Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Cinta baru


__ADS_3

Selamat membaca


***


Tidak ada waktu untuk bersedih. Tidak ada tempat juga untuk mengeluh. Sudah umur segini, mau cari apalagi? Sudah sukses menjadi dokter. Gelar sudah ia dapat. Hanya pasangan yang belum aku dapatkan. Ish! Kenapa aku jadi mengutuki diriku sendiri. Kembali pada Risya? Tidak akan!


Bruk!


"Anak ini kenapa sih? Ngajak ke sini malah dia yang ambruk duluan. Dokter bisa minum juga, haha..."


"Sudah dari awal dinasehati nggak mau denger. Jadi begini kan akhirnya. Ngancurin hidup sendiri."


"Mantannya yang dulu bagaimana kabarnya?"


"Dia bilang sudah tidak di indo lagi. Ikut suaminya ke Amerika."


"Aku benar-benar pengen ngetawain dia kalau dia sadar. Mantannya aja sudah bahagia, dia masih begini-begini aja. Heran dah!"


"Siapa suruh sih nyusahin hidup sendiri. Rendra... Rendra."


"Jangan bawa pulang nih orang bisa dibunuh sama bapaknya. Bawa kerumah lo aja."


"Iya, gue ngerti."


"Lo tau gak? Gue denger dari Rahman kalau acara reuni kemaren itu Nayla yang usulin."


"Kenapa emang? Tujuannya apa coba."


"Ketemu kita lagi. Masak gitu aja harus jelasin sih!"


"Ah, Lo ada-ada aja. Mana mungkin? Gue nggak percaya."


"Nggak percaya ya udah."


"Kemarin kan Lo tau kalau Nayla bawa temen. Bisa jadi kan cowoknya. Kok Lo bisa mikir gitu."

__ADS_1


Rendra sudah tidak sadar lagi. Sudah berapa gelas ia minum minuman beralkohol itu.


Setelah reuni selesai tadi sore, Rendra, Reyhan dan Kenzo meneruskan reuni mereka di sebuah club' malam. Rendra memang bermaksud untuk menenangkan pikirannya sejenak. Dia tidak pernah minum seperti ini sebelumnya.


Tapi suasana hatinya memang buruk dan inilah jadinya sekarang ia ambruk.


"Kau senang sekarang?" gumam Rendra beberapa kali. Tak tau ditujukan untuk siapa.


Sesampainya di rumah Reyhan, Reyhan langsung membawanya ditempat tidurnya. Meletakkan tubuh yang tak berdaya itu dengan hati-hati.


"Berat banget sih nih orang," keluh Reyhan. "Kalau tau gini gue tinggalin deh disana. Ah, kasian juga idupnya dia dah gini."


Reyhan menghela nafas, sambil berkacak pinggang. Kemudian dengan penuh kesabaran, ia membuka sepatu Rendra dan kaos kakinya.


"Kalau bukan Lo sahabat gue, ogah gue Ren."


Terdengar sayup-sayup dengkuran halus Rendra yang tidak mendengar lagi ocehan temannya.


Uhg! Dasar ka*pret ini!


***


Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita paruh baya mengomeli anaknya. Suaranya berisik sampai orang-orang terbangun. Termasuk Rendra yang semalam tepar habis minum air jahanam. Matanya mengerjap mengamati sekitar.


Kamar Rehan, batin Rendra.


"Udah bangun Lo? Mandi sono!" Kata Rehan yang baru masuk ke kamarnya. Mendapati sahabatnya itu terbangun ia langsung tanggap.


"Oh ya, ganti baju gue dilemari. Ambil sendiri ya, jangan manja!" Lanjut Rehan.


"Thanks ya Re." Lirih Rendra tulus.


"Kalau makasih traktir yang lebih enak dong! Jangan minum-minum kayak tadi malam. Nggak bisa minum malah ngajakin minum."


"Yah, gue juga nggak suka sih sebenernya. Rasanya nggak enak."

__ADS_1


"Mau ngusir galau nggak kayak gitu caranya Ren, nggak dewasa banget sih lo."


"Iya, Reyhan yang sudah dewasa. Alias tua." Kekeh Rendra yang sudah sadar sepenuhnya.


"Ah, sialan Lo! Inget ya, gue hampir muntah cium bau kaos kaki Lo!"


"Haha... Sedep bos!" Kali ini Rendra tertawa lepas.


"Sialan! Tuh cuci kaos kaki Lo daripada minum sampai pingsan."


Rendra bangkit dari tidurnya, masuk ke kamar mandi kemudian membersihkan diri.


Ia memakai setelan kaos oblong dan celana training milik Rehan. Ukurannya memang pas ditubuh Rendra.


Tok tok tok


"Nak Rendra ayo sarapan!" Teriak emak Rehan dari luar kamar.


"Iya Bu." Rendra bergegas keluar untuk sarapan bersama keluarga Rehan.


"Makan yang banyak." Kata emak Rehan tulus. Rehan sudah menceritakan semua tentang Rendra yang patah hatinya dengan emak. Sedikit banyak emak rehan mengerti kesedihan Rendra layaknya anak sendiri yang sedang patah hati.


"Lupakan masa lalu, bangkitlah untuk masa depanmu nak." Kata emak saat Rendra pamit pulang. Rendra mencium tangan emak rehan dengan takzim.


Rendra terdiam sejenak. Memang benar ia harus move on. Benar ia harus bangkit, tapi sulit sekali jika ia akan mulai. Kenapa berat begini.


Rendra memandang wajah emak rehan dengan sendu.


"Pelan-pelan saja. Ikhlaskan dan percaya pada tuhan." Lirih emak rehan sambil mengelus tangan Rendra.


Kenapa bukan ibuku sendiri yang menenangkan hatiku, kenapa harus ibu rehan sebaik ini.


"Main-main ke sini lagi, tapi saat kamu bawa calonmu." Kekeh emak rehan.


"Mak, sudahlah! Dia mau pulang kenapa ditahan terus?"

__ADS_1


"Iya juga hati-hati ya." Kekeh emak.


Kini hati Rendra sudah lega. Banyak yang memberi ia semangat untuk memulai hidup baru dengan cinta baru. Ia akan benar-benar mengejar apa yang harusnya dari dulu ia perjuangkan. Yaitu cinta baru.


__ADS_2