
Selamat membaca
***
Shinta menyisir rambutnya. Menyisir sekenanya dengan buku-buku jarinya. Menyelipkan kedua sisi di belakang telinga. Shinta menoleh, menatap Joe yang membelakanginya. Joe sedang merapikan kemeja dan jas didepan cermin.
Shinta tersenyum, memandang tubuh Joe yang begitu menawan. Body atletis itu membuatnya berdecak kagum. Lihat saja roti sobeknya, bikin gemas ingin menyentuhnya lagi. Shinta selalu merasakan debaran aneh kala tangannya menyentuh kulit lembut Joe. Selalu mampu membuat jantungnya naik turun. Sampai ia bisa merasakan gairah berdekatan dengan Joe. Shinta tersipu, memalingkan wajah. Ia malu pada dirinya sendiri. Mesum! bisiknya.
"Honey," panggilan mesra itu terdengar sangat hangat.
Shinta terpengarah, berdiri mendekati suaminya. Menatap netra coklat Joe penuh kehangatan. Meraih dasi suaminya untuk ia rapikan. Mengelus dada itu lembut yang sudah di balut dengan kemeja putih. Bersih. Bibir Shinta terus melengkung searah gerakan tangannya yang manja.
"Kenapa?" tanya Joe, melihat tingkah Shinta yang memainkan jemarinya di atas dada bidang Joe.
"Ah, tidak apa-apa mas." Shinta tersipu malu.
"Apa ada yang kau inginkan? Katakan," Joe mengelus pipi Shinta lembut, menambah merona wajah Shinta. Menaikkan sedikit dagu lancip Shinta agar bersitatap dengan mata Joe.
"Tidak. Aku pamit ya, aku pulang dulu."
"Aku minta maaf ya. Tidak bisa mengantarmu. Biar supir kantor yang antar."
"Tidak masalah mas." Shinta mengambil tas dan beberapa buku yang ia taruh di meja. Kemudian melambaikan tangan pada Joe.
"Tunggu." cegah Joe.
"Ya? Kenapa mas?"
Joe memegang pipi Shinta, menangkup wajah Shinta agar hanya menatapnya. Joe menatap sambil menyondongkan wajahnya kedepan. Sangat dekat dengan Shinta. Shinta bingung. Suasana jadi hening sesaat.
"Kenapa mas?"
"Diamlah. Aku hanya ingin menscan wajahmu sebentar."
"Eh? Apa?" Shinta mengulum senyum. Ada - ada saja. "Hentikan. Aku mau pulang." Shinta menepis tangan Joe.
"Kau tak melupakan sesuatu kan?"
"Apa? Tidak ada sepertinya."
"Kiss me."
"Hmmm?" Shinta membulatkan matanya, mengerjapkan matanya. Seketika hatinya berbunga seiring senyum manis yang ia ciptakan. Joe sudah memenuhi isi hatinya penuh sampai meluap - luap. Shinta sangat bahagia.
Cup! Shinta menabrakkan bibirnya di pipi Joe cepat. Ia sungguh tak terkendali hari ini. Rasanya memiliki Joe seperti memiliki seluruh dunia di tangannya.
"Sudah kan? Aku boleh pergi?" tanya Shinta melambaikan tangan.
"Kau mesum ya sekarang? Berani menciumku." Joe merengkuh tubuh Shinta, mencium puncak Shinta.
__ADS_1
"Kan mas yang minta."
"Biasanya harus berdebat dulu." gumam Joe.
Shinta terkekeh. Kemudian ia merenggangkan dekapan Joe. Joe dengan berat hati harus melepas pelukannya. Padahal kalau tidak dalam posisi sibuk, ia ingin mengantar Shinta sampai rumah.
Shinta melangkah menjauh meninggalkan Joe sampai melambaikan tangannya.
***
Shinta tak langsung pulang. Ia memutuskan untuk pergi ke sebuah rumah. Yang ia yakini rumahnya Anin. Sudah beberapa hari saat membeli martabak waktu itu. Di depan gerbang tinggi, Shinta memencet bel. Rumah Anin masih tetap sama seperti dulu.
"Silahkan masuk Shin." kata Anin saat membuka pintu gerbang rumahnya.
Shinta tak sungkan untuk segera masuk. Memang sudah lama ia tak berkunjung ke rumah Anin. Tapi bukan berarti membuatnya canggung. Anin membawa Shinta ke ruang tengah untuk berbincang-bincang disana.
