
Selamat membaca^_^
***
Rendra masih ingin berlama - lama bersama Shinta. Rendra mengajak Shinta di sebuah taman bunga. Shinta pun tak keberatan.
Bunga - bunga warna - warni menghiasi taman kota itu. Cantik. Meski tak begitu luas, sudah memanjakan setiap mata yang melihat.
Shinta duduk di kursi taman. Membelakangi bunga - bunga itu. Rendra ikut duduk. Rendra mengeluarkan ponselnya dan memotret dirinya duduk bersama Shinta dengan background taman bunga. Indah.
"Shin, apa kamu senang?" tanya Rendra tiba - tiba.
"Aku senang mas. Makasih ya mas." kata Shinta tulus.
"Beneran? Mau kesini lagi kapan - kapan?" Rendra antusias.
"Ya boleh mas." Shinta tersenyum manis.
"Jangan senyum terus dong Shin. Aku nggak tahan nih pengen cubit!" Rendra bersiap mengangkat kedua tangannya ingin mencubit pipi Shinta.
Shinta mundur. Tak ingin tangan Rendra meraih pipi Shinta. Shinta menangkup pipinya sendiri.
"Jangan mas. Sakit nanti pipi ku."
Rendra terkekeh. Gemas bukan main. Gini amat ya hidup gue? Berasa bunga - bunga sudah memenuhi diri gue, batin Rendra.
Hari sudah hampir gelap, akhirnya Rendra mengantar Shinta pulang. Mereka sampai dirumah Shinta sudah malam. Bahkan sang mega sudah tenggelam beberapa menit yang lalu. Shinta turun dari motor Rendra, melepas helmĀ dan memberikannya pada Rendra.
"Maaf ya Shin, sampai malam gini. Kalau ada yang marah bilang aku ya? Nanti aku kepret deh." kata Rendra sok jago.
"Mas Rendra berani?" Shinta mencibir.
__ADS_1
"Beranilah! Demi kamu."
"Apaan sih mas?" Mereka tertawa cekikikan. Andi berdehem. Menghentikan tawa mereka. Shinta langsung pias. Sejak kapan berdiri disitu**?
"Siapa? Pamanmu?" tanya Rendra berbisik.
"Bukan. Beliau pak Andi. Dia sekretarisnya mas Jonathan." jelas Shinta.
"Ngapain dia dirumahmu? Numpang tidur?"
"Ssttt jangan keras - keras nanti dia dengar."
"Biarin aja! Memang Jonathan itu siapamu sih sampai sekretarisnya ada dirumahmu malam - malam begini?"
Shinta tak menjawab. Dia melirik Andi yang masih mematung di depan pintu. Tatapannya terlihat datar, namun Shinta jadi takut.
"Mas, sudah malam. Nanti dicariin mamamu lho mas," kata Shinta mengalihkan pembicaraan.
"Maaf mas. Tapi ini memang sudah malam. Jangan ngambek ya? Nanti aku telfon deh." Shinta merayu.
"Janji ya? Ya udah aku pulang. Mimpi-in aku ya Shin?" Rendra menyalakan mesin motor.
Shinta melotot. Rendra sudah terang - terangan begini mana mungkin ia salah mengartikan. Tapi tanpa pernyataan cinta semua itu masih abu - abu.
"Dah..." Shinta melambaikan tangan. Melihat motor itu keluar dari komplek perumahan. Hilang ditelan kegelapan.
***
Shinta sudah selesai membersihkan diri. Ia duduk dimeja belajar. Hendak mengambil ponsel untuk menghubungi Rendra seperti yang sudah ia janjikan.
Belum sempat melakukan panggilan, mbak Asih memanggil Shinta untuk menemui Andi dibawah. Shinta jadi deg - degan. Apa karna tadi aku pulang sampe malam? Ya pasti dia marah. Huuuuh... Untung bukan mas Joe yang marah pasti akan jauh lebih menakutkan. Eh? Tapi aku juga nggak tau sih kalau pak Andi itu marah. Serem nggak ya? Wajahnya biasa saja sih.
__ADS_1
"Ada apa pak Andi?" tanya Shinta saat sudah didepan Andi.
"Duduklah nona." kata Andi datar. Shinta patuh. Duduk di sofa depan Andi.
"Apa tuan mengatakan sesuatu sebelum berangkat?" tanya Andi. Menatap nonanya dalam.
Shinta hanya menggeleng pelan. Kemudian menunduk. Situasi macam apa ini? Aku diadili?
"Apa Tuan muda tidak mengatakan untuk menjaga diri?" Andi bertanya suaranya nampak datar. Tapi matanya itu mengintimidasi sekali. Auranya kuat syarat akan kemarahan yang ia tahan.
Shinta mengangguk. Suaranya seperti hilang entah kemana. Hanya gerakan tubuhnya yang menjawab. Ia terlalu takut untuk menatap Andi di depannya. Shinta meremas erat ujung bajunya.
"Anda tidak perlu takut nona. Aku hanya memastikan tuan muda tidak akan marah jika tau semuanya." kata Andi.
Shinta mendongak. Melihat sekilas wajah Andi yang tenang.
"Memangnya kenapa kalau tau? Biarin aja. Aku nggak peduli." Gumam - gumam Shinta.
"Tuan muda sudah sakit hati karna pacarnya yang berkhianat. Jangan sampai dia akan dikhianati istri juga." jelas Andi.
Shinta tertunduk. Masih berkelut dengan perasaannya. Sedangkan Andi tersenyum penuh arti.
Kenapa harus bilang padaku? Harusnya dia sadar untuk menganggap ku kayaknya seorang istri. Paling tidak jangan marah - marah padaku setiap hari, Shinta.
***
Terima kasih sudah membaca ya^_^
Jangan lupa like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
__ADS_1
Peluk cium DevaNurAna^_^