
Selamat membaca^_^
***
Rendra mahardika. Siswa kelas tiga IA 2 yang terkenal populer karena pandai bergaul dan ramah. Dia anggota OSIS. Ia delalu aktif dalam kegiatan. Dia juga menjadi panitia penerimaan siswa baru saat Shinta mendaftar di SMA Negeri S itu.
Pertama kali Rendra selalu memperhatikan Shinta, Shinta selalu menyendiri. Dia tidak berbaur dengan teman seangkatannya. Shinta bahkan tak punya teman saat pertama kali Masa Orientasi Siswa. Kemudian setelah masa MOS berakhir, Rendra memperhatikan Shinta lagi sudah berada didekat Anin. Rendra jadi mengulik informasi tentang Shinta dari Anin.
Perasaan ini tumbuh tidak terduga. Awalnya hanya perasaan penasaran yang membuncah. Kemudian menjadi sesuatu yang ingin ia gali lagi lebih dalam. Seseorang yang mampu membuatnya menengok meski ia hanya seorang yang penyendiri dan penakut. Seseorang yang misterius bagi Rendra. Pembawaan Rendra yang ceria dan sedikit cerewet membuatnya bingung harus memulai dari mana mendekati Shinta yang introvert. Ia akan terlihat canggung apabila langsung dengan cara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Shinta. Tentu akan membuat Shinta menjauhinya.
Anin selalu mengatakan Shinta terlalu canggung dengan orang baru. Belum pernah pacaran sekali pun. Jadi sebaiknya Rendra mendekatinya dengan bertahap dan pelan-pelan.
Setiap kali dia dan Kenzo mendekati Anin dan Shinta, Rendra melihat Shinta hanya menatap pada Kenzo. Jadi Rendra merasa usahanya memang harus lebih terlihat lagi. Tidak bisa diam - diam lagi. Rendra harus gerak cepat.
Terakhir yang ia lakukan adalah menyuruh Kenzo mendekati Anin. Meski memang Kenzo sendiri juga dengan senang hati melakukannya.
"Sialan! Ini demi lo ya Dra!" kata Kenzo. Padahal senyum licik sudah tercetak jelas disana.
"Eh Set*n! Mana ada terpaksa! Lo keenakan kali!" balas Rendra tau akal busuk temannya itu.
Kali ini, Rendra bertekad memperlihatkan rasa sukanya. Rendra mulai dengan mendekati Shinta sendiri.
Sepulang sekolah Rendra stanby didepan kelas Shinta. Menunggunya. Ingin mengajak pulang bersama. Ia pikir ini akan membuatnya selangkah lebih dekat dengan Shinta.
Itu tujuan Rendra. Mendekat lebih terlihat lagi. Bukan hanya jadi pengikut Kenzo saat mendekati Anin. Kali ini ia lakukan sendiri.
"Hai Shinta," sapa Rendra. Saat melihat Shinta keluar dari kelas sendirian. Shinta sedikit terkejut, karna dia tidak tau kalau Rendra menunggunya.
__ADS_1
"H-hai M-mas." jawab Shinta terbata. Ia gugup sekali. Ini pertama kalinya ia berjalan berdua beriringan dengan laki-laki. Apalagi disampingnya adalah kakak kelas yang populer.
"Pulang bareng yuk!" ajak Rendra.
"A-ku dijemput mas," tolak Shinta. Shinta menunduk malu. Pertama kalinya juga ada seorang laki-laki mengajaknya pulang bareng dan mengantarnyabia pulang.
"Dijemput siapa? Biasanya kan naik angkot." tanya Rendra saat mereka jalan bersama. Ups! Mulut s*alan! Kenapa keceplosan sih? batin Rendra sambil menutup mulutnya sendiri.
"Mas Jonathan, mas." kata Shinta. Ia hanya melirik sekilas kemudian menunduk lagi. Tak biasa ia sedekat ini dengan Rendra.
"Wah, namanya Jonathan pasti cowok ya? Mana mungkin cewek. Kalau cewek namanya pasti Junithin. Hehe." Rendra mencoba melucu meski garing. Yang penting apa saja ia lakukan untuk lebih dekat dengan Shinta.
Entah kenapa meski tidak lucu Shinta tersenyum manis. Rendra melihat itu. Senyum kecil dibalik wajahnya yang menunduk.
Nggak lucu ya? Ah, sial! Aku jadi gagal fokus lihat senyumnya, Rendra.
"Mas Rendra bisa saja." Senyum manis itu masih tercetak jelas di bibir mungil Shinta.
Kemudian karna senyum itu tak terlihat karena posisi wajah Shinta yang menunduk, Rendra memanggilnya.
"Shinta. Lihat aku!" lalu klik. Wajah itu sudah berganti di layar ponsel Rendra dengan senyum manis disana.
"Coba lihat Shin foto kamu, manisnya. Kamu kalau senyum nahan apa sih? Kenapa dikit banget senyumnya coba. Yang lebar dong. Coba kayak gini." Rendra mempraktekkan senyum menganga agar Shinta mengikuti. Shinta hanya tersenyum cekikikan melihat tingkah Rendra yang konyol.
"Mas Rendra lucu banget sih." klik. Senyum lebarnya menjadi koleksi lagi di galeri ponsel Rendra lagi.
"Mas, hapus ah! Jelek tau! Mukaku kucel banget." kata Shinta agak tidak suka dengan kelakuan Rendra yang mengambil fotonya.
__ADS_1
"Mana? Nggak tuh! Siapa bilang kucel? Nanti aku kasih detergen tuh orang! Sekalian pelembut." suara Rendra dibuat sok berkuasa, berhasil membuat Shinta tertawa.
Aku suka senyummu. Manis. Rendra.
Mereka akhirnya sampai di gerbang sekolah. Rendra sengaja belum mengambil motornya diparkiran. Ia ingin menemani Shinta sampai mobil yang menjemputnya datang.
"Kenapa Mas Rendra nggak ambil motor?" tanya Shinta.
"Nggak. Aku mau nemenin kamu sampai dijemput. Kalau nggak dijemput nanti aku antar."
"Nggak perlu mas. Aku bisa naik angkot kok."
"Kenapa naik angkot? Angkot punya rute tertentu. Nggak bisa kamu agak kesana kemari. Kalau aku, bakal nganterin kamu kemana aja yang kamu suka. Hehe..." Rendra menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal. Shinta tertawa kecil lagi. Rendra jadi salah tingkah dibuatnya.
"Maaf ya, aku minta nomer ponsel mu dari Anin. Harusnya aku minta sendiri dari kamu." Rendra serius. Ia merasa bersalah.
"Tidak papa mas." Shinta lembut. Tersenyum.
Mobil Joe sudah sampai tepat didepan Shinta dan Rendra. Kemudian Shinta pamit pada Rendra. Mobil melaju menjauh dari Rendra yang masih mematung.
Siapa Jonathan itu? Supir? Mana mungkin supir begitu? batin Rendra. Sungguh penasaran melihat penampakan Joe yang tidak seperti sopir pada umumnya.
***
Terima kasih sudah membaca ^_^
jangan lupa like komen dan vote ya
__ADS_1
nantikan kisah joe dan shinta selanjutnya...
peluk cium DevaNurAna^_^