
Selamat membaca^_^
***
Para karyawan terdengar gaduh didepan pintu. Mungkin mereka penasaran apa yang terjadi dengan Bos dan Sekretarisnya didalam ruangan itu. mereka saling pandang mendengar meja digebrak keras sekali. Tapi tak ada satupun yang berani mengetuk pintu atasan itu. Karena bisa jadi kau akan masuk ke kandang singa yang siap menerkammu. Menyalahkan segalanya padamu! Karna bawahan selalu salah dimata atasan. Meski benar sekalipun, atasan adalah yang kebenaran yang hakiki. Kalau kau berani, itu artinya kau cari mati. Begitu batin mereka bergemuruh dan meringis takut.
Namun dengan terpaksa seseorang harus mengetuk pintu itu. Ada tamu didepan yang mencari tuannya.
Andi merapikan jasnya. Kemudian membuka pintu.
"Ada apa Daren?" tanya Andi saat menemukan Daren didepan pintu.
"Tidak Pak. Hanya tadi terdengar gaduh didalam. Apa bapak baik - baik saja?" Daren tampak khawatir.
"Seperti yang kau lihat Daren. Teruskan kerjamu!" Andi menepuk bahu Daren kuat.
"Pak, ada yang mencari Bapak di luar. Katanya penting." Daren memberi laporan.
Andi menoleh Daren, bersiap mendengar penjelasan Daren selanjutnya.
"Dia bilang Pamannya Shinta." terus Daren. Andi tersenyum kecut.
Akhirnya datang juga. Andi
"Suruh masuk. Ambilkan minuman juga." Andi masuk kembali keruang kerja Joe. Melihat Joe yang sedang frustasi dengan pikirannya sendiri.
Joe mendengar langkah kaki Andi yang duduk disofa. Menyilangkan kaki dengan angkuhnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Joe. Ia masih memijat kepalanya.
"Bersiaplah Tuan. Paman Shinta datang." kata Andi datar.
Joe terbelalak. Ia sangat terkejut. Tak menyangka Paman shinta datang. Andi bahkan belum keluar dari tempat GYM ini untuk menumui Paman Shinta. Menawarkan kerja sama. Kini orang itu datang dengan sendirinya.
"Bersihkan wajah Anda Tuan." Andi menyadarkan keterkejutan Joe.
Joe masuk kamar mandi. Membasahi wajahnya yang terlihat kusut karna emosinya yang naik karna ancaman Andi dengan air. Mengelap cepat.
Joe bersiap. Merapikan blezernya. Mengelap sisa - sisa air diwajahnya. Merapikan rambutnya.
Kini ia sudah siap bertemu Paman Shinta. Tersenyum semanis mungkin. Berkata semanis mungkin.
"Silahkan duduk Paman." kata Joe sopan. Sudah berbeda 180 derajat dari semula. Panggung ini sudah dibuka, siap mempertontonkan akting terbaik dari seorang Joe Smith. Lihat apa dia bisa membedakan aslinya Joe.
Andi berdiri disamping sofa yang diduduki Joe. Menunduk hormat pada Paman.
"Ada apa Paman kemari? Tempat GYM saya bahkan belum buka Paman." Joe tersenyum sangat hangat. Mengakrabkan diri dengan Paman. Seperti layaknya ponakan sendiri.
"Ah, iya. Kapan akan buka nak? Apa Paman bisa membantu? Kau tak perlu sungkan meminta bantuan pada Paman. Karna kau juga keponakan Paman," kata Paman. Hanya perbincangan basa - basi.
"Terima kasih Paman. Saya sangat senang Paman menyempatkan diri datang kemari." Joe tetap tersenyum meski ingin memaki. Dia seumuran Daddy, jangan sampai aku kualat! Joe.
"Begini nak. Pak Andrew kan pengusaha besar di Amerika. Pasti profit perusahaannya yang didapat pasti besar ya." Paman mulai mengutarakan niatnya.
"Tentu saja Paman." Joe mendengarkan setiap kata Paman Shinta. Menunggu tujuan yang ingin Joe dengar. Ayo katakan semuanya!
__ADS_1
"Apa Tuan Andrew mau berinvertasi di perusahaan saya?" Paman Shinta berkata dengan gugup. Takut ada salah kata. Ini kesempatan mendapatkan bantuan.
"Apa yang akan didapatkan oleh Daddy bila berinvestasi di Perusahaan Paman?" tanya Joe mulai serius.
"Wah, kau langsung tanggap ya?" Paman tergelak. Joe ternyata paham betul apa yang dibicarakan.
"Tentu saja Paman. Saya juga bisa menjadi investor di Perusahaan Paman." Joe tersenyum.
"Benar. Kau kan penerus Daddymu. Saya hampir saja lupa nak." Paman sangat lega. Tak perlu jauh menghubungi Tuan Andrew di Amerika. Joe pun pasti sudah cukup jadi investor di Perusahaannya.
"Haha... Paman berlebihan. Saya hanya pesuruh Paman." Joe tergelak.
"Siapa yang akan mewarisi Perusahaan besar Daddymu. Pastilah kau nak."
"Tentu saja saya dan Shinta nanti Paman yang akan meneruskan, apalagi nanti bila kami punya anak - anak yang lucu." Joe berkata tanpa sadar.
Hah? Kenapa pembicaraan ini semakin aneh? Tuan muda berkata anak - anak? Wah, ada apa ini? Andi
Joe tersenyum lebih lebar. Mangsanya datang sendiri menyerahkan diri. Semakin mudah saja tujuan Joe.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote ya
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna^_^