
Selamat Membaca^_^
***
Anin kecewa. Hatinya hancur. Kenapa Kenzo bisa semarah itu padanya. Padahal ia belum menjelaskan apa - apa. Anin merasa Kenzo sungguh egois.
Aku yakin dia salah paham. Mas Kenzo nggak kenal betul dengan Shinta. Mana mungkin ia tau soal Shinta seperti diriku.
Anin meletakkan ayam bakar itu dimeja makan. Tubuhnya seraya lemas tak berdaya. Mama Anin menghampiri anaknya itu.
"Kenapa? Kok lemes gitu sih anak mama?" goda mamanya. Padahal tadi sebelum pergi ceria - ceria saja.
"Nggak papa Mah. Anin kekamar dulu ya Mah," Anin langsung ngeloyor pergi. Tak berselera untuk makan ayam bakar yang baunya sudah menusuk hidung itu. Harum.
"Anin, makan dulu!" teriak mama Anin. Tapi Anin tak menghiraukan mamanya.
***
Anin tampak sendu. Dari beberapa hari yang lalu Shinta perhatikan Anin yang selalu berisik itu tampak pendiam.
Bukan drama seperti biasanya ia tunjukkan. Kali ini benar - benar sudah nampak tak biasanya terlihat oleh Shinta.
"Anin, kamu kenapa?" tanya Shinta saat mereka tengah makan dikantin.
"Nggak kenapa - kenapa kok. Santai saja." ujar Anin. Senyumnya tampak dipaksa. Terlihat bakso dihadapannya pun tak dimakan. Hanya diaduk - aduk sampai kuah itu dingin. Shinta tak percaya kalau Anin tak memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Ada masalah sama Mas Kenzo?" tanya Shinta. Anin kan suka sekali dengan Kenzo. Mungkin karna itu.
"Jangan bahas dia Shin. Dia itu nyebebelin. Katanya dia udah nggak percaya lagi sama aku." Anin
"Sabar ya Nin." Shinta mengusap punggung sahabatnya itu. Menguatkan Anin.
"Dia belum tau yang sebenarnya tapi udah ambil kesimpulan aja. Aku kecewa sama dia Shin." jelas Anin.
"Masalah apa Nin kalau boleh tau?"
"Soal kamu. Aku udah mau jelasin soal Jonathan. Eh dia malah udah bilang nggak percaya. Nyebelin banget tauk!" Anin kesal.
Shinta terkejut. Karna aku? tadi katanya nggak mau bahas? dasar anin!
"Bukan. Gara - gara dia yang sok tau Shin. Bukan salah kamu. Lagian dia itu langsung nge-jugde orang seenaknya. Harusnya dia dengar dulu penjelasannya dong. Semua orang tuh punya alasan tersendiri." Anin berapi - api. Emosinya meluap.
"Anin, sekali lagi aku minta maaf. Aku akan katakan semua sama Mas Kenzo."
"Nggak perlu Shin. Pokoknya kamu nggak perlu pikirin soal Mas Kenzo. Lagian cowok juga masih banyak lagi yang mau sama aku. Hehe..." Anin nyengir. Kau terlalu baik untuk digantikan dengan seorang Kenzo.
"Love Anin," bisik Shinta.
"Idih... Apaan sih? jijay Shinta!" teriak Anin. Semua kantin jadi heboh mendengar teriakan memekak telinga itu.
"Anin berisik!" teriak salah satu diantaranya.
__ADS_1
"Anin toak! " teriak yang lain.
Anin tertawa. Merangkul bahu Shinta. Segala gundahnya terhadap Kenzo hilang. Terlalu bodoh hanya memikirkan laki - laki yang tak percaya padanya. Yang terpenting sekarang dirinya bersama teman yang berharga. Masa remaja itu terlalu singkat hanya untuk mikirin Kenzo.
"Ingat janji kita?" tanya Anin kemudian.
"Tentu saja. Sahabat selamanya." kata Shinta.
"Apapun masalahmu, persahabatan kita yang utama."
"Anin, apa nggak salah ya? Kamu korbanin perasaanmu hanya untuk persahabatan kita?" Shinta takut akan membuat Anin menderita.
"Salah kalau aku akan membencimu dan menjauhimu karna ucapan Mas Kenzo. Aku lebih mengenalmu dari pada dia." Anin tersenyum meyakinkan Shinta. Shinta harus tau, persahabatan mereka lebih penting dari apapun.
Kalau dia cinta padaku, dia akan perjuangkan cintanya untukku. Kalau tidak, masih banyak Kenzo lain yang akan datang padaku. batin Anin
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^
__ADS_1