"Aku kaget lho saat kamu mau kesini? Ada apa hayo?"
"Nggak ada apa-apa kok." Shinta mengikuti Anin masuk ke rumahnya. Mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Anin memandang sesaat wajah Shinta yang begitu pucat. Sepertinya tidak enak badan. Atau banyak pikiran. Shinta itu mudah ditebak perangainya. Apalagi Anin yang sudah tau bagaimana Shinta. Sifat dan kelakuannya dimatanya tak pernah berubah.
"Mau minum apa?" tanya Anin.
"Nggak usah." Shinta menarik tangan Anin.
"Eh, ada apa? Berantem lagi? Kalian itu ya tiada henti tanpa berantem." cerocos Anin sebal dengan sahabatnya itu.
"Nggak. Cuma...."
"Aku hamil."
"What?! Serius? Senengnya bisa barengan sama aku dong. Hehe..." Anin tersenyum gembira.
"Nin, sebenarnya aku tuh belum siap hamil. Tapi, kayaknya mas Joe sangat menginginkan ini. Aku..."
"Udahlah... Jangan banyak pikiran. Fokus aja sama kehamilanmu." Anin menepuk pundak Shinta.
"Nin, apa aku terlalu egois ya?"
"Kamu ngomong apa sih? Apalagi yang kamu pikirkan?"
"Aku takut nin."
"Nggak usah takut, aku aja nggak takut kok. Semangat dong jadi ibu muda. Hehe.."
"Kamu merasa nggak sih dari dulu aku sama mas joe itu beda."
"Ya emang bedalah. Kalian kan beda negara. Beda umur, beda kebiasaan, beda banyak sih ya. Tapi aku bersyukur, dia mencintaimu begitu besar."
"Aku masih takut kalau sewaktu-waktu mas Joe ngajak aku ke Amerika."
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya itu menyenangkan? Kamu bisa tinggal disana. Kapan lagi coba bisa tinggal di Hollywood. Ah, aku mah pengen banget Shin."
"Takut aja. Kalau mas Joe ketemu mantannya." dan ninggalin aku. Dilihat dari manapun, aku bukanlah wanita yang sesuai dengan kriteria mas Joe.
"Ya elah. Mau punya anak masih ragu sama Joe? Kamu tuh ya suka gitu deh. Banyak pikiran yang nggak jelas."
"Aninnn..." Shinta mengeram.
"Lebih baik kamu genggam erat tangannya dan berkata i love you so much my husband. Gitu." Anin terkekeh. Menggoda Shinta yang manyun sebal dengan ejekan sahabatnya.
"Eh, nak Shinta. Ayo sini." suara Mama Anin menghentikan obrolan Anin dan Shinta. Langkah mama Anin mengayun pelan menuju Shinta.
"Lho? Tante dirumah? Siang Tante." sapa Shinta.
"Iya. Ayo lanjut ke meja makan saja ngobrolnya Shin.Tante lagi buat cheese cake nih. Kamu harus cobain!"
Mama Anin melambaikan tangannya menyuruh Shinta dan Anin pindah tempat.
" Shinta udah lama nggak kesini. Tante kangen banget lho."
" Maaf Tante." Shinta meringis.
" Cheese cake mama enak banget lho Shin."
"Pasti dong. Tante kan jago bikin cake." Shinta mengacungkan kedua jempolnya.
"Ini cobain." Anin memberi sepotong cheese cake itu didepan Shinta.
Shinta tanpa sungkan menyendok cheese cake itu. Masuk ke dalam mulutnya. Lumer banget dan manis. Shinta merasa sedikit lega. Melelehkan segala emosinya yang tertahan. Wajahnya kembali ceria menikmati cheese cake itu.
"Jempol deh buat Tante. Hehe..."
"Duh... Makasih."
"Aku pengen belajar buat sama Tante aja deh kalau gitu. Nggak perlu les. Hehe..."
"Haha... jangan lupa nanti bawa buat suamimu ya."
"Ya Tante." Shinta tersenyum lebar.
Kehangatan seperti ini, ia merindukannya. Shinta sangat merindukan momen seperti ini. Keberuntungan masih memiliki keluarga. Apalagi ibu, Shinta ingin. Keberuntungan itu akan ia miliki bersama Joe dan anaknya kelak.
semoga
***
terima kasih sudah membaca
jangan lupa like komen tip dan vote ya
__ADS_1
nantikan terus kisah Joe dan Shinta selanjutnya
peluk cium DevaNurAna