Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Tak Menahan Lagi


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Shinta minta diri untuk naik. Ia harus belajar. Untuk ujian kelulusan yang tinggal satu bulan lagi. Ia harus bersiap untuk itu. Biarlah Justin berfikir macam -macam tentangnya. Shinta juga tidak begitu suka dengan Justin itu.


Dari tadi memperhatikan Shinta terus. Shinta jadi tidak nyaman. Shinta duduk berselonjor kaki di ranjang. Membolak - balikkan buku yang sedang ia baca.


Hmmm... Aku jadi penasaran dengan kekasihnya mas Jonathan dulu. Secantik apa ya? Apa secantik artis dunia? Aku kok jadi down ya kalau dia bilang cinta padaku. Seperti kepercayaan diri ini tidak ada artinya. Ya, dia sangat tampan. Makanya aku ragu kalau dia bilang cinta padaku. Apa aku sudah seperti seleranya? Arghhh... Kenapa aku mikirin itu sih? Bikin gak konsen belajar saja.


Pergilah pikiran-pikiran buruk. Aku tidak mau memikirkan mas Jonathan sekarang. Tapi ya memang dia itu manis sih akhir-akhir ini.


Shinta terkekeh pelan. Dia ingat kelakuan Joe yang seperti bocah kamarin. Tanpa ia sadar, laki -laki tampan itu sudah masuk kamar berdiri didepan pintu. Honeyku tersenyum? Manis sekali.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Joe sambil melangkahkan kaki naik ke ranjang. Duduk berselonjor kaki disamping Shinta.


"Kenapa? Tidak apa-apa." jawab Shinta masam.


"Ada yang lucu?" Joe melingkarkan tangannya di bahu Shinta.


"Tidak ada. Lepas ah."


"Jangan bohong ya." Joe meraih dagu Shinta.


"Apa sih?" Shinta ketus. Menepis tangan Joe.


"Aku ingin tau honey."


"Sana sama sepupumu Mas. Temani dia."


"Dia sedang bekerja. Aku tidak mau mengganggunya. Aku ingin disini bersamamu." Joe melingkarkan tangannya diperut Shinta.


"Oh... Apa yang ia kerjakan?"


"Mana aku tau. Itu kan pekerjaan dia."


"Huh! Bohong sekali sih."


"Honey, sedang belajar apa?"

__ADS_1


"Soal- soal ujian. Mas, mana mungkin aku konsen belajar kalau kau begini. Lepasin nggak."


"Hmmm." Joe semakin erat memeluk. Ia sudah menenggelamkan wajahnya dibalik bahu Shinta.


"Oh ya mas. Aku boleh tanya nggak?"


"Tanya apa?"


"Pacar mas Joe seperti apa sih? Masih punya fotonya? Mungkin di sosmed gitu."


"Untuk apa kau ingin tau?"


"Aku hanya ingin tau saja seperti apa orangnya."


"Untuk apa? Hanya kau yang paling cantik dihidupku sekarang. Apa itu sudah cukup?"


Wajah Shinta seketika memerah. Tapi ia langsung memalingkan wajah. Takut Joe melihatnya.


"Ish bukan itu yang ingin aku dengar. Aku ingin lihat orangnya seperti apa Mas." Shinta berkata dengan ketus. Tapi lengkungan bibir itu tercetak jelas.


"Ck! Untuk apa sih? Aku heran sama kamu."


"Tidak!"


"Ayolah mas. Cuma lihat sebentar."


"Aku bilang tidak!"


"Ish pelit sekali sih."


"Aku kan sudah bilang. You are the one. Tidak cukupkah?"


"Ya sudah. Aku menyerah." Shinta menaruh bukunya di nakas. Kemudian membaringkan tubuhnya. "Kau tak ingin aku tau semua tentangmu. Ya sudah! Memang itu tidak penting juga bagiku. Padahal aku cuma ingin lihat saja kenapa Semarah itu. Reaksi berlebihanmu sepertinya masih memendam rasa ya. Kembalilah."


Shinta memiringkan tubuhnya. Menutupinya dengan selimut. Shinta memejamkan mata meski dia belum ngantuk benar. Ia hanya ingin menghindari Joe.


Dia sampai keras kepala menyembunyikan foto pacarnya. Ya terserah apapun yang kau lakukan! Menyebalkan! Dia pasti masih punya perasaan padanya. Huh! Bilang cinta padaku? Aku akan percaya saja begitu?! Tidak!


Joe mendelik. Mendengar penuturan Shinta. Ia ingin aku kembali? Dia ingin mengusirku?

__ADS_1


"Apa?!" teriak Joe. Joe menyibak selimut yang menutupi tubuh Shinta. Menendang selimut itu sampai jatuh teronggok dibawah ranjang. Shinta menoleh. Ia terkejut Joe sampai menjatuhkan selimut itu.


Tangan Shinta akan meraih selimut dibawah ranjang. Namun tangan Joe lebih cepat meraih tubuh Shinta. Mendekap diatasnya.


"Jangan berfikir aku masih ada perasaan pada dia lagi karna aku hanya memikirkan kamu." Seketika Shinta merona namun ia melengos ingin menyembunyikan wajahnya dari Joe.


"Terus kenapa kau tak membolehkan aku melihat fotonya? Coba katakan!" Shinta ketus.


"Karna aku tak ingin kau tau."


"Cih! Masih mengelak kalau kau masih ada perasaan padanya?"


"Argh! Bukan honey! Aku cuma tak ingin kau cemburu." Joe gusar.


"Cemburu? Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu." cih!


"Benarkah?"


"Iya. Turun! Kau berat Mas!"


Joe malah mendekap erat. Mendekatkan wajahnya ke wajah Shinta. Menabrakkan bibir itu agar menyatu.


"Aku tidak akan melepaskanmu malam ini walau kau menjerit sekalipun. Kau milikku. Bersiaplah. Aku takkan menahan lagi."


"Apa?! Tidak!" seketika wajah Shinta pias mendengar kata-kata yang baru saja Joe katakan.


Malam ini akan menjadi malam bagi pasangan ini karna Joe takkan melepaskan Shinta begitu saja seperti yang sudah-sudah.


"I love you Honey." bisik Joe. Saat Joe sudah selesai dengan aktifitasnya.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya


nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna

__ADS_1


__ADS_2