
Selamat membaca^_^
***
Joe duduk di ruang kerjanya. Membaca laporan kerja hari ini. Banyak laporan dari orang kepercayaan Andi di perusahaan Paman. Andi memang sudah mengutus beberapa mata - mata.
Bagaimana kinerja Paman dan petinggi - petinggi disana. Sepertinya Paman betah dalam posisinya. Belum menemukan jawaban dari pilihan Joe tempo hari.
Joe mendengus kesal. Orang tua ini-Paman- memang menguji kesabarannya. Atau ingin menantang kemampuannya.
"Jangan biarkan dia terlalu lama. Bereskan saja sekarang." kata Joe kesal. Orang tua itu -Andrew- sudah menyuruhnya untuk segera menyelesaikan tugasnya. Jika perusahaan itu sudah beralih tangan, tinggal Shinta bagaimana mengurusnya.
Joe menerawang dalam. Pikirannya bimbang. Banyak yang difikirkan terutama tentang Shinta. Shinta tak menyukai Joe. Perasaan Joe sedang gamang. Semakin susah saja mendekati hati Shinta. Apa ini karma karna telah membebaskan perasaan Shinta memilih Rendra?
Hah.... Joe menghela nafas berat. Perasaannya kini memang sudah berubah.
Kalau tau begini, dari awal aku takkan melepaskan hatinya untuk laki - laki lain. Shinta jadi lebih menjaga hatinya dariku.
"Baik, Tuan Muda. Apa masih ada lagi yang ingin Anda ingin katakan?" Andi menatap tuan mudanya penuh tanya. Joe nampak gundah gulana.
"Pergilah! Jangan urusi aku!" Joe nampak tidak suka dengan pertanyaan Andi. Sekretaris yang ingin taunya sangat besar itu.
"Mungkin saja saya bisa membantu, Tuan." Andi datar. Andi sudah hafal ekspresi tuan mudanya sedang menyimpan beban pikiran.
__ADS_1
"Tidak! Kau tidak bisa membantuku." Joe masih dengan nada kesal. Tak mungkin Andi akan membereskan masalahnya kali ini. Ini masalah perasaan. Akan susah diselesaikan.
"Benarkah? Apa yang tidak bisa saya lakukan untuk tuan muda?" Andi punya seribu cara untuk membuka mulut Joe bicara.
"Kau tak kan bisa mengubah perasaan Shinta." Joe berdiri. Menatap keluar jendela. Melihat orang berlalu lalang ditrotoar. Kendaraan yang berkejaran dijalanan yang penuh sesak. Sesesak hati Joe sekarang.
"Bagaimana perasaan Nona Muda?" Andi mendekat. Berdiri disamping Joe. Melihat apa yang dilihat Joe. Tapi Andi tau, pikiran tuannya ini tak seperti apa yang ia lihat dengan netra birunya.
"Dia tidak menyukaiku." lirih Joe. Mengandung kesedihan mendalam.
"Bolehkah saya tertawa? Haha..." gelak Andi. Menertawakan kegalauan Joe. Ketampanan yang selalu dibanggakan kini tak ada artinya dimata Shinta.
"Diam! Beri aku solusi agar aku masih disini bersamanya." teriak Joe. Menatap tajam Andi.
"Apa?" Joe sinis. Orang tua ini bisa - bisanya tertawa didepanku. Menyebalkan!
"Katakan saja apa yang ingin Anda katakan pada Nona, Tuan." Andi menepuk bahu Joe berulang. Menguatkan.
"Apa? Ah kau ini! Selalu tidak jelas. Bicaramu bijak tapi aku sama sekali tidak paham." Joe mengibaskan tangan Andi kasar. Tatapannya seperti mengatakan jangan sentuh aku! Setelah kau puas menertawakan aku!
"Cih! Bodoh sekali!" Andi kesal. Begitu saja tidak tau.
"Jangan mengataiku bodoh! Katakan saja semuanya." Joe berteriak lagi. Memekak telinga.
__ADS_1
"Haahhh! Lama bersama Anda membuat uban saya terus tumbuh. Anda ini benar - benar merepotkan!" keluh Andi.
"Jangan bertele - tele!"
"Baiklah. Saya katakan sekali saja. Katakan Anda menyukainya."
"Apa semudah itu?" tanya Joe menyatukan alisnya. Berfikir keras.
"Apa saya tau jawabannya? Lama - lama Anda jadi tidak waras." Andi membalikkan tubuhnya. Duduk kembali di sofa. Menyilangkan kaki dengan angkuhnya.
"Kurang aj*r! Bereskan Paman sekarang! Jangan urusi hidupku!" Joe gusar.
Tuan Mudaku ini sedang patah hati rupanya. Kasian. Andi
***
Terima kasih sudah membaca^_^
Jangan lupa like komen tip dan vote ya
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya
Peluk cium DevaNurAna^_^
__ADS_1