
Selamat membaca
***
Jantung Shinta berdegup kencang. Nafasnya memburu seiring tatapan Joe yang tajam. Ia tak berani membuka percakapan.
Shinta merebahkan tubuhnya di ranjang. Bersandar di kepala ranjang. Sesekali memperhatikan gerakan Joe berjalan ke sana kemari masuk ke kamar mandi.
Shinta menghela nafas berat. Ia merasa bersalah. Itulah mengapa ia sangat takut mengeluarkan suara.
Apa mas Joe marah? Ya, pasti marah. Dia pasti kecewa padaku kan?
Shinta menarik selimut. Menutupi sebagian tubuhnya. Ia belum ingin tidur. Matanya tak bisa ia pejamkan.
Pertemuan dengan Rendra sungguh mengejutkan dia. Apalagi ditambah Joe ada disampingnya. Melihat dia pingsan karena laki-laki lain? Apa itu bisa di terima? Shinta ingin sekali meminta maaf pada Joe. Shinta takut memulainya. Ia pun tak bisa menahan bibirnya memanggil nama Rendra.
Mas Joe pasti sedang menahan amarahnya. Mana mungkin ia bisa setenang ini dengan pertemuanku dengan Rendra.
Joe akhirnya keluar dari kamar mandi. Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Shinta terpengarah. Menatap mata Joe. Ia bangun dari tidurnya. Menghampiri Joe yang masih fokus mengeringkan rambutnya.
"Ma-mas, ma-maaf." bisiknya pelan. Memeluk Joe dari belakang.
"Kenapa?" tanya Joe seolah tak terjadi apapun. Ia menaruh handuk itu. Membalik badannya.
"Soal tadi siang. Aku minta maaf. Jangan marah. Aku takut."
Joe meraih tangan Shinta mengajak untuk duduk diranjang. Shinta duduk bersandar di kepala ranjang. Joe mengulas senyum, namun bagi Shinta senyum Joe kali ini sungguh dingin. Shinta tak bisa melihat kehangatan seperti biasanya Joe.
"Tidak apa-apa." Joe mengelus rambut Shinta lembut.
"Mas... Aku salah. Aku minta maaf." Shinta berkata dengan bergetar.
"Kenapa menangis? Aku nggak marah kok." Joe meraih tubuh Shinta. Memeluk erat.
"Kalau kau menangis seperti ini, berarti kau membenarkan perasaan mu terhadapnya masih ada. Iya kan?" batin Joe. Tak sanggup ia keluarkan unek-uneknya. Sudah pasti itulah kenapa istrinya sampai begini.
__ADS_1
"Mas... Maaf."
"Sudahlah. Aku tidak apa-apa."
"Tidak. Aku mohon, jangan tinggalkan aku."
"Tidak akan. Berhentilah menangis."
Joe sudah menenangkan Shinta. Akhirnya Shinta tidur pulas. Joe keluar dari kamar menuju garasi mobil. Ia memutuskan untuk mencari udara segar di luar.
"Justin. Kau dimana?" Joe mendengar suara musik keras saat sambungan teleponnya tersambung.
"Apa?! Aku tidak dengar!" Justin tak kalah berteriak. Suaranya tenggelam diantara suara musik club' biasa ia tempati untuk melepas kesenangan.
"Keparat! Dimana?!" Joe mengumpat gusar.
"ClubNue. Ada apa? Jangan ganggu aku."
"Aku kesana."
Joe ingin melepas pikiran. Mungkin sejenak akan menenangkan batinnya yang sedang kacau. Ia cemburu. Tentu saja. Hatinya sama sekali tidak tenang. Namun sekuat tenaga ia coba tahan karna Shinta sedang hamil. Joe tak mau Shinta stres. Itu bisa berdampak pada kehamilannya.
"Ada apa sih? Tumben sekali mau masuk club' begini? Katanya sudah tobat, hidup sehat. Tidak kenal alkohol." cerocos Justin dengan wajah yang sudah setengah memerah karna kebanyakan minum.
"Aku kesini juga tidak untuk minum." kilah Joe. Mengedarkan pandangannya pada wanita -wanita yang menemani Justin saat ini.
Dengan telunjuknya Justin mengarahkan salah satu wanita untuk menemani Joe. Tapi Joe mengibaskan tangannya agar wanita itu tetap berada disamping Justin saja.
"Terus untuk apa? Disini tidak ada kopi. Haha..." Justin oleng.
Joe hanya diam. Ia sandarkan tubuhnya.
"Kau galau ya? Pulang sana ke negaramu. Sepertinya Daddymu membutuhkanmu." rancau Justin.
"Aku masih memikirkannya. Mungkin setelah Shinta melahirkan aku akan pergi."
__ADS_1
Dengan tawa tanpa sadar, senyum devil Justin ia perlihatkan.
"Masih lama bro. Perusahaan sudah mencari dirimu untuk penerusnya. Kalau kau kembali, aku juga akan kembali. Aku sudah bosan disini. Ayolah kembali."
"Bagaimana dengan anakku? Shinta?" bisik Joe dalam hati.
"Ajak saja istrimu itu." Justin merancau lagi.
"Dokter bilang kondisi Shinta tidak memungkinkan. Aku tidak mau. Terlalu beresiko untuk anakku."
"Sial, rumit juga hidup mu bro. Siapa suruh jatuh cinta padanya. Haha... Cinta hanya membuat kau gila."
Cih! Kenapa aku harus kemari? Ah, aku memang tidak punya teman selain dia. Sial!
"Apa salahnya? Dia anak yang polos. Lugu. Mana mungkin aku tidak suka padanya."
"Ya, terserah! Tapi aku rasa logikamu sudah mati. Dari awal kan kau sudah pernah bilang tidak akan jatuh cinta padanya.
"Ah, kau itu polos! Dulu dengan Carol juga begitu. Carol yang manis. Carol yang tidak tau apa-apa harus bekerja keras menghidupi dirinya dan keluarga. Makanya kau pacaran dengannya. Menghabiskan tabunganmu untuk memberinya kehidupan yang layak. Kini apa?"
"Aku yang meninggalkan dia. Bukan dia yang meninggalkan aku."
"Terserah ya bro. Yang jelas semua sama. Wanita manapun sama."
"Pulanglah. Kau sudah banyak minum."
"Antar aku. Mana mungkin orang mabuk bisa pulang sendiri. Ha? Haha..."
***
Maaf lama updatenya ya guys... 😊🙏
semoga tidak lupa dengan ceritanya. huhuhu....
Shinta dan Joe masih menunggu like dan komen tip dan vote ya
__ADS_1
terus nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya...