
Selamat membaca^_^
***
Esok hari karya wisata ini berlanjut. Setelah asyik menikmati pantai, mereka ke tempat selanjutnya. Disini terkenal dengan bangunan pura - pura yang menjulang. Sungguh indah. Selain kebudayaan yang ditonjolkan, kearifan lokal juga kaya akan pesonanya. Apalagi makanan khas di pulau ini.
Anin sudah beberapa kali meminta foto dengan penduduk lokal dengan baju tradisional mereka. Sangat cantik sekali.
Anin juga heboh melihat tarian khas pulau ini. Beberapa kali para wisatawan yang ikut hadir pun berdecak kagum. Pantas disini sangat ramai dengan wisatawan lokal dan mancanegara.
"Shin, kemarin kamu lari - larian dipantai kenapa sih? Lihat hantu pulau ini ya?" tanya Anin sambil menikmati ayam bumbu miliknya.
"Lebih menyeramkan daripada hantu tau Nin." Shinta bergidik.
"Gila! Apaan? Dedemit?" Anin memberondong.
"Hush Anin toak! Kecilkan suaramu!" kata Mitha menimpali.
"Mas Jonathan." lirih shinta.
"Apa? Tuh manusia datang kesini? Posesif sekali sih!"
"Aninnnn! Bisa diam nggak kalau lagi makan?" Sarah ikut kesal.
"Iya iya maaf. Uhg kalian ini, cerewet sekali sih!" Anin manyun.
"Siapa yang cerewet? Kamu tuh toaknya." Mitha cekikikan.
"Ngeledek kamu ya Mitha. Aku nggak sekeras toak kali kalo ngomong."
Perbincangan mereka terhenti kala pembina karya wisata itu berdiri dan menginstruksikan kegiatan selanjutnya.
Mereka akhirnya terdiam menikmati makanan. Juga mendengarkan instruksi dari guru pembina. Setelah makan ini mereka diberi kebebasan untuk jalan - jalan disekitar pura.
***
Malam hari. Joe sudah bersiap menunggu Shinta didepan kamar hotelnya. Tak terlihat batang hidung Andi didekatnya.
__ADS_1
Shinta datang kekamar bersama teman - teman mereka. Anin tak terkejut. Tapi Sarah dan Mitha yang shock bukan main.
Seorang laki - laki dengan gagah bersandar di depan pintu. Keren! Begitu pandangan mereka.
Shinta berdecih. Ingin menghindar tapi Joe sudah mendekat.
"Ikut aku," katanya. Tangannya menarik lengan Shinta untuk menjajari langkah kakinya yang besar.
"Kemana Mas?" tanya Shinta.
" Mau dibawa kemana Shinta?" tanya Mitha dan Sarah. Saling memandang tak tau jawabannya.
Mereka masuk lift. Menuju lantai teratas. Joe hanya diam mendengar pertanyaan Shinta yang itu - itu saja.
Pintu lift terbuka. Joe menggandeng tangan Shinta kuat masuk ke dalam kamar.
"Mas, kenapa kau bawa aku kemari?" Shinta berdiri kaku. Suasana di kamar hotel yang baru ia masuki ini terasa sangat beda dengan yang ia tempati dibawah. Lebih mewah. Jelas ini kamar VVIP.
"Temani aku makan." kata Joe.
"Kau pikir aku suka berada didekatnya?"
"Kalau tak suka kenapa dia bekerja dengaanmu mas?"
"Duduk! Aku benci mengulangi kata - kataku."
Shinta akhirnya duduk tepat didepan Joe. Shinta tak mau kalau dia duduk disamping Joe ia akan melakukan kebodohan lagi.
"Kau tak makan?" tanya Joe.
"Aku sudah kenyang Mas."
"Benarkah?"
Shinta mengangguk sebenarnya hatinya sudah tak karuan. Berdua dikamar hotel bersama Joe membuatnya merinding.
Kalau Joe khilaf bagaimana?
__ADS_1
Joe makan dengan lahap. Tak lupa ia juga minum susu hangatnya. Dia puas menikmati makanannya.
"Hari ini apa yang kau lakukan?" tanya Joe setelah menyelesaikan makanannya.
"Main di Pura Mas."
"Kalau besok?"
"Paling beli oleh - oleh di pusat oleh - oleh khas pulau ini."
"Terus?"
"Terus apa? Ya pulanglah!" ketus Shinta.
"Sudah berani membentakku ya? Aku bahkan tak berteriak."
"Aku pamit kembali ke kamarku ya Mas."
"Tunggu dulu." Joe mengambil sebuah paperbag di sofa itu. Memberikan pada Shinta. Shinta menerimanya, agar urusan dikamar Joe cepat selesai.
"Terima kasih Mas."
"Iya. Pergi sana!"
Idih! Aku juga udah nggak tahan kali disini. Shinta
Sejurus kemudian Shinta sudah keluar dari kamar Joe dan turun ke kamar hotelnya sendiri.
***
Terima kasih dah baca ya ^_^
Aku tunggu like komen tip dan vote
Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya ya
Peluk cium DevaNurAna^_^
__ADS_1