengeram kesal. Andi tertawa ringan melihat Joe kesal seperti itu malah sangat menghiburnya.


Cerita saya hanya akan saya simpan dalam hati saja Tuan. Kau takkan pernah mengerti hidup keras yang saya alami.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2